Calon Ayah Tiri

Calon Ayah Tiri
Cucu dan Cicit


__ADS_3

Mereka pun masuk bersama. Sampai saat Tuan Abrar keluar dengan pandangan datarnya. Yang berubah seketika dia melihat Dean.


"Siapa anak laki-laki ini?" Tanyanya tersenyum.


Daisy yang terkejut, melihat heran. Sementara Tio langsung memperkenalkan Dean.


"Halo, buyut. Saya Dean. Anaknya mama Daisy." ucap Tio mendekatkan dirinya dan Dean pada Tuan Abrar.


Daisy hanya bisa melongo tak habis pikir.


"Tio. Jangan." ucap Daisy pelan menegur Tio.


"Yah, gak apa-apakan. Dia cicitnya." ucap Tio tersenyum.


"Maaf, Tuan Abrar. Dia." belum selesai bicara Tuan Abrar memperlihatkan sisi lainnya yang membuat orang-orang yang melihat tak bisa berkata apa-apa.


"ayo, sama uyut." Abrar memajukan tangannya ingin mengambil Dean, tapi Dean langsung memeluk Tio dengan erat.


"Dia masih butuh waktu, sama orang baru." ucap Tio menjelaskan agar Tuan Abrar tidak kecewa.


Daisy jadi ingat, ketika pertama kali dia datang ke rumah ini. Tuan Abrar yang tidak mengatakan apa-apa. Dan juga dia di hardik oleh Nyonya Liza.


Daisy tersenyum getir mengingatnya.


"Tuan, mereka baru sampai. Bagaimana kalau kita persilahkan mereka masuk?" ucap Imah.


"Betul sekali. Ajak mereka masuk, dan sediakan makanan yang enak, dan tanyakan apa kesukaan Cicitku ini." Abrar mengelus rambut Dean yang membelakanginya.


Dean memeluk Tio semakin erat.


Mereka pun masuk. Dan ternyata Nyonya Liza melihat mereka dari ruang tamu sejak tadi.


"Siapa yang menyangka kamu akan kembali?" ucap Liza sinis dan langsung duduk di sofa.


Liza merasa sangat marah dan cemburu melihat suaminya bisa tersenyum pada anak laki-laki yang baru dia temui, meskipun itu adalah cicitnya sendiri.


"Sediakan kamar untuk mereka, kamar tamu paling besar." ucap Abrar sumringah.


"Tuan Abrar, tidak perlu menyediakan kamar yang besar. Saya akan tidur di kamar lama saya. Jika boleh. Dan Saya melihat, berita tentang mama. Dan hanya ingin berkunjung. Biar bagaimanapun, bukankah saya juga anggota keluarga ini?" ucap Daisy memberanikan dirinya, sambil melihat ke arah Nyonya Liza.


"Kamu benar, kamu adalah anggota keluarga ini. Dan cicitku ini, juga adalah keturunanku. Kamu, tidak perlu memanggilku Tuan Abrar. Panggil aku Opah." ucap Abrar yang senang, karena semakin tua yang dia perlukan adalah keturunan laki-laki yang akan meneruskan kehormatan keluarganya.


Daisy hanya bisa tercengang melihat keluarganya sendiri bertingkah seperti ini. Sementara Tio hanya tersenyum.

__ADS_1


"Jangan mimpi, aku tidak akan pernah menerima dia sebagai cucu atau anggota keluarga ini." ucap Liza menunjuk Daisy.


"Bagaimana kalau Tuan Abrar yang mempunyai anak laki-laki?" ucap Tio sambil melihat ke arah Nyonya Liza.


"Apa maksud kamu?" tanya Liza marah.


"Anda tau yang aku maksud" Ucap Tio yang berdiri dan menenangkan Dean yang menangis karena berada tempat baru dan mendengar Nyonya Liza yang marah.


"Aku tidak mempertimbangkan keadaan ini akan berpengaruh pada Dean" Batin Daisy yang sedih melihat Dean menangis, dan Daisy dengan cepat menggendong Dean.


"Bi, bisa tunjukkin kamarnya? Anak saya perlu istirahat."Daisy tak ingin berlama mendengar kemarahan Nyonya Liza. Daisy lalu mengikuti Imah.


"Apa kamu mau, tidur di kamarmu yang dulu? Nyonya Laura selalu menyuruh kita membersihkannya setiap hari. Berharap, kamu pasti akan berkunjung."ucap Imah yang hanya dibalas senyuman canggung oleh Daisy.


"Boleh Bik, oh yah. Kasih Kamar tamu buat Tio yah. Dia bukan suamiku. Dia itu, hmm.. Sahabatku." ucap Daisy tersenyum.


