
Begitu tiba di kediaman Leroy, Naza masih bersembunyi dibalik kaki Daisy. Daryn berjalan mendekat dan berlutut di dekat putrinya.
"Papa gak marah, sayang. Papa khawatir." Mendengar itu, Naza berjalan perlahan ke arah papanya dan memeluknya.
Namun tiba-tiba Nadia berjalan ke arah Daisy dengan cepat lalu menampar Daisy dengan keras.
"Mbak Nadia! "
"Mamaaaa! "
Nivia dan Daryn teriak dan terkejut. Naza menangis terkejut dan memeluk papanya.
Segera Daryn membawa Naza ke kamarnya dan meminta Dewi menjaganya.
Nivia menarik Nadia agar berhenti.
"Apa yang sudah kamu lakukan ini keterlaluan. Kamu mencuci otak anak itu agar menyukaimu dan lihat sekarang dia bergantung padamu." ucap Nadia sambil melihat sinis ke arah Daisy.
Daisy yang sedang sakit, tak mengerti dan tidak bisa merespon semuanya sesuai keinginannya. Dia kaget, marah dan juga sedih. Tapi, tubuhnya sudah sangat lemah.
"Maaf, nyonya. Saya tidak melakukan apapun pada Naza. Saya hanya." Daisy berhenti bicara karena kepalanya semakin pening. Tanpa sadar air matanya mengalir.
"Mama, tolong stop. Lihat Daisy. Dia sedang sakit. Dan meski begitu dia sangat khawatir sama Naza. Bisa nggak mama berhenti bersikap negatif sama Daisy?" Nivia lalu memegangi Daisy yang kelihatan mulai linglung.
"Kamu gak apa-apa? Istirahat di sini aja dulu." ucap Nivia.
"Hah, paling juga dia cuma akting. Dia itu sengaja mencuci otak Naza, supaya dia jadi orang penting di hidupnya Naza." Nadia masih terus menghina Daisy.
"Cukup Mbak, aku adalah orang memanggil dia ke rumah ini, dan aku yang memaksa dia bekerja di rumah ini. Menghina orang yang aku percaya, sama juga menghina penilaianku. " Daryn lalu ke samping Daisy karena melihat Nivia sudah tidak kuat memegangi Daisy.
"Lebih baik, kamu istirahat di sini dulu." Daryn memegangi tubuh Daisy.
Tapi seperti biasanya, Daisy yang keras kepala tak ingin berada lebih lama lagi di rumah itu.
Saat melangkahkan kakinya memaksa pergi, akhirnya dia jatuh pingsan.
Daryn lalu menggendongnya dan meletakkannya di kamar yang biasa dia tempati.
__ADS_1
Setelah memanggil dokter, Daisy di beri infus karena kekurangan asupan dan kelelahan.
Semalaman Daryn merawatnya, dia tak sedetikpun meninggalkan kamar itu. Dia duduk di samping tempat tidur dan menggenggam tangan Daisy.
Di tengah malam, Daisy terbangun karena haus, dia juga lapar. Dia tak ingat kapan terakhir kali dia makan dengan baik.
Ketika berusaha turun dari tempat tidur, dia melihat Daryn menggenggam tangannya. Akhirnya dia diam sejenak dan memperhatikan wajah Daryn yang tertidur.
"Kenapa pria ini, harus sangat tampan? Penyayang dan juga perhatian? Dan yang paling disayangkan, dia tidak bisa jadi milikku". Batin Daisy sambil tersenyum, menyentuh kepala Daryn tanpa sadar.
Ketika Daryn mengangkat kepalanya, Daisy dengan cepat berpura-pura tertidur.
"Apa aku salah rasa?" batin Daryn. Tangan kirinya tidak melepaskan tangan Daisy, dan tangan kanannya dia gunakan untuk memperbaiki rambut Daisy dan memeriksa suhu tubuhnya.
Mengingat cerita Nivia, kalau Daisy mencari Naza dalam keadaan sangat sakit. Daryn menatap dalam kepada gadis itu.
"Kenapa kamu harus menggoyahkan perasaanku? Aku tak mau di sebut om om duda yang mengejar anak gadis dan muda. Tapi, sejak pertama melihatmu, dengan kecerobohanmu dan wajah takutmu, entah darimana tiba-tiba aku ingin melindungi mu. rambut gelombangmu yang jatuh, saat kamu menunduk membuatmu terlihat sangat manis.Dan setelah beberapa tahun, kamu tumbuh menjadi anak gadis yang lebih mempesona di malam pesta itu." batinnya masih memperbaiki rambut Daisy.
"Bagaimana keadaan Daisy?" tanya Dewi yang baru bisa meninggalkan Naza.
Mendengar suara Dewi, Daryn dengan cepat menarik tangannya dari tubuh Daisy.
