
"Maaf, Daisy ada polisi mencari kamu." ucap Inah yang mengetuk pintu kamarnya.
Daisy menghapus air matanya, bersama Daryn langsung keluar menemui polisi di ruang tamu.
"maaf, mengganggu waktu anda." ucap kedua polisi itu bersalaman dengan Daryn dan Daisy.
"saya ke sini hanya ingin mengkonfirmasi beberapa hal. Anda mengenal Tio selama 3 tahun. Apa anda sama sekali tidak menyadari keanehan selama mengenalnya. Dari penyelidikan kami, bahkan kalian selalu bersama seharian dan menghabiskan waktu bersama." tanya polisi itu.
Daisy menggeleng bingung, dia melihat Tio sebagai laki-laki yang baik, teman yang baik. Meskipun sering beberapa kali pertengkarannya dengan Rika. Tapi dia menganggap itu hal yang wajar, karena tau watak Rika yang memang sering pulang tengah malam.
Daisy pun, menceritakan tak ada keanehan yang bermakna bagi Daisy. Daisy menjadi sedih mengingat bagaimana nasib Tio selanjutnya.
Ketika polisi memberitahukan berapa banyak wanita yang menjadi korban Tio, Daisy sangat terkejut. Dia pikir, tidak ada lagi yang akan membuat dirinya terkejut, setelah penculikannya. Tapi, lagi-lagi hal ini lebih mengejutkannya.
Ketika polisi itu akan pamit, Daisy agak berlari mengejar mereka ke pintu.
"bagaimana, maksud saya. Apa yang akan terjadi pada Tio?" tanya Daisy.
__ADS_1
"kami masih belum tau pasti. Itu adalah tugas jaksa. Tapi, dari yang saya dengar, beberapa keluarga korban menuntut hukuman mati." ucap polisi itu yang membuat Daisy membelalakkan matanya.
Dia berjalan mundur beberapa langkah karena terkejut, dia sampai tak sadar Daryn sejak tadi mengikutinya dan dengan sigap menangkap tubuhnya.
Daisy menatap kosong ke arah polisi itu, sampai sidah tak terlihat bayangan mobik mereka lagi.
"apa kamu ingin menjenguk Tio?" tanya Daryn berusaha mengerti perasaan Daisy.
Daisy menggeleng dengan cepat.
"Saya nggak tahu, kenapa saya masih khawatir pada nasib Tio, padahal dia sudah begitu jahat." ucap Daisy berbalik, menangis dan memeluk Daryn.
Dia berbohong, jika mengatakan dia tidak cemburu. Tio, adalah laki-laki yang tidak perlu dia cemburui, tapi dia juga tidak bisa berhenti berfikir , sebagai teman laki-laki dan wanita bagaimana hubungan mereka menjadi hanya sekedar teman, padahal mereka menghabiskan hari-hari bersama selama 3 tahun.
"Daryn, sekarang bukan waktu yang tepat untuk merasa cemburu." batin Daryn menghardik dirinya sendiri.
"jika kamu ingin menjenguknya, kita bisa pergi sama-sama. Agar kamu bisa lebih tenang." ucap Daryn menatap istrinya itu.
__ADS_1
Daisy tidak berpikir, menemui Tio adalah hal yang benar. Dia tak ingin perduli lagi. Dia tak mau lagi berhubungan dengan orang yang sudah mencelakai suaminya, membuat Neneknya meninggal, dan membuat orang-orang yang dia cintai menderita.
Tapi, hati terlalu dalam untuk dimengerti. Bisa membenci di saat mencintai, dan mencintai di saat membenci.
Tak beda dengan Daisy, yang sangat membenci Tio, tapi juga masih mengasihi laki-laki yang menjadi sahabatnya itu
.Dan Tidak bisa berbohong. Daisy masih terus memikirkan Tio.
"apa kamu yakin?" Daryn hanya ingin memastikan lagi.
"kadang, kami harus menghadapi sesuatu untuk menuntaskan segala yang menggantung dihatimu." ucap Daryn menyentuh kedua pipi Daisy.
"tapi, apa Dada gak marah. Kalau saya bertemu dengan Tio lagi?" tanya Daisy ragu.
Daryn menghela kasar. "hemmm... Kalau harus jujur, aku tidak mau kamu bertemu dengan laki-laki itu lagi. Tapi, aku harus mengerti. Kamu mungkin butuh penyelesaian yang baik dengan dia." ucap Daryn berusaha bijak dengan hatinya yang tengah cemburu.
"kalau begitu, saya gak akan menemui Tio." ucap Daisy lalu memeluk suaminya.
__ADS_1
...****************...