Calon Ayah Tiri

Calon Ayah Tiri
Keputusan


__ADS_3

Daisy memikirkan apa yang akan dia putuskan. Jika menikahi Daryn, dia aka bisa bersama Naza selamanya dan juga Daryn, hal yang sering dia khayalkan, berlibur bersama Naza dan Daryn seperti keluarga lainnya. Membayangkan hal itu membuat Daisy tersenyum sendiri.


Tapi, apakah bisa begitu, Daryn yang sibuk, dan apakah bisa Daryn akan terus menyukainya dan kasih sayangnya tidak akan berubah?Bagaimana jika tiba-tiba masa lalunya kembali dan merusak semuanya?


Daisy menggelengkan kepalanya. "Untuk saat ini, aku akan menjalankan untuk saat ini. Aku akan menghadapi masa depanku dengan sepenuh kekuatanku. Tapi, bukankah harusnya aku menanyakan Naza? Bagaimana kalau dia tidak mau menerima aku sebagai ibu sambungnya?"


Sementara itu, Daryn yang baru berangkat kerja duduk di mobil dengan gugup.


"Aku melakukannya dengan baik, tapi bagaimana jika dia menolak ku? Tidak tidak, aku tau dia juga menyukaiku. Dia pasti akan menerimaku." Batin Daryn khawatir.


"Ada apa Tuan?" Liam memperhatikan Daryn yang duduk dibelakang dengan cemas.


"Aku mengajak Daisy untuk menikah." Liam terkejut, dan segera mencari tempat untuk mengerem mobilnya.


Setelah mobil berhenti, Liam melihat ke arah Daryn dengan rasa tak percaya.


"Kamu apa? Melamarnya? Kapan?" tanya Liam tak percaya, dan menjadi mode sahabat.


"Tadi malam, di kamarnya. Aku memintanya untuk tidak pergi dari rumah dan aku mengajaknya untuk menikah."


"Apa kamu yakin dengan keputusanmu? Aku dan Dewi juga sudah tau kalau Daisy memang menyukaimu, dan kamu juga menyukainya. Tapi, jika masalah menikah. Aku tidak begitu yakin." Liam menenangkan dirinya dan kembali menyetir sambil menggeleng, tak habis pikir yang dilakukan sahabatnya itu.


"Dan bagaimana bisa kamu melamar gadis di tempat tidurnya? Saat malam, saat dia belum sepenuhnya sembuh, dan saat dia sedang tidak dalam kondisi mempercantik dirinya? " lanjut Liam.


"cantik? Dia sangat cantik tadi malam, dan wajahnya tetap terlihat manis." Daryn tersenyum membayangkan wajah pucat Daisy yang polos.


Liam menepuk dahinya mengetahui apa yang dilakukan oleh Daryn. Dan menghela nafas panjang dengan sengaja, agar di dengar oleh Daryn.


"Kenapa memangnya?" Tanya Daryn bingung.


"Bagaimana dulu kamu melamar Alea?"


"Hah? Alea? Dia yang ngajak aku nikah. Dia bahkan menyiapkan cincin untuk kita. Meskipun setelah menikah aku membelikan kita cincin couple yang baru."


"Perempuan saja melamar mu begitu, tapi bagaimana bisa kamu melamar Daisy dengan begitu tanpa persiapan."


Daryn mengerti maksud ucapan Liam, Daryn memang cerdas tapi juga kadang-kadang agak lamban.

__ADS_1


"Tapi, apa kamu sudah tanya pendapat Naza tentang hal ini?"


Benar, Daisy juga belum menanyakan pendapat Naza tentang hal ini. Karena yang paling utama adalah Naza. Karena Naza juga ada di dalam hubungan mereka.


"Kamu benar, aku akan menanyakannya pada Naza nanti." ucap Daryn.


Setelah tiba di kantor pun, dia sangat susah berkonsentrasi. Setiap jam, dia selalu mengirim pesan pada Daisy menanyakan kabarnya, mengirim pesan pada Dewi untuk memeriksa Daisy dan mengirim pesan pada Naza untuk menemani Daisy. Dan mereka bertiga memutuskan untuk mengabaikan pesan Daryn. Dan lebih parahnya Daryn malah kembali ke rumah langsung memeriksa keadaan Daisy.


"Hp ku bisa meledak gara-gara kamu gak berhenti kirim pesan, Naza terganggu sedang main game, dan Daisy tidak bisa istirahat dengan nyaman. Aku tau kamu khawatir. " Dewi menghela nafas kesal.


