Calon Ayah Tiri

Calon Ayah Tiri
Kepergian Daisy


__ADS_3

Naza lalu mengejar pelayan itu, minta penjelasan. Karena ada namanya yang disebut.


" Bibik.. Siapa? Siapa yang cuma kerja 6 bulan. Tante Daisy?" Mendengar pertanyaan Naza, kedua pelayan itu menatap Naza dengan perasaan bersalah dan mengangguk.


Naza merasa wajahnya panas, dan langsung menangis dan berjalan ke arah ruang kerja papanya.


Semua orang mendengar teriakan tangisannya.


"Naza, kamu kenapa?" Dewi menghadang Naza. Tapi dia tak memperdulikannya dan melewati Dewi, begitu juga dengan Daisy yang juga terkejut mendengar suara tangisan Daisy.


Daisy lalu menangkap Naza dan memeluknya.


"Kenapa? Ada apa? Apa kamu luka? " Daisy kemudian memeriksa semua bagian tubuh Naza.


"Tante jahaaattt." lalu mendorong Daisy dan berlari ke ruang kerja papanya.


"Papaaaaaa..... Hhhaaaaaaa... Papaaaaa... Tan.. Tante Daisy katanya mau berhentiiiii.... " dengan suara tangisan dan bicara yang tersendat. Daryn lalu berlutut dan memeluk putrinya.


Daisy, Dewi dan beberapa pelayan melihat Naza dari depan pintu.


"Kalian kembali kerja" ucap Dewi menyuruh pelayan kembali.


Dewi dan Daisy masuk keruang kerja, dan menutupnya.


"Papa gak bisa dengar dengan jelas ucapan Naza. Bisa selesaikan tangisannya dulu?"


Sambil menahan tangisnya, dia masih terisak. Semua orang dengan sabar menunggunya selesai menangis. Sementara itu, Daisy sangat khawatir jika Daryn memintanya bekerja lebih lama. Meskipun tak ingin meninggalkan Naza


"Apa Naza sudah selesai menangis?" Tanya Daryn.


Naza mengangguk agak sesegukan.


"Apa yang buat Naza menangis dan marah seperti tadi?" tanya Daryn pelan.


"Tante Daisy, sebentar lagi mau berhenti? " tanya Naza.


Daryn kemudian melihat ke arah Daisy dan Daisy menggeleng. Begitu juga dengan Dewi, bagaimana Naza tau tentang hal itu.


"Naza, kamu tau kan, tante Daisy sedang kuliah?" Naza mengangguk.

__ADS_1


"Tante Daisy perlu menyelesaikan kuliahnya, dan bekerja di tempat yang lebih baik." ucap Daryn.


"Memangnya di sini gak baik? Aku senang tante Daisy di sini. Dan juga seperti biasa, tante Daisy bisa berangkat dari sini. Aku gak mau tante Daisy pergi." Air matanya mulai keluar lagi.


Daisy pun ikut sedih, dia juga suka menjaga dan menghabiskan waktu bersama Naza. Tapi, dia tau dengan baik. Semakin lama di rumah itu, hatinya dan perasaannya semakin tidak bisa dia bendung.


Daisy berusaha menahan air matanya, tapi ketika dia memikirkan akan berpisah dengan Naza dan Daryn, membuat hatinya juga terasa perih.


"Apa tante gak suka kerja di sini? " tanya Naza pada Daisy.


"Tentu saja tante suka kerja disini. Ada Naza, ada tante Dewi, om Liam, dan semua orang di rumah ini yang sangat baik sama Tante."


Mendengar ucapan Daisy, Naza ingin menangis lagi.


Daisy menahan air matanya , tak tega melihat gadis kecil itu menangis.


"Naza, kalau begitu. Papa akan berusaha membujuk tante Daisy, lebih baik sekarang Naza main dulu sama tante Dewi." Daryn lalu mengelus kepala putrinya.


Dengan wajah terpaksa, Naza mau di bawa keluar ruangan oleh Dewi.


Setelah mereka berdua keluar, Daryn mempersilahkan Daisy untuk duduk.


Selama sebulan lebih, Dia dan Daryn tak pernah bicara lagi. Rindu, meski berada di satu rumah, mengingat apapun yang akan dikatakan Daryn padanya, tidak akan bisa dia terima dengan baik.


"Aku tahu, apa yang aku ucapkan tidak akan bisa kamu terima." ucap Daryn berhenti sejenak dan memperhatikan wajah Daisy.


"Tapi, bisakah kamu disini lebih lama lagi?" Tanya Daryn.


Daisy mengangkat wajahnya dan kemudian menatap Daryn dengan sedikit tertawa.


"Hahaha, Tuan. Benar-benar egois." ucap Daisy dengan kesal.


"Kamu tahu, ini bukan tentang aku, ini tentang Naza. Aku, akan melakukan apapun membuat Naza mendapatkan apa yang diinginkan."


