
Setelah beberapa tahun, ketika usia Naza menginjak 3 tahun.
"Mas Daryn, aku mau kita pisah." ucapan Alea membuat Daryn terkejut.
"Apa maksud kamu?" Daryn bingung.
"Apa mas, gak merasa. Semua perhatian mas, tertuju sama Naza. Aku, seperti gak ada dalam hidup kamu. Aku sangat mencintaimu Mas, tapi ini. Aku Gak sanggup lagi. " Alea menangis.
Daryn berusaha memeluknya. TapinAlea menepus tangan Daryn.
"Alea, Naza saat ini lebih butuh kita. Aku papanya dan kamu mamanya."
Alea menggeleng.
"Apa saat kamu memutuskan mengadopsi Naza kamu diskusi sama aku? Apa saat setiap keputusan tentang Naza ada kamu bicarakan sama aku? Aku mengenalmu sejak SMA, Mas. Aku tau, kamu terbiasa mengambil keputusan sendiri. Tapi, setelah menikah pun Kamu masih seperti itu. Aku menunggu kamu, mengajakku bicara. Tapi nggak Mas, kamu tetap egois. Dan tidak memikirkan perasaanku."
Dalam hati, Daryn tau dia melakukan kesalahan. Tapi, baginya. Mengadopsi Naza atau tidak bukan pilihan. Semua Tentang Naza bukan untuk di diskusikan. Dia yang memilih yang terbaik dan dia yang memutuskan yang terbaik untuk Naza. Setidaknya itulah yang dia pikirkan.
Dia masih mencintai Alea, dan Alea pun masih mencintai Daryn.
Tapi, Alea tak sanggup dan belum siap untuk membagi cinta Daryn untuk Naza. Karena bagi Alea, Naza tetap bukan anak kandung Daryn ataupun dirinya.
"Apa kamu yakin ini keputusanmu? Aku bertanya untuk terakhir kalinya." Daryn menarik pergelangan tangan Alea, matanya berkaca. Alea adalah cinta pertamanya, berat melepaskan Alea apalagi mereka masih saling mencintai.
"Maaf Daryn, aku belum bisa jadi seorang ibu bagi anak itu. Karena kamu memilih anak itu. Maka aku pun gak bisa jadi istrimu." Alea menarik tangannya dan melangkah pergi.
"Mama..... " ucap Naza kecil.
Langkah kaki Alea terhenti. Tapi Dia tak ingin berbalik. Dia mencintai Naza, tapi belum bisa mencintainya seperti anak kandungnya. Semua Orang di sekitarnya mencemooh keputusan Daryn, begitu juga dirinya.
Alea tak bisa hidup dalam kehinaan di mata orang lain.
Dia berjalan pergi, sementara Naza berusaha berlari mengejarnya. Daryn menahan langkah kecil Naza, dan menangis di pelukan Daryn.
Naza terus menangis memanggil mamanya. Tapi, Alea tak berbalik ataupun bergeming sedikitpun.
Meskipun Alea pergi begitu saja, Daryn tetap membuat Alea adalah sosok ibu bagi Naza.
Dan dia percaya, Alea akan kembali jika dia sudah siap.
...****************...
Setelah mendengar kisah Naza dan Daryn dari Nivia, Daisy merasa sedikit bersalah pada Naza.
"Harusnya aku tak mendekatinya Malam itu" batin Daisy.
Tapi, Daisy tetap pada pendiriannya.
"Maaf Nivia, aku gak tau apa yang harus aku katakan. Tapi, aku dan Naza memang tak perlu berhubungan. Nanti, dia akan melupakanku. Apalagi, aku hanya sekali ketemu sama dia." Daisy sudah selesai mengepak barang-barangnya.
__ADS_1
"Sampai ketemu di kampus. Kalau kita punya jam kuliah yang sama." Daisy hendak melangkah keluar.
"Daisy, kamu serius ngelakuin ini ke aku?" Nada Nivia agak marah.
"Apa kamu pergi begitu aja, tanpa kasi tau aku alamatmu? Sampai ketemu di kampus? Hah, kamu pikir aku apa, siapa? Teman sekamar, yang kamu buang gitu aja?" lanjut Nivia.
"Bukannya selama ini, kita begitu? Ketemu di kampus dan di kamar. Karena kita sudah tak sekamar, dan hanya akan ketemu di kampus."
Mendengar ucapan Daisy, Nivia semakin kesal. Dia mendengus kesal.
"Apa selama ini, cuma aku yang anggap kamu sahabat? 2 tahun bareng, apa aku belum layak jadi sahabatmu?" Nivia semakin kesal.
"Ava saja sudah meninggalkanku. Apa yang buat kamu gak akan begitu? kamu gak akan tau, bagaimana rasanya di tinggalkan orang yang kamu percaya dan sayangi."
"Apa yang buat kamu begitu sombong, dan membuang orang-orang yang perduli sama kamu? Hah? " Nivia mendekat pada Daisy.