Dewi menghela nafas pelan. Dia sangat bersyukur Naza mencarinya ke kampusnya dan yang paling penting, kembali dengan selamat.
"Aku harap Daisy segera pulih." ucap Dewi.
"Iya" jawab Daryn.
"Apa aku benar-benar ingin Daisy cepat pulih dan cepat juga pergi? Tidak, Aku ingin dia pulih dan tetap di sini. Sejujurnya aku ingin mempertahankannya di sini, tapi jika dia tak ingin disini bersamaku dan Naza maka aku tidak bisa memaksanya." batin Daryn.
Daisy yang sejak tadi berpura tidur, akhirnya bangun karena perutnya sudah sangat lapar.
"Daisy, kamu sudah sadar?" Dewi mendekati Daisy dan melihatnya dari dekat. Daisy menjawabnya dengan mengangguk.
Kedua orang yang ada dalam ruangan itu, menghela lega.
"Tapi, nona Dewi. Saya haus dan lapar."
__ADS_1
Dengan sigap Daryn yang berada dekat meja langsung membantu Daisy duduk dan memberikan air minum. Dan menyodorkannya bubur.
"Saya bisa minta nasi putih aja? saya gak bisa makan bubur." ucap Daisy agak malu merepotkan Daryn dan Dewi.
Setelah makan, dia pun merasa lebih baik. Tapi Daryn dan Dewi tidak meninggalkan ruangan.
Daisy menatap kedua orang itu bergantian, meminta mereka pergi.
Melihat tatapan Daisy, mereka berdua mengerti. Tapi tak mau meninggalkan Daisy yang sedang sakit.
"Biar aku saja yang menjaga Daisy, kamu kembali aja." ucap Daryn mengusir Dewi.
"Kamu sadar gak sih, kamu itu laki-laki dewasa dan Daisy wanita dewasa. Kalian gak boleh berada dalam satu ruangan. Nanti kamu macam-macam." sindir Dewi.
"Kamu pikir aku bakalan ngapain Daisy? Kamu lihat kan dia sedang sakit. Dan Lagipula, bukannya kamu yang ninggalin aku berdua sama Daisy waktu kalian honeymoon?" sindir Daryn.
"Oke-oke, aku bakalan biarin kamu jaga Daisy. Tapi biarkan pintu kamarnya terbuka. Supaya kamu tidak berpikiran yang aneh-aneh." Dewi lalu keluar dan membiarkan pintunya terbuka.
Dewi pergi sambil menunjukkan jari antara matanya dan Daryn. Tanda aku mengawasi mu pada Daryn. Sementara Daryn hanya mengabaikan Dewi.
Daisy tersenyum melihat kedua orang itu saling adu mulut, meski sering melihat Dewi dan Daryn berdebat tapi sampai sekarang Daisy selalu menganggapnya lucu. Karena Daryn juga laki-laki normal yang bisa berdebat dan ribut dengan sahabatnya. Karena mereka tak pernah berdebat di depan orang lain ataupun pelayan lain. Dan Daisy merasa spesial karena mereka menunjukkan hal itu di hadapannya.
"Kenapa kamu tersenyum?" tanya Daryn.
Daisy menggeleng sambil menahan senyumnya.
"Maafkan aku, harusnya aku tak mengusir mu begitu saja. Harusnya aku, sebagai yang lebih tua harus lebih bijak dalam hal ini."
Daisy masih tersenyum,"Saya juga minta maaf. Harusnya saya juga mempertimbangkan perasaan Naza. Harusnya Saya mengerti, karena saya sudah 2 kali ditinggalkan begitu saja oleh orang yang saya sayangi. Sakitnya rasa rindu, sakitnya kesepian karena tempat saya bertumpu tiba-tiba hilang."
Mereka berdua mengobrol tentang bagaimana keadaan mereka selama beberapa hari terakhir. Bagaimana mereka merasa perbedaan besar saat satu sama lain tak ada.
Daryn yang selama ini, pulang dan bekerja dari rumah, hanya demi melihat Daisy dan Naza bermain. Daisy yang selalu mengantar kepergian Daryn ke kantornya dan menyambutnya pulang bersama Naza. Dan Daisy juga tau, bahwa khayalannya sebagai babysitter sudah terlalu jauh. Setelah agak lama mengobrol, Daisy mulai mengantuk, tapi pertanyaan Daryn membuat kantuknya hilang.
"Apa kamu tidak bisa tetap di sini? Aku tau, aku memintamu menjaga Naza hanya selama 6 bulan. Bisakah kamu lebih lama disini?" tanya Daryn.
"Lebih lama? Seberapa lama?" Tanya Daisy menatap Daryn dengan dalam.
__ADS_1
"Menikah denganku, dan disini selamanya?"
...****************...