
"kenapa kita disini?" tanya Daisy.
"Sama seperti kamu yang menganggap perasaanku adalah hal yang penting, bagiku perasaanmu juga penting." ucap Daryn mengelus kepala Daisy dan setelah itu turun membuka pintu mobil untuk Daisy dan menggendong Dean sebelum Daisy turun.
"Tapi, aku takut." ucap Daisy menatap Daryn dengan mata yang berkaca-kaca.
Daryn memeluk Daisy, dan Dean juga ikut memeluk mamanya.
Akhirnya mereka bertiga, menunggu di sebuah ruangan.
Saat Tio memasuki ruangan, dia menatap Dean dan juga Daisy dengan datar.
"iyoo... " teriak Dean senang bertemu dengan Tio.
Tapi, Tio malah mengerutkan alisnya.
"mereka siapa?" tanya Tio pada penjaga yang menuntun Tio.
Daisy lalu menatap Tio dengan sedih.
"ini, aku Daisy dan Dean." ucap Daisy dengan mata berkaca.
"aku mau masuk." ucap Tio yang berdiri hendak pergi.
"iyooo.. Iyooo.." Dean menangis ingin di gendong Tio.
"kenapa kalian membawa anak kecil ke tempat seperti ini?" ucap Tio berlalu pergi.
Daisy hanya bisa membeku, air matanya mengalir.
"apa dia sengaja melakukan itu?" tanya Daisy membuat perasaannya semakin kacau.
Dia datang ingin memaki dan memarahi Tio atas perbuatannya, dan setelah itu akan memaafkannya. Tapi, bagaimana dia bisa marah melihat keadaan Tio.
"Dia sering begitu, ingatannya mentok pada gadis terakhir yang dia bun*h." ucap Penjaga itu lalu meninggalkan Daisy, Daryn dan Dean yang sedang menangis.
"sssssuussshh.. Ssssshhh... Nanti kita ketemu Iyo lagi." ucap Daryn menenangkan Dean.
"kita bisa kembali lain kali." ucap Daryn.
"bagaimana bisa dia melupakan kita begitu saja, setelah apa yang dia lakukan Da? Dia harusnya mengingat kesalahannya padaku." ucap Daisy, antara sedih dan marah.
Sekarang Daryn harus menenangkan dua orang sekaligus.
"apakah keputusanku salah membawa mereka ke sini? Harusnya aku mencari tahu lebih dulu, bagaimana keadaan Tio." batin Daryn.
__ADS_1
Sementara itu, Tio yang sudah masuk dan duduk dalam selnya terngiang suara Dean yang menangis memanggilnya.
"Dean?" ucapnya pelan.
"Dean? Itu Dean?" dia berdiri lalu pergi ke pintu memanggil sipir.
"pak sipir...!!! Pak Sipirrr... !!! " teriak Tio memanggil tanpa henti.
"ada apa lagi? " tanya sipir itu kesal.
"aku mau ketemu mereka. Dean dan Daisy." ucap Tio memohon.
"bukannya tadi, kamu yang katanya tidak kenal dan ingin masuk?" tanya Sipir itu semakin kesal.
"saya mohon." ucap Tio.
"tidak bisa, kamu baru saja keluar. Hanya karena mentalmu terganggu, aku tidak bisa membuat pengecualian." ucap sipir itu hendak pergi.
"kalau begitu, berikan ini pada mereka! " Tio dengan cepat berlari, ke tumpukan bajunya mengambil lipatan kertas di sana dengan cepat ia berikan pada sipir itu.
"tolong, berikan ini pada mereka. Saya mohon." ucap Tio memohon.
"haaah.. Baiklah." sipir itu menghela, tapi dengan cepat mengantarkan surat itu pada Daisy.
"hah.. Hah... Hah... Aku tidak di gaji untuk ini. " suara sipir itu ngos-ngosan dan memberikan surat itu.
"dari tahanan tadi. Waktu di selnya dia sadar sebentar." ucap Sipir itu lalu pergi. Dia merasa kasian pada Tio, karena tak tau, kapan dia akan di hukum.
"buka saja." ucap Daryn tersenyum. Daryn masih menggendong Dean yang sudah tertidur karena lelah menangis.