"Mana ada yang namanya sahabat antara laki-laki dan wanita. Kalo dia bukan suamimu, suamimu yang mana?" ucap Bik Imah berlalu setelah memukul lengan Daisy pelan, dan menatap Tio dengan tersenyum.


"Aku serius Bi. oh ya Bi, Ava mana?" Tanya Daisy yang belum melihat Ava.


"semalam, dia pergi ke klub lagi bareng Nyonya Laura. Bibi gak habis pikir, dia bisa berubah kayak gitu. Dulu sumpah-sumpah gak bakalan minum alkohol." Bi Imah berlalu sambil menggeleng dan menghela nafasnya.


"Kamu ikutin Bi Imah aja, dia bakalan nunjukin kamar buat kamu. Atau kamu mau kita sekamar?" tanya Daisy.


"ini kan, bukan pertama kali kita tidur satu kamar bersama Dean." ucap Daisy tersenyum menggoda Tio.


Tio menggeleng dan mengikuti Bi Imah untuk menunjukkan kamar.


Dean agak rewel untuk ditidurkan. Suasana baru itu, membuat Dean tak nyaman dan sulit tidur. "Maafin mama, mama gak mikirin Dean yang harus menghadapi situasi ini juga. Mama Pikir, selama mama kuat, semuanya baik-baik aja." batin Daisy yang menepuk tubuh Dean pelan agar Dean bisa tertidur.


"Daisyyy?" sebuah suara yang sudah tidak asing baginya.


"ssssssttt... " Daisy meletakkan telunjuknya dibibir menyuruh Ava jangan berisik.


"Tunggu sebentar, dia baru saja tidur." bisik Daisy menyuruh Ava menunggu di luar.


Ketika keluar dari kamar, Ava langsung memeluk Daisy.


"Ya ampuuunnn... Kamu sekarang sudah jadi mama mama..." ucap Ava yang memainkan perut Daisy seperti kebiasaannya dulu.


"dan kamu, woow.. Sudah banyak berubah." Daisy yang melihat Ava, rambutnya di cat warna biru burgundy, dan make up yang berantakan.


"hehehehe... Sorry, aku belum cuci muka. Ibu bangunin aku, katanya ada Daisy. Aku gak percaya dong." ucap Ava heboh.

__ADS_1


"Daisy, aku mau keluar dulu, mau beli sesuatu." ucap Tio yang hanya melihat Daisy dan tidak memperdulikan Ava.


"Oh.oke. Apa kamu tau sekitaran sini?"


"Itu masalah mudah. Nanti kalau aku kesasar, tinggal telepon kamu aja." Tio lalu beranjak pergi tanpa menyapa Ava.


Sementara Ava sibuk memperbaiki rambut dan wajahnya yang masih berantakan.


"iihh.. Cuek amat sih." ucap Ava sedikit kesal.


"Biasanya dia gak begitu." ucap Daisy menggaruk kepalanya tak enak pada Ava.


"ah. Dia itu, Tetanggaku. Biasanya Dia sangat ramah. Tapi belakangan ini, sia sangat swing mood. Selalu bersikap marah dan menyebalkan." ucap Daisy bercanda.


"Dan lebih baik, kamu bersihkan semua yang ada di wajahmu." ucap Daisy menyentuh wajah Ava yang masih penuh dengan makeup.


Ava langsung pergi.


Daisy ingin melihat mamanya, karena sudah lama dia tak melihat seseorang yang dia sebut mama.


Dulu, sebelum memiliki Naza dan Dean, dia berfikir akan bisa memahami mamanya, yang begitu cuek terhadap kehidupan putrinya sendiri. Tapi, dia tidak bisa mengerti.


Membayangkan Naza, tanpa mamanya dan bunda disisinya membuat dia sedih, karena itu dia tetap berusaha untuk menghubungi Naza meski itu hanya penghiburan melalui suara.


Apalagi setelah lahirnya Dean, sama sekali tidak bisa mengerti. Meski Begitu, mengingat mamanya yang saat itu masih berusia 15 tahun, mungkin memang sangat berbeda.


Daisy mengetuk pintu kamar Laura dengan pelan. Tak ada jawaban Daisy masuk.


Melihat Laura yang tidur dengan piyama tidur tipisnya, dengan penutup mata dan wajah yang sudah bersih.


Meski sejak kecil, sering melihat Laura dalam keadaan mabuk, ternyata Laura tidur dengan sangat rapi dan bersih.


"Siapa sih, pagi-pagi di kamarku? " Laura Membuka penutup matanya.


Memicingkan matanya untuk memfokuskan pengelihatannya.


"Daisy? Kamu beneran Daisy?" Laura langsung bangun dan memeluk Daisy dengan erat.


"Akhirnya kamu kembali." Laura menangis terharu. ..


...----------------...


...****************...

__ADS_1


__ADS_2