
"Oke, sekarang aku tanya sama kamu. Apa kamu berniat menikahi Daisy?"
Mata Daryn dan Liam terbelalak mendengar pertanyaan Dewi.
"Kenapa kalian berdua sangat kaget? Apa yang aku ucapin salah?" tanya Dewi berpura-pura heran melihat wajah suami dan sahabatnya.
"Sayang, kamu sadar kan? Aku tau, mereka sepertinya suka satu sama lain. Tapi, apa kamu lupa. Bukankah kita sudah bicarakan ini?Tunggu sebentar, Ryn." Liam kemudian menarik tangan Dewi dan mengajaknya keluar.
Sementara Daryn hanya diam, memikirkan jawaban atas pertanyaan Dewi.
Dia tau, itu terlalu cepat untuknya. Apalagi, dia masih berharap Alea kembali padanya. Meski dia tak tahu, apakah mungkin Alea memilih dia kembali.
Tapi, dia juga tidak bisa mengabaikan perasaan yang dia rasakan selama bersama Daisy.
"Apa kamu lupa, kalau Daryn masih mencintai Alea?" tanya Liam pada Dewi.
"Alea adalah perempuan yang pergi meninggalkan Daryn dan Naza. Jika dia benar mencintai Daryn, harusnya dia tidak pergi. Dan Alea, hanya akan jadi masa lalu buat mereka." Ucap Dewi yang kurang menyukai Alea setelah dia pergi.
"Terus, usia mereka?" bantah Liam.
"Siapa yang perduli tentang usia? Selama mereka menyukai satu sama lain." Jawab Dewi mendekatkan wajahnya pada Liam menantang suaminya tentang pendapatnya menjodohkan Daisy dan Daryn.
"Bagaimana dengan Daisy yang tidak ingin berhubungan dengan orang kaya, dan kamu menyarankan mereka untuk menikah? Hah? " Liam tersenyum licik.
Dewi mengerutkan dahinya mendengar ucapan Liam. Dia tahu akan susah meyakinkan Daisy tentang hal itu.
Tentu saja Dewi tak ingin kalah dari Liam.
"Itu adalah tugas dan urusanku. Jadi, aku yang akan mengurus hal itu. Toh, dulu. Daryn dan Alea juga aku yang menjodohkan. Meskipun, aku sangat kesal dengan gadis itu."
Liam menghela nafasnya pelan. Dia juga tahu baik, Dewi tidak akan pernah mau kalah.
"aku gak mau ikut campur. Itu Semua terserah Daisy dan Daryn." Liam kembali masuk ke kamar.
Dan Dewi ikut dengan memajukan bibirnya karena Liam tak ingin membantunya.
__ADS_1
Setelah masuk, mereka melihat Liam memandang foto pernikahannya dengan Alea, dan juga foto Alea dan dirinya dan juga Naza ketika masih bayi.
"Aku, tak ingin menggantikan posisi Alea dengan siapapun." jawab Daryn memecah keheningan.
"Apa kamu yakin?" tanya Dewi kaget. Dia sangat yakin kalau Daryn menyukai Daisy dan senang berada di sekitarnya. Begitu juga dengan Naza.
"Jangan bilang, kamu akan mengosongkan posisi itu, hanya untuk menunggu Alea kembali. Aku gak tau, kamu masih cinta atau nggak sama dia. Tapi, perasaanmu saat ini juga gak kalah pentingnya." Dewi merasa kesal.
"Dew... Tentang Alea. Aku akan menunggunya. Tak perduli selama apa, aku akan menunggunya kembali." Dia berdiri dan membalik tubuhnya menghadap Dewi dan Liam.
"Sampai kapanpun, aku ingin Alea adalah sosok ibu satu-satunya untuk Naza. Perasaanku memang sedang goyah, melihat Daisy."
Dewi merasa sangat kesal dengan kebodohan Daryn. "Kalau begitu, akan akan menjodohkan Daisy dengan Tito mereka sangat cocok. Lagipula, aku gak perlu capek-capek membujuk Daisy agar nerima kamu. Karena dia gak suka dengan orang kaya."
Dewi lalu berjalan keluar dengan kesal kemudian mencari Daisy. Dalam perjalanan, dia berusaha menenangkan dirinya.
Daisy dan Naza tengah bersiap-siap untuk berangkat.
"Kalian sudah sarapan?" tanya Dewi melihat Daisy.
"Sudah Nona, kita berdua sudah siap. Tinggal menunggu Tuan Daryn berangkat" Jawab Daisy sambil tersenyum.