"Ternyata saya salah. Apa yang saya pikirkan tentang Tuan ternyata salah. Tuan, hanya ingin. Memenuhi keinginan Naza, tanpa memikirkan perasaan orang lain itu, adalah egois." Daisy berdiri dan hendak pergi, tapi Daryn menarik tangannya.


"Apa maksud kamu?" tanya Daryn bingung.


"Naza juga harus tau, kalau tidak semua yang dia inginkan akan dikabulkan dan didapatkan. Dia juga harus belajar melepaskan. Orang yang pergi, akan tetap pergi. Tak perduli apa usaha kita untuk membuatnya bertahan." Daisy lalu menarik tangannya.

__ADS_1


"Saya melakukan ini, untuk Naza. Jika suatu saat mamanya kembali, dia tidak bergantung lagi pada saya. Dan saya tau, bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang sangat kita percaya dan bergantung padanya."


"Mamanya kembali? Alea tidak akan kembali dalam waktu dekat ini. Dan seandainya Alea kembali, tidak akan ada yang menghalangi antara Naza dan mamanya."


Daisy menggeleng.


"Tuan, apakah Tuan benar-benar naif atau hanya berpura-pura?" Daisy maju melangkah mendekat pada Daryn. Daisy menatap wajah Daryn dengan intens.


"Bagaimana dengan aku? Yang masih menjaga Naza sementara melihatmu bersama wanita pujaan hatimu. Dan apakah kamu benar-benar tidak tahu perasaanku?" batin Daisy. Matanya berkaca-kaca menatap wajah Daryn.


"Bagaimana bisa, kamu jatuh cinta terlalu dalam pada pria ini? Pria yang tidak mau mengakui perasaannya sendiri bahkan berpura-pura tak tahu perasaanmu?" batin Daisy.


Daryn hanya diam dan menatap wajah Daisy, tanpa sadar, tangannya menyentuh pipi Daisy, dan maju menyentuh rambutnya, dan Daisy menyandarkan kepalanya ke tangan Daryn.


Daryn kemudian memajukan wajahnya dan Daisy menutup matanya. Tapi dengan cepat Daisy membuka matanya dan Daryn pun memundurkan tubuhnya dan melepaskan wajah Daisy.


"Maaf. Aku, tidak akan melakukan kesalahan yang sama. Aku sama sekali tak berniat."


"Kesalahan?" tanya Daisy air matanya tanpa dia sadari keluar.


Dia mengangguk," benar, kesalahan. Aku hampir melakukan kesalahan besar membiarkan Tuan melakukannya lagi."


"Daisy, hentikan. Perasaanmu baiknya kamu simpan sendiri. Dia tidak akan pernah mengakui perasaannya, ada wanita yang dia tunggu. Begitu juga kamu, kamu tidak akan pernah ingin masuk dalam kehidupan laki-laki ini." batin Daisy.


"Daisy... Harusnya aku tudak melakukan hal itu padamu. Aku tau, bagaimana kamu ingin melakukan semua hal pertamamu bersama suamimu. Dan apa yang kamu rasakan saat ini, bisa saja karena aku adalah ciuman pertamamu." Daryn berjalan mendekati Daisy, tapi Daisy memundurkan langkahnya.


"Tuan, tidak berhak mengartikan perasaan saya. Saya mungkin baru pertama kali merasakan perasaan ini. Yah, dan saya mengartikannya dengan banyak kemungkinan".


Daisy melangkah mendekati Daryn. Dia menatap Daryn dengan dalam.


" Apa karena Tuan seorang ayah? Apa karena tuan orang baik? Apakah karena Tuan tampan? Yah, semuanya benar. Tapi, yang paling penting dari semua itu, bahkan sedang melihat Tuan pun, saya merindukan Tuan. Saya tidak tau apa yang saya inginkan dari Tuan. Karena perasaan saya begitu rumit, karena itu, semakin cepat saya pergi dari sini, maka itu akan baik bagi semua orang. Terutama Saya, Naza dan juga Tuan sendiri. Dan saya juga tau, terlepas dari apa yang tuan rasakan pada saya, Tuan masih menunggu mantan istri tuan."


"Baiklah, jika itu keinginanmu. Aku membebaskan kamu lebih awal dari kontrak kerjamu. Kamu bisa pergi secepatnya. Masalah Naza, aku akan mengurusnya, karena pada akhirnya kamu juga akan pergi."


Entah kenapa, mendengar ucapan Daryn yang membiarkannya pergi begitu saja membuat dia merasa sedih. Dan dia pun, berbalik dan pergi dengan air mata tanpa suara.


Keesokan paginya, Naza berteriak dan menangis setelah memeriksa kamar Daisy, seluruh pakaiannya sudah dia bereskan dan dia sudah tidak ada si rumah itu lagi.


...****************...

__ADS_1


...****************...


__ADS_2