
Keesokan paginya, Naza berteriak dan menangis setelah memeriksa kamar Daisy, seluruh pakaiannya sudah dia bereskan dan dia sudah tidak ada di rumah itu lagi.
"Papaaaa.... Tante Daisy sudah pergi..."
Naza menangis ke kamar Papanya dan menangis.
Daryn yang masih tertidur bangun dan terkejut segera memeriksa kamar Daisy.
Dan Daisy benar-benar sudah tidak ada di rumah itu.
"Apa maksudnya Daisy sudah pergi?" tanya Dewi yang juga kaget keluar dari kamarnya bersama Liam.
"Aku yang membiarkannya pergi. Tapi, aku tidak tau dia akan pergi secepat itu." Ucap Daryn pelan dan menyesal membiarkan Daisy pergi.
Naza terus menangis, dan Dewi berusaha menenangkannya kembali ke kamarnya.
Setelah lelah menangis dan dengan segala kekuatan Dewi membujuknya, akhirnya Naza kembali tertidur.
Dewi memeriksa handphonenya akan menelpon Daisy, tapi dia melihat pesan yang dikirimkan Daisy padanya.
"Nona Dewi, terimakasih sudah menjadi tempat curhat terbaik. Saya merasa seperti punya sahabat, sekaligus kakak. Saya pergi lebih cepat, karena semuanya terlalu rumit bagi saya. Saya sangat menyukai Tuan Daryn, tapi saya tak ingin melakukan apapun tentang perasaan saya. Setiap hari melihatnya, mendatangi Naza dengan penuh kasih sayang, membuat saya berharap, kita bertiga bisa hidup seperti keluarga yang saya impikan. Tapi, saya tau Tuan Daryn, bukan lelaki yang bisa saya pilih, dia masih menunggu kekasih dan cinta pertamanya. Dan meski tidak tau, saya yakin Naza akan senang bersama mamanya lagi. Saya harap kita masih bisa bertemu lagi. Titip salam untuk Tuan Liam. Semoga selalu tabah menemani Tuan Daryn."
"Dia pergi, benar-benar pergi." Dewi pun pergi menemui Daryn.
"Apa yang kamu ucapkan ke gadis itu, sampai dia langsung pergi. Dan sebenarnya, apa yang terjadi antara kalian berdua?" tanya Dewi pada Daryn yang berdiri menatap jendela keluar kamarnya.
"Tidak ada, tidak ada yang terjadi. Seorang babysitter mengundurkan diri dan aku mengizinkannya, kenapa kamu begitu heboh?" jawab Daryn.
"Heboh kamu bilang? Lihat Naza. Apa kamu gak mikir bagaimana keadaannya. Dulu waktu dia ditinggal Alea, sampai Daisy datang, dia baru berhenti mencari Alea, sekarang Daisy pergi, siapa yang akan menenangkannya?"
Daryn berbalik dan melangkah mendekati Dewi.
"Tolong, urus Naza untuk beberapa saat. Aku akan segera mencarikan pengasuh lain untuknya." Daryn lalu menepuk lengan Dewi.
Sementara itu, Liam menunggu istrinya di luar kamar.
"Bagaimana ini Yang? Kamu tau, bagaimana sedihnya Naza setelah kepergian Alea, dan sekarang Daisy." Dewi lalu memeluk suaminya.
__ADS_1
Liam memeluk Dewi dan mengusap rambut dan menepuk punggungnya pelan beberapa kali.
"Sekarang, kita temani Naza, supaya dia tidak merasa kesepian." Liam menatap istrinya dan. Mencium keningnya.
Liam dan Dewi selalu siap menemani Daryn dan Naza di setiap keadaan. Meski tidak tau, bagaimana Daryn akan menanggapi kepergian Daisy, tapi mereka akan selalu di sisi Daryn.
Seperti biasa, Daryn akan pergi kerja, tapi Naza tak ingin ke sekolahnya. Semua orang berusaha membujuknya.
"Naza, papa pergi dulu yah?" Daryn mencium kening putrinya dan berangkat kerja.
"Hanya beberapa hari, Naza akan baik-baik saja. Daisy hanya seorang babysitter." batin Daryn di atas mobil.
"Apa Tuan baik-baik saja?" Liam melihat sahabatnya dengan khawatir.
"Aku baik-baik saja. Aku hanya mengkhawatirkan Naza. Aku takut dia sakit, seperti saat Alea pergi."
"Doakan saja, semoga kali ini Naza sudah bisa lebih menerima."
"Iya, aku harap begitu." Daryn kembali memeriksa dokumennya.
Sepanjang hari, Daryn melihat dokumen di hadapannya. Bahkan ketika Liam membawakan makanannya dia tidak menyentuhnya sama sekali.
