Calon Ayah Tiri

Calon Ayah Tiri
Menunggumu


__ADS_3

Setelah jam makan siang pun, hatinya masih terasa sakit dan marah.


"Tuan Daryn, Nona Alea datang ingin bertemu dengan anda." seorang pelayan datang, Liam dan Daryn sama-sama terkejut.


Daryn hanya terkejut, dia tidak tau harus merasakan apapun. Dia saat ini, hanya marah pada Daisy.


Meski pernah berharap Alea kembali, tapi saat ini dia sama sekali tidak menunggu kedatangannya.


Daryn mempersilahkan Alea masuk, dia berdiri dan ingin menyambutnya seperti rekan kerja yang sudah lama tak bertemu.


Tapi, Alea langsung menciumnya. Daryn terkejut. Tapi, tiba-tiba pintu terbuka. Di sana dia melihat Daisy yang melotot dan menatapnya dengan mata berkaca-kaca.


Daryn ingin menjelaskannya pada Daisy, tapi mengingat foto itu. Dia memilih memberikan Daisy perlakuan dingin.


Perasaannya bercampur aduk, karena sudah menyakiti wanita yang dia cintai. Tapi, Daisy pun sudah menyakitinya. Itu lah yang di pikirkan Daryn.


Dia menunggu Daisy memberikan penjelasan padanya. Tapi, Daisy malah pergi dan meninggalkan kotak kecil di meja kerjanya.


Daryn tak ingin membukanya. Entah kejutan apa lagi yang akan diberikan oleh Daisy.


Dia sangat terkejut mendengar Daisy pergi menyetir mobil sendirian.


"Dia tidak akan kenapa-kenapa kan?Lagipula ada beberapa orang yang menemaninya. Tapi.. Tidak. Dia akan baik-baik saja." Batin Daryn setelah merebahkan tubuhnya ke kursi kerjanya.


Tak beberapa lama, pengawal menelepon Liam kalau Daisy tiba di apartemen mereka.


Mendengar itu Daryn merasa lega.


"Kenapa, kamu tak menyusulnya?" tanya Liam.


"Aku ingin menenangkan pikiranku dulu." ucap Daryn dan Liam keluar dari ruang kerja.


Alea masih mengelus rambut Naza dan Naza kelihatan sangat tidak nyaman. Alea seperti orang asing bagi Naza.


"Om, bunda ke mana?"tanya Naza melihat Liam dengan wajah sedih. Naza berdiri dan menghindar dari Alea.


"Dia pulang ke apartemennya. Naza disini dulu sama Tante Dewi dan Nando."


"Apa aku bisa, tidur bareng Naza?"tanya Alea.


"Gak mau. Naza mau tidur sama tante Dewi dan Nando saja." jawab Naza langsung berjalan ke kamar Dewi.


"Daryn tidak bisa menemui mu hari ini. Lebih baik kamu kembali setelah memberi kabar lebih dahulu. Dan Alea, ini bukan rumahmu lagi.Jadi aku harap kamu tidak seenaknya datang dan pergi ke rumah ini. Aku akan memberi tahu pengawal. Jadi kamu harus buat janji dulu, jika ingin bertemu dengan Daryn."


"Apa?" Alea mendengus dengan kesal.

__ADS_1


"Mungkin kamu lupa. Daryn akan menungguku. Dia bilang, akan menyediakan tempat untukku kembali kalau aku sudah siap." ucap Alea dengan percaya diri.


"Apa kamu merasakannya?" tanya Liam.


"apa maksudmu? Merasakan apa?"


"Merasakan tempatmu? tempat kamu kembali. Apa itu terlihat masih ada?" tanya Liam lagi.


Sebenarnya, Alea datang karena Nadia mengatakan Daryn sedang terluka dan merasa sedih, dia awalnya akan mengunjungi Daryn ketika dia lebih siap.


Dia bukannya tidak merasa bersalah meninggalkan Daryn dan Naza di masa lalu. Tapi, saat itu dia juga masih muda. Ada banyak hal yang ingin dia lakukan sebagai seorang Alea selain sebagai istri Daryn dan juga ibu Naza.


Alea mengingat kejadian tadi di ruang kerja Daryn. Babysitter Naza.


"Jangan bilang, tempatku digantikan oleh babysitter tadi." Alea menatap Liam.


"Andaikan kamu tau, dia bukan hanya menggantikan tempatmu, tapi dia juga sudah mengisi hidup kedua orang itu." batin Liam.


Liam hanya diam, dan menatap Alea.