Daisy lalu naik ke atas mobil.
"aku akan menunggu di sini." ucap Daryn, tapi Daisy menggeleng menyuruhnya naik dan membacanya bersama.
Daryn pun naik dan membaca surat dari Tio bersama.
"aku tidak tau, apa yang salah dengan pikiranku. Kadang aku ingat kamu dan Dean. Tapi kadang aku melupakan kalian. Pasti, kamu sangat ingin marah padaku. Aku harap kalau kamu datang aku dalam keadaan waras. Supaya kamu bisa memarahi dan memakiku sesuka hatimu. Kamu selalu berani marah di belakang orangnya saja. Padahal, seandainya kamu marah sekalipun, itu adalah hakmu.
Aku sepertinya terlalu serakah. Tapi, ya sudahlah. Kamu datang terlalu terlambat. Andai saja kamu datang lebih awal dalam kehidupanku. Aku tidak akan minta maaf. Karena Hal itu terlalu mewah untukku.
tolong titip Ibuku, hanya Tito yang tersisa di hidupnya. Aku ingin melihat wajahmu dan Dean sebelum aku pergi. Tapi, itupun rasanya terlalu mewah.
Salam pada suamimu yang tua bangka itu. Andai saja kita bertemu dalam keadaan yang lebih baik, aku pasti akan merebut kamu darinya dan menang."
Daisy membalik suratnya, tak ada lagi. Hanya itu yang tertulis dalam suratnya.
__ADS_1
"kurang ajar, dia bahkan menantang ku." ucap Daryn berpura-pura marah.
Daisy lalu tersenyum melihat Daryn yang berusaha melucu di saat seperti ini. Dia mengatupkan bibirnya.
"untung saja, dia tidak menyatakan cinta dalam suratnya. Jika saja iya, aku akan masuk dan menghajarnya." ucap Daryn yang menatap Daisy yang mulai berkaca-kaca lagi.
"Apa dia benar-benar akan dihukum m@ti? " tanya Daisy.
Daryn menatap Daisy dengan dalam.
"Aku hanya bisa bilang, setiap tindakan pasti akan ada resikonya. Aku bukan tidak bersimpati, sebagai seseorang yang hampir kehilangan kamu, aku tidak bisa memaafkan dia." ucap Daryn lalu menyalakan mobilnya.
"apa kamu perlu menyampaikan sesuatu? Atau kamu ingin bertemu dengannya untuk terakhir kali?" tanya Daryn.
Daisy menggeleng.
"dia mungkin akan lupa lagi," ucap Daisy menghapus air matanya.
"apa kamu siap meninggalkan semua masalah ini?" Daisy mengangguk.
"kita akan menata hidup kita lagi," Daryn lalu mengecup kening Daisy dan mengendarai mobilnya.
Setelah tiba di rumah Laura, mereka langsung izin untuk pamit. Karena ada banyak pekerjaan yang harus di urus oleh Dean.
"Mama akan sering berkunjung." ucap Laura memeluk Daisy.
"cucu mama, apa gak bisa di tinggal di sini saja?" tanya Laura mencium Dean yang sedang tertidur.
"pasti bakalan susah lagi, dia harus menyesuaikan sama rumah di sana lagi." tatap Laura sendu dan sedih karena akan berpisah lagi.
"tungguuuu..." ucap Ava yang baru saja pulang kerja. Dia menjadi sangat sibuk menggantikan tugas Laura dan membantu di kantor karena kedua pimpinannya sedang berada di rumah.
"Daisyyy...!!! kita belum sempat jalan-jalan tapi kamu sudah pulang aja." Ava memeluk Daisy dan seperti biasa memainkan lemak dari bagian perut Daisy.
"iiiikkhhhh... Udah deh." Daisy melepas pelukannya dan memukul tangan Ava.
"aku kangen lemakmu." ucap Ava merengek.
"bikin lemak sendiri" ucap Daisy.
"atau kamu, bisa nikah sama orang berbadan montok sepertiku." ucap Daisy bercanda.
Tiba-tiba bercandaan mereka terhenti, ketika sebuah mobil berhenti di depan rumah.
...****************...
__ADS_1