
Dengan cepat dia tiba di rumah baru mereka. Dia membuka pintu dengan pelan, tak terlihat siapapun.
Dia memeriksa kamar Naza dan melihat Daisy tidur bersama Naza.
"Apakah dia marah padaku?" batin Daryn.
Dia menunggu Daisy terbangun di ruang keluarga, dan benar saja, tengah malam Daisy berjalan ke dapur untuk minum.
"Sayang?" panggil Daisy.
"Maaf" Daryn berjalan ke arah Daisy dan memeluknya.
"Maaf, sebenarnya aku sudah menulis pesan untukmu, kalau akau punya janji makan malam, dan akan pulang terlambat. Tapi aku lupa mengirimnya." Dia melepas pelukannya, dan menatap Daisy.
Daryn sudah menyiapkan dirinya untuk di omeli Daisy. Tapi Daisy hanya tersenyum.
"Iya, saya yakin, kalau tak memberi kabar berarti Sayangku ini sangat sibuk." Daisy lalu berjalan ke arah dapur dan minum air.
"Sudah? Itu saja? " Tanya Daryn mengikuti Daisy.
"Terus, saya harus bagaimana? Apa saya harus marah dulu? Atau teriak-teriak?" Daisy menatap Daryn tersenyum.
"Yang aku hindari, adalah berteriak kepada orang yang aku sayangi. Aku tak ingin menyakiti orang yang aku sayangi. Karena aku gak mau kehilangan mereka karena hal sepeleh." batin Daisy.
Daisy terlalu sering melihat Laura yang datang hanya untuk marah dan minta Nevan mencintainya dan memperhatikannya.
Dia lalu berjalan ke arah Daryn dan memeluknya.
"Sebenarnya saya sangat marah, kesal dan juga sedih. Saya tau, Tuan sangat sibuk, Dan saya harus memahami hal itu. Tapi, meskipun begitu saya masih kesal." Ucap Daisy menangis, sambil membenamkan wajahnya ke dada Daryn.
"Maafkan aku. Karena belum bisa menjadikanmu yang utama. Dan memaksamu memaklumi kesibukanku." Daryn memeluk istrinya dan mencium kepalanya.
"Apa Tuan sudah makan?" tanya Daisy mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Daryn setelah puas menangis.
"Iya, aku sudah makan. Tapi, aku lapar dengan hal lain." Daryn menatap istrinya dengan nakal.
Daisy lebih dulu mengecup bibir Daryn dan berjalan ke kamar mereka dengan cepat.
Mereka menyalurkan hasrat mereka sebagai suami-istri.
Benar saja, Daryn suka berada di apartemen ini, Daisy yang bebas mengekspresikan rasa cintanya tanpa harus sembunyi-sembunyi. Dia seperti berada di dimensi lain.
Keesokan paginya, Daryn yang lebih dulu bangun menatap wajah istrinya dengan penuh kasih sayang.
Daisy yang sadar, langsung menutup wajahnya dengan selimut. Daryn terus menggoda Daisy, mereka saling menggoda sebelum mereka bangun.
__ADS_1
"Sudah dulu, saya mau mandi dan masak sarapan." Daisy bangun dari tempat tidur dan langsung berlari ke kamar mandi.
"Dia terlalu menggemaskan." batin Daryn langsung berdiri dan ikut mandi bersama Daisy.
Setelah mandi, Daisy langsung ke dapur dan Daryn mengikutinya.
"Tuan lebih baik siap-siap." mendengar Daisy memanggilnya Tuan, Daryn meraih Daisy membalik tubuh Daisy agar menghadapnya.
"Aku tidak suka mendengar istriku memanggilku Tuan." Daryn kemudian menekan pipi Daisy membuat mulutnya maju.
Daisy menarik tangan Daryn daribpipinya "Tunggu.. Tunggu... Saya sudah memikirkan panggilan yang tepat. DaDa bagaimana? Daryn dan Daisy. Yah, karena saya juga sebenarnya bingung harus memanggil Tuan ataupun sayang. Karena nama itu terlalu umum.Dan saya akan menggunakan kata kamu, karena kalah pakai anda, rasanya terlalu kaku. Bagaimana?" ucap Daisy dan berbalik menghadap kompor.
"Oke, panggilan yang bagus. Kalau begitu, pagi ini, aku akan membantumu memasak."
Daisy terkejut dan berbalik menatap Daryn dengan penuh tanya.
"Apa Dada benar bisa memasak?" tanya Daisy ragu.
"Dengar, aku kuliah di luar negeri dan masak sendiri. Jadi kamu tidak boleh meragukan kemampuanku."