"Aku tidak membuang mu, aku hanya menjaga hatiku. Aku tidak bilang, kita gak akan ketemu. Kita hanya beda tempat tinggal. Itu saja. Berteman, tentu saja kita masih berteman."
"Dengan tidak kasi alamat barumu ke aku. Kamu sedang berusaha menjauh dari aku." Nivia benar-benar semakin kesal dan marah pada Daisy.
"Selama ini, aku selalu berusaha menjaga perasaanmu. Aku mengikuti keinginanmu tentang semua hal. Apa yang ingin kamu makan. Apa yang ingin kamu lakukan."lanjut nivia.
"Baguslah, sekarang kamu gak perlu lakuin hal itu lagi. Harusnya kamu bilang kalau kamu gak suka dengan caraku atau hal lainnya tentang aku." Jawab Daisy.
"Kenapa kamu selalu membuat pernyataan ku ke arah negatif? Sudahlah." Nivia merasa lelah berdebat dengan Daisy. Dia memilih mundur dan duduk di atas tempat tidur dan membiarkan Daisy pergi.
Dan Daisy pun pergi, begitu saja.
Pulang kuliah dia akan kerja di restauran, lalu kembali pulang ke kost nya.
Kost yang dia tinggali, sangat murah. Tapi masih layak untuk di tempati.
Ava mencoba menghubunginya berkali-kali. Begitu juga dengan Nivia. Bahkan di kampus, ketika Nivia akan menegurnya, dia berpura-pura tak melihat atau mendengar Nivia.
Daisy menyukai kesendiriannya. Meski kadang merasa kesepian. Dia menahan dirinya untuk menelpon Ava ataupun Nivia.
Ketika di kampusnya, tiba-tiba dia mendapat panggilan dari ruangan rektor melalui pengumuman.
"Rektor? Ada apa?" Batinnya.
Dengan terburu-buru dia berjalan ke ruang rektor.
Setelah mengetuk pintu, dia di persilahkan masuk.
Dia terkejut ketika melihat siapa yang menunggunya.
"Tuan Daryn? "
"Aku akan meninggalkan kalian, bicaralah." Rektor itu meninggalkan ruangannya.
__ADS_1
Daisy tau Daryn orang kaya. Tapi membuat Rektor meninggalkan ruangannya hanya untuk bicara dengannya.
Daryn melihat Daisy merasa tak nyaman.
"Dia kakak sepupuku." ucap Daryn.
Mendengar ucapan Daryn, Daisy jadi ingin tau. apa alasan Daryn mencarinya.
"Ada apa tuan mencari saya?"
"Naza yang mencari mu, kamu buatkan dia cemilan. Tapi dia ingin kamu juga yang menemani dia makan dan minum susunya."
Mendengar ucapan Daryn, Daisy mengerutkan dahinya kemudian tersenyum.
"Tuan, tuan bisa menemukan cemilan itu di mana saja. Dan saya tau, tuan bisa mencari tau tentang hal itu. Dan tentang Nona Naza yang mencari saya. Saya yakin dia akan baik-baik saja dalam beberapa hari."
"Hampir sebulan, kamu bilang untuk menghubungi Nivia jika ingin bicara padamu. Tapi, Nivia bilang, kalian sudah tak berhubungan lagi. Jadi dia menyuruhku mencari kamu secara langsung. Dan disinilah aku." Daryn membuka kedua tangannya.
"Jadi, apa yang ingin tuan saya lakukan?"
"Aku akan memperkerjakan mu sebagai babysitter Naza."
Daisy tersenyum.
"Tuan, ada alasan kenapa saya tidak memberikan nomor saya pada Nona Naza. Dan sekarang, Tuan meminta saya untuk menjaga Nona Naza?" dia agak tertawa membayangkan tawaran dari Daryn. Daisy menggeleng.
"Apa yang lucu? Apa ini tentang berhubungan dengan orang kaya lagi?"
Daisy menjawabnya hanya dengan senyuman.
"Tidak perduli, kamu berhubungan dengan orang kaya atau bukan. Kamu Akan menemukan orang baik dan orang jahat. Hanya karena beberapa orang kaya, pernah menyakitimu. Tidak semua orang kaya seperti itu."
Daisy mengangguk.
"Saya tau, dan saya mengerti. Tapi Tuan, jika saya berada dalam lingkaran itu. Maka apa yang saya lakukan selama ini akan jadi sia-sia."
Usahanya untuk membuktikan pada keluarganya, bahwa tanpa mereka dia akan baik-baik saja. Bahwa dia tidak sedikitpun tertarik pada harta mereka. Sampai tak mengakui Daisy sebagai keluarga mereka.
Seperti halnya mereka yang tak menganggap Daisy, maka dia juga tidak akan menganggap mereka keluarganya.
"Jika hanya itu yang Tuan bicarakan. Saya permisi." Daisy lalu bangun dan keluar.
Begitu tiba di halaman, seorang wanita menghampirinya.
"Apa kamu Daisy?" tanya wanita itu.
"Iya, benar. Ada a... "
"plaaak.... " belum selesai bicara sebuah tamparan mendarat di pipinya.
__ADS_1
...****************...