
Daisy dan Tito sangat asyik mengobrol di belakang sampai tak sadar kalau acara makan malam sudah selesai.
"Hai, apa yang kamu lihat." Dewi memukul pelan bahu Daryn yang melihat Tito dan Daisy sejak tadi.
Dewi adalah istri dari Liam yang mana Liam dan Dewi juga sahabat Daryn.
"Tidak ada" Daryn langsung berjalan kembali ke tempat orang-orang berkumpul.
Setelah Daryn pergi, Dewi memanggil Daisy.
"Daisy, makan malam sudah selesai."
Daisy langsung berdiri dari duduknya mendengar ucapan Dewi dan pamit pada Tito.
"Kalian ngobrolin apa sih? Sampai gak sadar acara sudah hampir selesai. Apa jangan-jangan kalian pacaran?" tanya Dewi bercanda.
"Nona Dewi, ada-ada saja. Hari ini, pertama kali ngobrol dengan Kak Tito."
"Naza nyariin kamu dari sejak selesai makan. Dan dia gak mau ngasih kejutan untuk papanya tanpa kamu. Semua orang sudah menunggu di ruang keluarga."
Ketika tiba di ruang tengah, Naza yang sejak tadi hanya duduk diam langsung berlari ke arah Daisy dan memeluknya.
"Naza ngantuk, Naza mau tidur." gadis kecil itu, mengucek matanya karena dia tidak punya teman main.
Daisy langsung membungkuk dan berbisik pada Naza.
"kue nya papa gimana?"
"oh iya... " kantuknya berkurang.
Daisy dan Naza mengambilkan kuenya, dan menyiapkan semuanya.
"Selamat ulang Tahun... Selamaat ulaang tahun Papa, selamat ulang tahun... Yeeyyyy... " Daisy dan Naza menyanyikan lagu di ikuti yang lain, dan membawa kuetart buatan mereka untuk Daryn.
Daryn tersenyum senang melihat putrinya dan Daisy.
"ini kue buatan naza dan tante." ucapnya memamerkan kuenya.
Sejak dulu, Daryn memang tak ingin merayakan ulang tahunnya dengan mewah. Dia hanya akan mengundang keluarga terdekat. Bahkan sering dia berpura-pura sibuk sehingga tak perlu mengundang keluarganya.
Setelah menerima hadiah dari Naza, dia pun beralasan untuk pamit kerja.
Mamanya Nivia yang bernama Nadia mengikutinya.
"Ada apa lagi mbak?" tanya Daryn yang melihat Nadia mengikutinya ke ruang kerjanya.
"Mbak punya kenalan."
"perjodohan lagi? Apa mbak gak capek jodohin aku?" tanya Daryn yang langsung duduk di kursi kerjanya.
"Mbak gak akan nyerah, 3 tahun , sudah cukup lama. mbak tau awalnya menentang Naza jadi keluarga kita. Tapi seperti yang kamu bilang, dia tetaplah anaknya Dara. Tapi, Alea saja menyerah jadi mamanya. Setidaknya kalau dia punya sosok ibu, dia akan lebih..."
"Aku akan mengurusnya mbak. Selama 3 tahun belakangan ini, aku mengurusnya dengan baik."potong Daryn.
__ADS_1
"Dengan baik kamu bilang? Sekarang dia terlalu bergantung dengan Desi atau apalah namanya."
"Daisy mbak. Dia itu sahabatnya Nivia."
"Mbak gak mau tau. Dan gak perduli. Tapi, kalau anakmu terlalu bergantung sama perawatnya akan susah kamu didik. Seperti Nivia sekarang."
"Aku gak pernah ingat, kakek ngajarin kita buat remehkan orang lain."
"Karena itu, kakek di tipu temannya sendiri. Kita harus menjauh dari orang-orang yang kemungkinan besar hanya ingin jadi parasit dalam hidup kita."
Nadia, yang sejak kecil adalah anak konglomerat, dahulu suka berteman dengan siapa saja. Dia tak perduli status sosial, harta dan kekuasaan. Tapi, semenjak kecil dia terlalu sering bertemu orang-orang yang membuatnya benci dengan orang-orang tak punya, terlebih jika mereka mengaku sahabat.
"Mbak, apa mbak tau. Mbak dan Daisy punya komplek yang sama. Yang satu tak suka dengan orang miskin, yang satu gak suka dengan orang kaya."
"Hah... Kamu lihat, dia bilang tak suka dengan orang kaya. Tapi dia menjaga anakmu, yang juga anak orang kaya. Munafik. Dan mbak yakin, suatu saat dia akan manfaatkan Naza."
"Cukup, mbak. Aku ingin melanjutkan pekerjaanku."
Nadia menghela nafas panjang. "Lebih baik kamu pertimbangkan lagi, kamu menikahi Alea, karena cinta. Tapi, dia ninggalin kamu. Maka sekarang kamu harus lebih fokus mencari sosok ibu, buat Naza. Karena Kamu rela melepas cintamu demi Naza."