"Sorry, sorry. Aku cuma khawatir. Naza kita ke kamarmu dulu Yuk." ajak Daryn.


"Kenapa Pa?" tanya Naza mendekat pada Daryn


"Ada yang papa mau kasi tau."


Mendengar itu, Daisy, Dewi dan juga Liam faham, apa yang ingin Daryn bicarakan.


"Naza.. Bagaimana kalau tante Daisy terus tinggal dan hidup sama kita sampai Papa tua dan sampai lama sekali?"


Naza langsung senyum sumringah dan mengangguk kencang mendengar pertanyaan Daryn.


"Mama? Jadi Naza punya mama lagi?" tanyanya senang.


"Iya, apa Naza mau? "


"Naza mau pah, Naza mau..!!! " Naza sangat senang dan melompat di atas tempat tidurnya.


"Tapi, untuk sementara, kita akan buat ini jadi rahasia kita aja. Naza belum boleh kasi tau siapapun. Okey?"


"Kenapa pa?" tanya Naza sedih.


"Tante Daisy, masih butuh waktu. Karena tante Daisy harus kuliah dulu dan melakukan hal lainnya jadi belum boleh di panggil mama atau ibu."


Naza mengangguk sedih.


"Kapan Naza bisa panggil Tante Daisy, mama?" Naza berbisik pada Daryn.

__ADS_1


"Kapan tante Daisy siap. Nanti Naza boleh tanya sama tante Daisy. Okay?"


Setelah keluar dari kamar Naza, semua orang penasaran dengan reaksi Naza.


Naza langsung berlari ke kamar Daisy dan berbisik pada Daisy.


"Kata papa, tante Daisy bakalan jadi mama nya Naza yah?" Daisy tertawa geli dan mengangguk pelan menjawab pertanyaan Naza.


"ssshhhh... Ini masih jadi rahasia kita yah" Naza mengangguk senang.


Hari itu, Naza menjadi lebih ceria dari biasanya. Semua orang tau, ada hal yang membuatnya sangat bahagia.


Daryn memutuskan di hari Daisy memutuskan jawabannya, dia akan mengajak Daisy dan Naza makan malam bersama. Dan Daisy sudah kembali sehat, setelah istirahat selama tiga hari.


"Apapun jawaban yang kamu berikan nanti, aku harap ini tetap akan jadi makan malam terindah buat kita." Daryn menggapai tangan Daisy membantunya keluar dari mobil.


Mereka tiba di restaurant yang di sewa Daryn. Hanya ada Daryn, Daisy, Naza, chef dan 2 orang pelayan yang melayani mereka bertiga. Dewi dan Liam tentu saja ada melihat mereka menjadi pendukung.


Jujurnya Daisy merasa tidak nyaman diperlakukan spesial , meskipun begitu dia berusaha menikmatinya karena Daryn sudah menyiapkan khusus untuknya.


Tangan Daryn sudah berkeringat sejak tadi, dia sangat bingung ingin mengucapkan sesuatu.


"Tuan Daryn, terimakasih sudah menyiapkan ini semua." Ucap Daisy memecah kecanggungan.


"iya, sama-sama. Aku cuma ingin momen inu terasa spesial, bahkan jika kamu menolak ku aku ingin ini kadi makan malam spesial untuk kita."


Daisy tersenyum sambil menggigit bibirnya.


"Jujurnya, aku juga ingin minta maaf, atas apa yang dilakukan mbak Nadia. Aku gak sangka kalau dia akan menampar kamu."Daryn lalu meraih tangan Daisy.


"Meski kaget dan sakit hati, saya harap Nyonya Nadia melakukannya hanya karena khawatir." Daisy tersenyum dan mengeratkan genggamannya di tangan Daryn menyuruhnya untuk berhenti khawatir.


"Aku gak tau, bagaimana kehidupan kita kedepannya. Tapi aku berjanji tidak akan membiarkan siapapun menyakitimu lagi. Aku akan menjaga kamu dan Naza selama hidupku. Dan untuk menjagamu, aku butuh kamu di sisiku. Daisy, maukah kamu menikah denganku? " Darin melepaskan tangan Daisy dan mengambil cincin di sakunya.


Daisy tersenyum dan mengangguk. Dan menyodorkan jarinya. Setelah cincin dipasangkan di jari Daisy, Naza, Liam, Dewi dan 2 pelayan tadi mengucapkan selamat dan mengeluarkan kue.


"selamat Tuan Daryn dan Nyonya Daisy." ucap pelayan dan. Memberi Tepuk tangan.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2