Calon Ayah Tiri

Calon Ayah Tiri
Maafkan Aku


__ADS_3

"I.. Iya... " jawab Daisy pelan, mengikuti Tio dari belakang dan mengaitkan rantai di leher Tio.


Daisy dengan cepat menarik rantai itu. Tio yang tidak siap, jatuh ke belakang mengikuti arah tubuh Daisy. Dengan cepat mengunci tubuh Tio dengan kakinya.


"Maafkan aku Tio. Berhenti melawan." ucap Daisy tak ingin lebih jauh melukai Tio. Dia hanya berniat membuat Tio pingsan. Dia tau, apa yang dia lakukan saat ini adalah hal yang kejam. Tapi, dia tak mau selamanya di tempat itu,. Memikirkan anak-anaknya dan juga suaminya. Apalagi mengingat kondisi terakhir dia meninggalkan Daryn.


Tio mulai lemas, dengan cepat Daisy melonggarkan rantai itu, dan melilitkannya pada kaki dan tangan Tio, dia menyisakan untuk dia bisa berjalan ke ruangan luar kamar. Dengan cepat dia berusaha mencari kunci disekitar tubuh Tio. Dia mencari di kantong dan bajunya. Tapi dia tak menemukannya.


Dan Daisy langsung berjalan keluar. Berusaha mencari dimana kira-kira Tio menyembunyikan kunci rantai kakinya.


Kakinya sudah terasa perih dan merah. membuat dia berjalan terseok. Dia melihat ke seluruh bagian rumah itu, dia mencari di segala tempat yang bisa dia jangkau.


Sejak awal, Tio memang membuat Daisy tak bisa menggapai dapur. Dia melihat kamar sebelah, sudah lengkap kamar tidur untuk anak. Daisy menggeleng dan berjalan mundur.


"Aku harus cepat, sebelum dia sadar." batin Daisy mencari dengan cemas.


Tak berselang lama, dia merasakan rantai dikakinya bergerak, dia dengan cepat kembali melihat ke dalam kamar. Dan Tio, baru sadar dengan keadaan lemas.


"Daisy..." panggil Tio pelan.


"Tio, aku mohon jangan sadar dulu." ucapnya pelan. Kemudian Daisy mengambil ponsel Tio yang di atas meja makan yang dengan susah payah dia ambil, karena rantai sudah dia gunakan sebagian untuk mengikat Tio.


Dengan cepat Daisy menghubungi nomor Daryn.


"Dada....!!!!! "


"Daisy, kamu di mana?"


"Aku gak tau. Aku dimana."


"Aku sekarang ada di sekitar kamu. Sssssttt,, jangan menangis. Kamu harus kuat." ucap Daryn menenangkan Daisy, padahal ia sendiri merasa sangat was-was. Sekarang matanya berkaca-kaca, tapi dia menahannya.


"Apa saja yang bisa kamu lihat dari sekitarmu?" tanya Daryn.

__ADS_1


"Taman bermain." jawab Daisy.


"Sial, semua bangunan apartemen itu menghadap ke taman bermain." batin Daryn.


"Arena apa yang pertama kamu lihat jika kamu ke taman itu."


Daisy berusaha mengingat, apa yang dia lihat melalui kaca kamar tadi.


"Pasir. Pasir bermain. Dada.... Aku merindukan Dean dan juga Naza." ucap Daisy tiba-tiba membuat Daryn semakin gugup.


"aaaakkkhhhh" Tio menarik rantai dengan tubuhnya membuat Daisy terjatuh dan merintih.


"Kenapa? Kenapa? " teriak Tio dari dalam kamar, masih belum terlepas seutuhnya.


"Daisy!!!!! " teriak Daryn dari telepon.


"Dada... " jawab Daisy pelan.


"Kita semua sudah ada di sekitar apartemen. Kamu tenang." ucap Daryn.


"aku akan menunggumu." bisik Daisy masih membiarkan teleponnya tersambung.


Daisy berjalan ke arah pintu kamar. Kaki Daisy sudah berdarah akibat tarikan Tio tadi.