"Tunggu tante di sini yah, ada yang ketinggalan di kamar." Daisy langsung berjalan cepat kembali ke kamarnya, sebelum berpapasan dengan Daryn.
Dewi mengikuti Daisy ke kamarnya. Di sana dia melihat Daisy menyentuh dadanya. Dan tanpa sadar, air matanya mengalir.
"Aku, gak bisa terus-terusan di sini." Melihat pintu terbuka perlahan. Dengan cepat dia menghapus air matanya.
"Nona Dewi." dia lalu tersenyum getir pada Dewi.
"Emmm... Aku boleh duduk?" Daisy mengangguk dan Dewi duduk di sebelah Daisy.
"Hemm... Aku gak tau harus mulai darimana. Aku harusnya gak ninggalin kalian dan buat kalian berdua semakin dekat."
Daisy lalu melihat ke arah Dewi.
__ADS_1
"Aku tau, kamu suka sama Daryn. Dan aku ingin kalian bersama."
Daisy terkejut mendengar ucapan Dewi, dia lalu menggeleng dengan cepat.
"Bukan, bukan seperti itu. Saya memang menyukai Tuan Daryn. Sekedar kagum melihatnya mencintai Naza. Dan saya sama sekali tidak ingin bersama dengan Tuan Daryn."
"Kenapa? Kenapa kamu gak mau sama Daryn."
"Nona Dewi bercanda kan?" Daisy tau, kalau semua orang tahu dia punya hal yang kompleks dengan orang kaya. Selain itu, terlalu banyak perbedaan antara dia dan Daryn.
"Umur? Itu hanya angka. Jika kalian saling suka. Apa yang kamu takutkan?"
"Apa Nona pernah merasa tak berdaya dalam melakukan sesuatu?"
Dewi terkejut mendengar pertanyaan Daisy.
"Hal yang paling saya tidak sukai dari orang-orang kaya. Mereka selalu berfikir untuk bisa mendapatkan yang mereka inginkan sesuai kehendak mereka. Mereka bisa membuang orang yang tidak mereka butuhkan sesuka hati mereka. Dan mereka akan berkumpul di suatu tempat mewah dan megah hanya untuk memamerkan milik mereka. Harta, istri yang cantik, anak-anak yang berprestasi, yang prestasinya juga mereka dapatkan dengan uang mereka. Wartawan yang tidak pernah berhenti. Melihat semua itu, sangat melelahkan bagi saya. Dan merasa lega, saya bukan bagian dari mereka." Ucap Daisy dengan tegas.
"hemm... Aku gak tau. Kenapa kamu berfikir sangat negatif tentang orang kaya. Memang, kehidupan mereka seperti itu sangat melelahkan. Tapi, selama kamu tinggal disini. Apa pernah kamu melihat Tuan Daryn memperlakukanmu dengan tidak baik? Atau membuatmu merasa kalau kamu dari dunia berbeda?"
Daisy mengangguk. "Saya tahu, Tuan Daryn memperlakukan saya dengan sangat baik. Tapi, ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan saya. Itu karena Tuan Daryn membutuhkan saya sebagai babbysitter Naza. Dan anda tahu, dia bisa membayar saya 5 kali lipat dengan uangnya."
"Kamu tau, sebenarnya mereka tak ada bedanya dengan orang yang tak punya. Seperti halnya orang kaya, orang tak punya pun ada beberapa yang memiliki sifat seperti itu.
Mereka bisa melakukan apapun untuk. Mendapatkan apa yang mereka mau, meskipun itu menyakiti orang lain.
Mereka pun, bisa membuang keluarga mereka ketika mereka merasa hidup terlalu berat. Aku dan Liam contohnya. Kita berdua, dibuang begitu saja seperti sampah.
Kaya ataupun tidak, itu semua tergantung dengan orang macam apa yang kamu temui. Aku dan Liam, beruntung bertemu dengan Daryn ketika masih kecil, kakeknya membawa kami ke rumah ini dan membesarkan kami bersama." Ucap Dewi tersenyum.
Daisy lalu menatap ke arah Dewi.
Dewi tersenyum melihatnya. "Ini bukan tentang harta, tapi tentang hati, karakter dan orang seperti apa yang kamu temui. Jadi, aku harap, kamu tidak melihat Daryn sama seperti orang kaya yang pernah kamu temui." Dewi lalu memeluk Daisy.
Membuat Daisy menangis dan semakin keras.
__ADS_1
"Kenapa kamu menangis?"
...****************...