Calon Ayah Tiri

Calon Ayah Tiri
Luka yang Dalam


__ADS_3

Ketika Liam tiba di sisi Daisy sudah membuka pintu, dan mereka melihat adegan yang tidak seharusnya terjadi.


"Aku sangat merindukanmu." ucap Alea setelah mencium bibir Daryn.


Dan Daryn sama sekali tak bereaksi.


Tangan Daisy bergetar memegang gagang pintu, wajahnya memanas. Air matanya dia tahan sebisa mungkin.


Dia berbalik menghadap Naza dan tersenyum, meski air matanya mengalir.


"Sayang, kamu main sama Nando dulu yah."


Liam dengan reflek mengajak Naza ke tempat Nando.


Daisy lalu masuk ke ruang kerja Daryn.


"Siapa?" tanya Alea melihat Daisy dengan heran. Daisy melihat ke arah Daryn, tak melepas pandangannya dari suaminya itu, menunggu Daryn menjawab untuknya.


"Babysitter, dia yang merawat Naza."Jawab Daryn singkat. Daisy menggertakan giginya mendengar jawaban Daryn. Nafasnya tercekat.


"Kenapa kamu nangis?" tanya Alea melihat Daisy yang mengeluarkan air mata.


Daisy benar-benar tak ingin menangis di depan Alea, dia sangat berusaha menahan tangisnya. Tapi, hatinya yang hancur berkeping-keping membuat air matanya keluar tak tertahankan.


"Kamu bisa keluar dulu, aku ingin bicara dengan babysitter masalah Naza." ucap Daryn melihat Alea.


"Tapii..." belum selesai bicara, Daryn memotong ucapannya.


"Aku bilang, kamu keluar." Ucap Daryn dengan nada marah.


Akhirnya Alea keluar dengan kesal di usir hanya gara-gara seorang babysitter.


Setelah Alea keluar, Daisy tak tau apa yang terjadi, apa yang harus dia ucapkan. Pikirannya seketika menjadi kosong.


Daisy berjalan mendekat ke meja kerja Daryn, dekat tempat Daryn berdiri.


"Ada apa, kamu tumben masuk ke ruang kerjaku di rumah utama?" Entah dalam beberapa menit ini sudah berapa kali rasanya hati Daisy di robek berkali-kali.


Dia menarik nafasnya dalam-dalam dan bergetar. Tak bisa berkata. Berkali-kali dia coba merangkai kata dalam kepalanya.


"Babysitter?? Kamu perkenalkan saya pada mantan istrimu sebagai babysitter??" Daisy bertanya dengan nada tak percaya.

__ADS_1


"Aku rasa, tidak ada yang salah. Bukankah, ini keinginan mu? Pernikahan Rahasia. Aku rasa, kita bertahan cukup lama." Daryn kembali duduk dengan wajah datar.


Daisy bingung, laki-laki di hadapannya. Seperti bukan suaminya. Dia tak pernah bertemu dengan Daryn yang sedingin ini.


Daisy melangkah maju mendekat pada Daryn, sampai matanya tertuju pada foto yang tergeletak di meja kerja Daryn.


"Apakah dia memperlakukanku seperti ini karena foto-foto itu?" batin Daisy.


Daisy mengeluarkan suara helaan tak percaya.


Bagaimana bisa Daryn memperlakukannya sedingin itu, hanya karena foto-fotonya bersama Tito. Daisy melihat selembar foto yang di remas, dan dia tidak melihat isi gambarnya.


Daisy ingin menanyakan penyebabnya Daryn berubah dingin, tapi sepertinya dia tau alasannya. Dia membiarkan rasa cemburunya menguasainya dan tidak menanyakannya langsung pada Daisy.


Berbeda dengan Daisy, yang selalu menanyakan langsung pada Daryn hal yang dilihatnya. Daryn menunggu Daisy menjelaskan padanya.


"Aku mohon, tanyakan padaku. Apapun itu. Karena aku merasa tak pernah melakukan hal yang bisa membuatmu semarah ini padaku." Batin Daisy menatap Daryn dengan pandangan memohon.


Lumayan lama Daisy berdiri menunggu Daryn meminta maaf atas ciumannya bersama Alea, atau meminta penjelasan padanya. Tapi Daryn tidak berkata apa-apa.


"Baiklah, saya hanya ingin memberikan ini.Saya awalnya ingin memberikan kejutan, tapi ternyata saya yang lebih terkejut." Setelah meletakkan kotak kecil di meja kerja Daryn, Daisy langsung pergi keluar dari ruangan itu.


"Bunda" melihat Daisy, Naza memanggil Daisy dan mengejar Daisy yang berjalan keluar rumah dengan cepat.