Daisy melihat Tio dan menangis.


"Kenapa kita bisa jadi seperti ini? " tanya Daisy.


"Aku harap, ini semua hanya mimpi. Aku harap kamu bukan Tio yang aku kenal." Daisy lalu duduk di samping Tio yang masih terlilit rantai.


"Kamu yang membuat kita seperti ini. Kamu menyakiti hatiku berkali-kali. Aku memang menyukai kamu yang setia pada suamimu. Tapi, 3 tahun, tidak cukupkah waktu itu untu bisa mencintai aku?" tanya Tio memelas.


"aku mencintaimu, aku menyayangimu. Tapi tidak bisa lebih. Seperti keluarga yang selalu ada disisiku.Aku akui, ada masanya aku merasa seperti itu, tapi, aku terlalu mencintai Tuan Daryn.Apalagi setelah mengetahui kalau kamu adalah anak Tuan Abrar." ucap Daisy.

__ADS_1


"Hentikan omong kosong mu Daisy. Jika kamu benar mencintainya, kamu harusnya tidak lari darinya. Harusnya kamu tetap disisinya.Maka kamu tidak perlu bertemu denganku, dan membuat aku menderita seperti ini." teriak Tio menggerakkan tubuhnya dan kembali menarik rangai yang berada di tangannya membuat Daisy merintih.


"Aku, tidak tau cara mencintai dengan benar. Tapi sebenarnya tidak ada yang benar-benar tahu bagaimana cinta itu bekerja." ucap Daisy.


"Tapi, aku mencintaimu. Hatiku bersedih melihatmu seperti ini. Hatiku terluka. Aku benar mencintaimu." Daisy mengelus kepala Tio air matanya kembali mengalir.


"Tapi, hatiku hanya satu. Dan sudah kuberikan seutuhnya saat mencintai Tuan Daryn. Tapi, cinta hadir dengan berbagai macam bentuk, Tio."


"Jangan mengajariku tentang cinta, jika kamu tidak tahu rasanya sakit mencintai wanita yang tidak boleh dan dan tidak berhak untuk kamu cintai. Tapi, aku tetap ingin memilikimu."


Tio merasa tubuhnya mula sakit, karena rantai-rantai itu membuat posisinya menjadi kesulitan.


Daisy yang merasa tak tega, membuka rantai di tubuh Tio perlahan.


"Kita masih bisa bersama sebagai keluarga. Seperti dulu." ucap Daisy menangis dan memeluk Tio.


Tio melepas pelukan Daisy dari tubuhnya. Dan berjalan ke lemari di dapur dan mengambil sebuah kunci.


"Kamu benar. Kita bisa hidup sebagai keluarga lagi." Tio tersenyum pada Daisy dan menunduk melepaskan kunci di kaki Daisy yang berdarah.


"Aku juga sudah merasa lelah dan muak dengan semua ini." Dia lalu mengambil obat dan membalut luka di kaki Daisy. Dan setelah itu langsung mengantar Daisy turun.


"Ayo kita pergi dari sini." Tio lalu menuntun Daisy berjalan didepannya.


Daisy melihat Daryn dan tersenyum, polisi dan pengawal sudah berjaga di sekitar tempat itu.


Tio menghentikan langkah Daisy yang ingin dengan cepat kembali ke pelukan Daryn.


"Pada akhirnya, kamu akan meninggalkanku juga. Seperti saat ini, mata dan hatimu hanya tertuju pada satu orang saja." Bisik Tio, dan benar saja, Daisy hanya terus melangkah maju dengan pincang, begitu juga dengan Daryn mendekati Daisy.


"Jika kamu, tidak ingin menjadi milikku. Aku Akan membuat siapapun tidak bisa memilikimu." Tio menodongkan senjata ke arah Daisy.


Wajah Daryn yang tersenyum, berubah jadi kaget dan terkejut. Meski kepalanya berdenyut keras dia berlari mempercepat langkahnya ke arah Daisy.

__ADS_1


Duar... Duar......


...****************...


__ADS_2