"Aku harus menanyakannya langsung pada Daryn."


Liam menggeleng dan menghalang jalan Alea.


"Tidak, kamu tidak akan menemui Daryn hari ini."


Sementara itu, Daisy yang sudah tiba di apartemennya langsung membuang dirinya ke atas tempat tidur.


Dia menatap ke arah langi-langit.


"Dia mengira kamu selingkuh dengan kak Tito, jadi kamu harus menunggu dia lebih tenang. Dan kalau dia melihat kotak kecil itu. Dia pasti akan langsung menemui mu." Daisy bicara pada dirinya agar jangan merasa sedih dulu.


Meski apa yang dia rasakan sangat sakit, Daisy menunggu Daryn dengan sabar. Meski, selang beberapa menit air matanya menyeruak keluar dengan sendirinya.


Berkali-kali dia memeriksa ponselnya.


Berkali-kali dia menangis mengingat Alea mencium Daryn.


Berkali-kali dia mengingat Alea mengelus kepala Naza dengan lembut.


Berkali-kali juga setiap bayangan itu datang menghantui pikirannya.


"Apakah, Daryn akan kembali lagi bersama Alea? Karena dia sebelumnya menunggu Alea. Bagaimana bahagianya Naza bertemu dengan mamanya kembali?"


Merasa sedih, dia sampai lupa makan. Dia lupa, ada orang baru dalam tubuhnya.

__ADS_1


Daisy tertidur dan terbangun lagi, menangis melihat Daryn belum kembali pulang ke apartemennya. Dia menunggu Daryn. Menunggu dan terus menunggu.


Tertidur beberapa menit, terbangun lagi.


Sudah pukul 2 malam, dan sama sekali belum ada kabar dari Daryn.


Dia melihat pesan dari Naza. "Bunda, bunda di mana? Naza pengen tidur sama Bunda. Naza mau ke tempat Bunda."


Dia tersenyum melihat pesan dari putrinya.


"Setidaknya dia merindukanku" batin Daisy.


"Maaf, sayang. Untuk malam ini. Naza tidur di situ dulu yah." balas Daisy.


Pukul setengah lima pagi, tiba-tiba Daisy merasakan kram hebat di perutnya. Dia merintih kesakitan.


Dia mecoba menelepon Daryn, tapi panggilannya tak dijawab.


Dewi, dan Naza tak menjawab karena masih tidur.


Akhirnya dia memanggil taksi, dan pergi ke rumah sakit seorang diri. Keluar dari taksi dia sudah tak kuat untuk berjalan dan di angkat menggunakan tempat tidur dari depan rumah sakit .


"Apa anda tau anda hamil?" Daisy mengangguk mendengar pertanyaan dokter.


"Anda tidak boleh terlalu stress, anda tau kan?"


"Iya Dok, saya sedang mencobanya. Ini memang salah saya, karena tak memperhatikan calon bayi saya."


Dokter menghiburnya agar berusaha lebih positif, karena apa yang dirasakan oleh ibu, akan dirasakan juga oleh bayinya.


Setelah beberapa jam observasi keadaan Daisy. Akhirnya dia diizinkan pulang.


Daisy memutuskan untuk kembali ke apartemennya, berharap Daryn sudah menunggunya di sana.


Sudah pukul 8 pagi. Tapi, belum ada kabar dari Daryn. Pukul 9 pagi. Semakin negatif pikiran Daisy.


"Apa dia sedang bersama Alea. Melihatnya Sekilas. Aku harus akui, dia wanita yang sangat cantik. Jadi, wajar kalau Dada menunggunya." Batin Daisy. Dia menangis lagi, membayangkan Daryn akan berpaling dan memilih kembali pada Alea.


Kepalanya kembali berdenyut. Dia memilih untuk berhenti bersedih dan mengurus dirinya. Ada bayi yang butuh asupan di dalam tubuhnya, Meski merasa sedih, dia tak boleh membiarkan calon bayinya kenapa-kenapa.


"Haruskah aku mengundurkan diri, dari hubungan ini. Apa alasannya dia tidak meneleponku. Mengirimkan pesan padaku."


Daisy mulai merasa marah, sudah pukul 10 pagi.


Dalam keadaan marah, Daisy pergi ke pengadilan agama dan mengambil formulir perceraian. Dia melakukan sesuatu yang sudah biasa dia lakukan.

__ADS_1


Yaitu Pergi, dari hidup orang-orang yang tidak menginginkannya.


...****************...


__ADS_2