Daisy naik ke atas mobil, dan mengendarai mobil yang terparkir di depan.


"Tuan Liam, Daisy menyetir mobil sendiri."ucap salah satu pengawal yang berjaga di depan.


"Sial, suruh seseorang mengikutinya." Liam langsung ke ruangan Daryn.


"Apa maksudmu, dia menyetir sendiri?" Daryn kaget mendengarnya dan berdiri dari kursinya. Dikarenakan Daisy baru beberapa bulan belajar menyetir mobil.


"Aku sudah suruh beberapa mobil mengikutinya. Ayo cepat kita susul." ucap. Liam, tapi Daryn tak bergerak sama sekali dan kembali merebahkan tubuhnya ke atas kursi.


"Kenapa kamu biarkan dia pergi begitu saja?Dan apa yang kamu lakukan dengan Alea, itu sudah keterlaluan. Dan itu bisa di anggap selingkuh." ucap Liam memperhatikan sahabatnya yang tidak bergeming sama sekali.


"Dia yang lebih dulu selingkuh dariku." Daryn menunjuk foto-foto yang ada di atas meja kerjanya. Dan di foto yang ia remas, kelihatan foto Daisy dan Tito akan berciuman ataukah selesai berciuman. Karena jarak wajah mereka berdua pada foto itu sangat dekat.


Daryn merasa hatinya hancur, dan runtuh melihat foto-foto itu. Dia tahan amarah dan sedihnya. Pengkhianatan adalah satu hal yang tidak bisa dia terima.


"Apakah kamu sudah menanyakannya?" tanya Liam.

__ADS_1


"Untuk apa? Untuk mengkonfirmasi bahwa dia lebih suka laki-laki muda? Dan dia sudah tak mau lagi bersamaku? Penjelasan apa yang bisa aku dapat dari menanyakan hal ini padanya?" Daryn lalu menggosok wajahnya.


"Banyak hal, karena apa yang dilihat orang akan mereka artikan sesuai keinginan mereka. Dan jika ingin tau yang sebenarnya. Kamu Harus menanyakan hal itu pada orang yang bersangkutan Bukan membuat asumsi sendiri. Bukankah kamu, laki-laki penuh dengan logika?"


"Bagaimana bisa aku berpikir dengan logika ku saat ini. Melihat foto istriku bersama laki-laki lain. Dan Ia terlihat bahagia selain bersamaku." batin Daryn.


Hal itulah yang ada dalam pikiran Daryn.


Sebelum makan siang, Nadia datang dengan foto-foto itu di tangannya bersama Nivia yang ingin bertemu dengan Daisy.


"Ini, istri yang kamu bangga-banggakan?"


Nadia melempar lembaran foto itu, ketika Daryn sedang fokus bekerja.


Daryn yang merasa terganggu mengerutkan dahinya atas kedatangan sepupunya itu. Lalu melihat foto yang dilempar.


Daryn melihat foto itu satu persatu.


Dimana Daisy dan Tito mengobrol bareng sambil menunggu Naza pulang sekolah. Tito yang membantu Daisy belanja, Daisy dan Tito berjalan-jalan dan tertawa di foto itu.


"Selama 2 tahun lebih, aku selalu mengikuti istrimu. Apa kamu yakin dia tidak sedang merencanakan sesuatu dengan pengawalnya itu?"


"Berhenti menjelekkan istriku, mbak".


Awalnya Daryn tak terpengaruh, karena dia tau istrinya adalah gadis yang ramah. Dan tak. Mungkin dia hanya akan mengabaikan Tito.


Tiba di foto-foto terakhir. Ada gambar Daisy dan Tito berpelukan dan foto ciuman tadi. Daryn meremas foto itu.


"Kamu masih gak percaya dengan mbak, setelah melihat foto itu?"


"Mama... Berhenti menjelekkan Daisy. Apa mama lihat langsung mereka melakukan sesuatu yang nggak-nggak? Om, jangan dengerin mama. Daisy, dia gak pernah menyukai cowok lain selain Om." Nivia menarik Nadia untuk pergi, setelah mendengar ribut di ruang kerja Daryn.


"Nivia benar, Daisy tidak mungkin mengkhianati ku. Tapi, apa foto-foto ini?" Batin Daryn , masih merasakan perih di hatinya.


Sampai dia membatalkan untuk makan siang bersama Daisy, Dia tak ingin menemui istrinya dalam keadaan marah. Dia akan menanyakan pada Daisy ketika dia merasa lebih tenang.


Setelah jam makan siang pun, hatinya masih terasa sakit dan marah.


"Tuan Daryn, Nona Alea datang ingin bertemu dengan anda." seorang pelayan datang, Liam dan Daryn sama-sama terkejut.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2