Dalam beberapa hal, Daryn membantu tapi malah berantakan semuanya. Karena meski kuliah di luar negeri dan hidup sendiri, dia lebih sering beli makanan di luar, dan hanya bisa memasak makanan instan.
"Apa mungkin karena sudah terlalu lama? " Daryn berdalih.
"hahahahahha... Tolong, berhenti beralasan." Daisy tertawa melihat sisi baru dari Daryn yang ceroboh dalam memasak lalu mengambil bahan-bahan yang ada di tangan Daryn.
Daryn sangat menikmati kegiatan pagi barunya, melihat istrinya memasak.
"Apa ini, kehidupan normal yang di maksud Daisy? " Batin Daryn.
"Papa? Bunda?" Naza bangun dan menggosok matanya.
"Sayang, berapa kali bunda bilang, jangan menggosok matanya seperti itu." Daisy lalu mengajak Naza masuk ke kamar mandi dan membasuh wajahnya. Dan lanjut memasak.
"Papa..!! “ Naza langsung berlari ke arah Daryn dan memeluk Daryn.
" Bunda, masak apa?" Naza melepas pelukannya dari Daryn dan mendekati Daisy.
Daisy mengambilkan kursi kecil untuk Naza untuk berdiri di samping Daisy.
"Bunda masak nasi goreng. Hari ini, Naza lihat aja dulu, besok-besok kalau Naza libur kita belajar masak lagi yah." Daisy mengelus kepala Naza.
Sementar Daisy menyiapkan meja makan. Daryn dan Naza bersiap-siap.
Setelah sarapan, Daisy mengantar kepergian- Daryn dan Naza. Liam menjemput Daryn dan Tito menjemput Naza dan Daisy. Karena jarak dari rumah utama hanya 10 menit saja.
__ADS_1
Sebelum Daryn pergi,
"Dada, saya boleh nggak ke supermarket tanpa Kak Tito, biar kak Tito menunggu Naza di sekolahnya dan saya akan belanja." Daryn berfikir sejenak,
"Daisy sudah terbiasa sendiri, tapi sekarang dia istriku. Danaku tidak suka dia pergi tanpa pengawalan." Batin Daryn. Melihat wajah Daisy yang penuh harap, dia terpaksa mengijinkannya.
"Selama itu, tidak berbahaya dan kamu baik-baik saja dengan itu. Kamu bisa lakukan apapun. Tapi, beritahu aku lebih dulu. "
Daryn mencium kening Daisy dan Naza kemudian keluar dari rumah. Daisy dan Naza pun turun menuju mobil jemputan masing-masing.
"Kamu terlihat bahagia." ucap Tito memecah keheningan.
"Karena saya merasa seperti itu." jawab Daisy sambil memperbaiki rambut Naza.
"Bunda, berarti nanti Bunda gak nungguin Naza."
"Sayang, nanti Bunda tunggu di apatemen yah. Bunda akan masak makan siang buat Naza dan Papa."
"Berarti kita sudah pindah rumah?"
"Emm.. Nggak juga. Nanti setelah makan siang, kita ikut papa ke rumah utama dan belajar dan main di sana seperti biasa. Malam nya baru kita pulang lagi ke apartemen."
"Ooohhh..." Ucap Naza mengangguk mengerti.
Setelah Naza masuk ke kelas.
"Oh yah, aku mau ke supermarket dan naik taksi. Jadi kak Tito dan Pak Adi jaga Naza di sini. Oh yah, Kak Tito, apa kakak marah sama aku? Apa aku ngelakuin kesalahan?" Tanya Daisy.
Tito menggeleng.
"Gak ada yang salah. Kenapa memangnya kamu berpikir begitu?"
"Hanya saja, kakak seperti memberi jarak. Bagaimana yah? Seperti bukan kaka yang biasanya."
"Biasanya? memang seperti apa aku yang biasanya?" Nada Tito agak tinggi. Daisy terkejut mendengar nada Tito.
"Emm... Maksudku. Kakak sangat ramah pada semua orang, kenapa setelah Tuan Daryn melamar ku, kakak jadi berbeda."
"Apa kamu benar-benar tidak tau? Atau hanya pura-pura?" tanya Tito melangkah maju mendekati Daisy.
"Hentikan To." ucap Pak Adi yang keluar merokok dari dalam mobil.
"Sekarang Daisy adalah istri majikanmu. Tidak perduli secemburu apa dirimu. Kamu harus tetap menghormatinya."
Daisy memang meminta semua orang yang tau rahasia Daryn dengannya, tetap. Memanggil dirinya Daisy.
__ADS_1
Entah kenapa mendengar ucapan Pak Adi, Daisy tersadar. Bahwa hidupnya tidak akan pernah bisa normal seperti yang ia bayangkan.
...****************...