Daryn tidak menjawab dan hanya menatap kakak sepupunya itu dalam diam.
"Oke.. Oke. Aku pergi. Selamat ulang Tahun." Nadia berjalan keluar.
Liam hanya menatap Daryn.
"Kenapa?" tanya Daryn.
"Jangan mengada-ngada, dia itu masih terlalu muda."
"Masih terlalu muda? jadi kalau dia tidak muda kamu akan menyukainya?"
"sudahlah, hentikan. Dewi salah."
"Apa kamu pernah dengar, dia salah mengartikan tatapan dan perasaan orang-orang?"
"Keluar, dan panggilkan Daisy, ada yang ingin aku bicarakan dengannya." Daryn menatap Liam dengan tajam.
Liam menatap Daryn, lalu menghela nafasnya.
"Baik, Tuan." Dia kembali ke mode sekretarisnya.
Tak lama kemudian, Daisy mengetuk pintu dan Daryn menyuruh Liam menunggu di luar.
"kemana saja kamu, ketika acara makan malam? " tanya Daryn tegas.
"Saya ada di taman belakang Tuan, saya tak ingin mengganggu Nyonya Nadia. Karena.... "
"Apa tugasmu di rumah ini? " tanya Daryn, memotong ucapan Daisy dengan nada agak tinggi.
"Menjaga dan. Menemani Naza. "
"Lantas, kenapa kamu menghilang selama perjamuan. Kenapa kamu tidak menemani Naza di meja makan. Bukankah Aku menyuruh pelayan menyiapkan kursi untukmu? Dan kamu menolaknya. Dan kamu lebih memilih mengobrol dengan pengawal daripada menemani Naza? "
__ADS_1
Daisy tergagap, tidak bisa membela diri. Satu sisi dia tau, harusnya tak meninggalkan Naza di meja makan penuh orang dewasa. Tapi Karena dia pikir semua orang itu adalah keluarganya, jadi tak masalah meninggalkannya.
Dan juga, bagaimana dia bisa makan bersama dengan pandangan dari Nadia.
"Tapi Tuan... " Daisy lebih memilih diam dan menyambung ucapannya.
"Kamu bisa keluar."
Daisy pun keluar tanpa mengucapkan apapun.
"Kenapa kamu harus marah seperti itu. Kamu tau, Mbak Nadia gak akan biarkan dia duduk bersama." batin Daryn.
"Hebat, kamu menemukan jalan untuk memarahinya." Ucap Dewi tak sengaja mendengar ucapan Daryn saat mengantarkan buah untuk Daryn dan Liam suaminya.
"Apa maksud kamu? Dan sejak kapan kamu di situ?"
"Aku dan Daisy berpapasan di pintu, ketika dia keluar. Lalu aku dan Liam masuk. Kamu gak sadar?" Dewi lalu duduk di sofa dengan santai.
"Apa yang kamu masukkan dalam kuping suamimu sampai dia bicara omong kosong?"
Dewi mengangkat bahunya.
"Aku merasa sikapmu belakangan ini berubah, Aku tahu, kamu akan selalu cari alasan pulang, untuk melihat dan mengecek putrimu. Tapi kali ini, kamu lebih memilih bekerja dari rumah. Apa kamu gak sadar? "
"Apa kamu gak percaya sama Daisy umtuk menjaga putrimu?" tanya Dewi memakan anggur di hadapannya. Dewi memang karakter yang lebih santai, dengan siapapun.
"Bukan, aku hanya ingin lebih sering melihat Naza dan melihatnya penuh tawa itu sudah lama sekali. Karena itu aku senang bekerja dari rumah."
"Sayang, kamu percaya saja kata-katanya. Lambat laun, dia akan melihat gadis yang di sukainya direbut oleh orang lain." Dewi lalu berjalan keluar.
"Apa maksud istrimu? " tanya Daryn pada Liam.
Dewi kembali membuka pintu dengan pelan.
"Aku dengar, Daisy dan Tito akan janjian besok." Dewi kembali menutup pintu dan mengirim pesan pada Liam.
"Sayang, kalau dia besok kasi tugas pada Tito secara tiba-tiba. Kamu janji kita akan liburan ke Bali." Liam tersenyum melihat pesan istrinya.
"Apa tugas Tito besok?" Tanya Daryn.
Liam pura-pura melihat jadwal petugas di handphonenya.
"Sepertinya dia tidak bertugas besok."
"Suruh dia mengawal Tuan Takeru, besok dia akan kembali ke Jepang bukan?"
"Tapi, tim pengawal untuk Tuan Takeru sudah di atur. Saya rasa tidak membutuhkan pengawal tambahan."
Daryn melihat Liam dengan kesal.
"Suruh saja, entah dia mau berdiri saja atau apapun, yang penting dia sibuk."
...****************...
__ADS_1