Daryn kemudian melihat keluar jendela kerjanya. Ternyata hari sudah gelap. Tanpa sadar, dia menyibukkan diri dengan pekerjaannya dan tidak menyadari keadaan disekitarnya. Liam membantu Daryn membereskan mejanya.
Setelah itu, "Hari ini, Tuan sama sekali tidak makan." ucap Liam menyodorkan makanan di hadapan Daryn.
"Aku sedang tidak bernafsu." Daryn mendorong makanan itu.
"Makanlah sedikit, ingat Naza. Dan hari ini kamu tidak pulang melihatnya. Seperti yang kamu bilang ke Dewi, Daisy hanya seorang babysitter yang mengundurkan diri. Tapi, kenapa kamu sendiri sampai tidak nafsu makan, dan tidak pulang melihat keadaan Naza?" Liam mulai marah karena sahabatnya tidak makan. Dia tau, Daryn tidak bisa makan karena banyak yang dipikirkan.
Akhirnya, karena Liam tak berhenti mengomel, Daryn menyuap beberapa sendok.
Daryn sendiri tidak tau apa yang harus dia lakukan. Dia juga sadar menyukai Daisy. Bukan hanya karena dia dekat dengan Naza, tapi sejak pertemuan awalnya saja dia sendiri tidak tau alasan pasti, kenapa dia merasa tertarik pada Daisy.
Semakin sering melihat Daisy, semakin dalam juga perasaannya tumbuh. Tapi, dia juga sudah berjanji pada dirinya sendiri, bahwa dia akan menunggu Alea kembali siap menjadi ibu untuk Naza. Karena dia juga tau, perasaan cinta tidak cukup untuk membuat seseorang tetap tinggal.
Setelah tiba di rumah, Dewi sudah menunggu Daryn dan Liam.
__ADS_1
"Dia gak mau makan sema sekali, dan badannya demam. Aku sudah panggil dokter, tapi dia terus cari Daisy." ucap Dewi khawatir.
Daryn masuk ke kamar putrinya, dia melihat Naza lemas dan demam.
"Naza?? Makan yah? " panggil Daryn dengan lembut.
Naza membuka matanya, melihat papanya.
"Tante Daisy, Naza maunya tante Daisy." Naza kembali menangis pelan.
"Kamu makan dulu, kamu tau kan, Tante Daisy suka makan. Dan gak suka lihat Naza tidak mau makan?" hasut Daryn.
Tapi, gadis kecil itu, sama sekali tidak mau membuka mulutnya. Daryn menyuruh Dewi memanggil dokter dan memintanya agar memberikan Naza obat untuk menambah asupan untuk tubuhnya.
Daryn keluar dari kamar, dan Dewi mengikutinya.
"Apa yang akan kamu lakuin?" tanya Dewi menarik lengan Daryn.
"Sayang, Daryn juga perlu istirahat" Liam menarik tangan istrinya.
"Lebih baik, kamu istirahat dulu. Aku dan Dewi akan menjaga Naza." ucap Liam.
"Terima kasih." Daryn lalu kembali ke kamarnya.
"Sayang, kamu tau Daryn menyukai Daisy, harusnya kamu juga ngerti bagaimana perasaannya. Dia juga sedih Daisy pergi." Liam lalu mengajak Dewi duduk di ruang keluarga.
"Kamu tau, apa yang bikin aku kesal. Alasan dia gak mau bertindak sesuai perasaannya. Hanya karena Alea, wanita yang sudah meninggalkan dia dan anaknya hanya karena merasa malu. Kamu pikir, kapan dia akan siap untuk kembali jadi ibu buat Naza?"ucap Dewi kesal.
"Sayang, kamu tau, Alea adalah gadis pertama. Saat dia melewati masa tersulit nya, Alea ada buat dia. Waktu kakeknya meninggal, waktu papanya meninggal. Dan juga saat Dara meninggal. Alea menemani dia, dan semua perasaan itu, tidak begitu saja bisa hilang. Berikan dia waktu untuk menata perasaannya sendiri. Dan juga Daisy, dia pergi karena dia juga tau. Kalau dia bukan pilihan untuk Daryn, dan Daryn juga bukan pilihan untuknya."
Mengerti yang diucapkan Liam, akhirnya Dewi hanya bisa pasrah. Liam benar, yang menjalaninya adalah mereka berdua. Dan mereka berdua memutuskan tidak melakukan apa-apa tentang hal itu.
Tiga hari berlalu, kondisi Naza sudah mulai membaik. Tapi, dia masih tidak ingin ke sekolah. Dia masih tidak semangat melakukan apapun.
Ketika Daryn sudah pergi kerja, Dewi masuk ke kamar Naza dan tidak melihat Naza di kamarnya.
"Ryn, Naza gak ada. Dia hilang."
__ADS_1
...****************...