
"Daisy? Kamu beneran Daisy?" Laura langsung bangun dan memeluk Daisy dengan erat.
"Akhirnya kamu kembali." Laura menangis terharu.
"mama tau, kamu pasti kembali." ucap Laura lalu melihat Daisy.
"kamu sudah sangat dewasa sekarang."
Sementara Daisy merasa bingung dengan perasaannya sendiri. Apakah dia harus senang ataukah dia harus sedih, melihat bagaimana Laura menyambutnya.
Mengingat kembali ketika dia pertama kali di rumah itu, Laura memang adalah salah satu orang yang senang kehadirannya di rumah itu. Meskipun akhirnya Laura mengabaikan dan sibuk dengan dirinya sendiri.
Laura kembali memeluk Daisy, dan hanya dibalas tepukan pelan beberapa kali. Karena Daisy benar-benar merasa canggung.
Laura mungkin, bukan ibu yang perhatian dan penyayang seperti ibu lainnya, tapi dia tetaplah wanita yang sudah melahirkan Daisy dengan mempertaruhkan nyawanya.
Karena menjadi seorang ibu memang tidak mudah, apalagi untuk Laura yang hanya selisih 16 tahun dengan putrinya. Yang saat itu, masih ingin bebas.
"Ava cerita, kalau kamu nanyain pertunangan mama. Dan mama senang sekarang kamu ada di sini. Kamu pasti tau Tuan Daryn, kata Ava kamu pernah bekerja sebagai babysitter di rumahnya. Tapi, pasti dia belum tau kalau kamu itu anaknya mama. Dan dia pasti kaget kalau tau." ucap Laura tersenyum.
"Mama, aku ke kamarku dulu. Aku takut Dean bangun dan nyariin aku." ucap Daisy menghentikan Laura yang bicara terlalu banyak tentang mantan suaminya.
"siapa Dean?"
"Dean, dia anakku ma, dia 2 tahun lebih, sebentar lagi akan masuk 3 tahun."
"apaaaa? Kamu sudah punya baby? Kapan kamu nikah? Apa Ava tahu? Kenapa dia gak kasi tau mama?" Laura berteriak heboh kemudian mengambil jubah tidurnya dan menarik Daisy ke kamarnya untuk memperlihatkan Dean.
Daisy menutup matanya, berharap semuanya hanya mimpi. Karena Laura sangat heboh dengan semua berita Daisy.
Daisy tau, ternyata Ava tetap setia menjaga rahasianya.Tentang Daisy bekerja sebagai babysitter oun, baru-baru ini diketahui Daisy.
Meskipun, Laura sering menanyakannya. Kenyataan bahwa Daisy sudah menikah dan punya anak, masih tidak ada yang menduganya. Selain Ava dan Bi Imah.
"Ya Tuhan, dia ganteng banget. Sayang." ucap Laura gemas ingin segera mencubit pipi Dean.
Daisy mengajak Laura keluar. "Nanti, kalau dia sudah bangun aku akan ajak dia ketemu mama." ucap Daisy.
"Makanan sudah siap. Tuan Abrar mempersilahkan semuanya ke meja makan." ucap Imah kepada Daisy dan Laura yang kebetulan berada di depan kamar Daisy.
"oh, ya. Suamimu mana?" tanya Imah kepada Daisy.
"suami? suamimu juga datang?" ucap Laura heboh dan pergi ke kamarnya mengganti pakaian lebih dulu.
"dia bukan suamiku." ucap Daisy, tapi Laura sudah pergi.
__ADS_1
"bi, aku serius. Dia bukan suamiku. Aku sudah pisah sama suamiku. Dia cuma temanku."ucap Daisy menjelaskan pada Imah agak kesal.
Melihat Daisy yang kesal, Imah meminta maaf.
" Aku gak marah. Aku cuma pengen bi Imah tau. Ini bukan masalah perasaan saya. Tapi perasaan Tio." jelas Daisy.
"iya, maafkan bibi." ucap Imah lalu mengelus lengan Daisy. Dan kemudian mengajak Daisy untuk makan.
Di meja makan, dia melihat Tio sudah kembali.
Laura masih di kamarnya untuk merapikan diri.
"kamu udah balik? Emang tadi beli apa?"
"rahasia."Balas Tio dan tersenyum ke arah Daisy
"apa kalian akan tinggal di sini?" tanya Abrar yang baru tiba di meja makan.
Belum Daisy menjawab, Tio menjawabnya lebih dulu.
"kita akan kembali 3 hari setelah acara makan malam." ucap Tio, yang langsung dilihat Daisy.
"kenapa kalian tidak menetap di sini? Rumah ini akan lebih ramai kalau cicitku ada di sini."
"kita bisa tinggal lebih lama, kalau Tuan mengijinkannya." jawab Tio lagi, Daisy langsung menyikut Tio.
Daisy menahan amarahnya, tidak ingin merusak suasana. Meski belum bisa melupakan bagaimana dinginnya orang-orang di rumah ini pada Daisy. Dia tak ingin membalas mereka. Dia hanya ingin hidup dengan tenang.
"duduklah, kita akan makan." ucap Daisy menarik Tio untuk duduk.
"Semua sudah ada di sini? Perkenalkan. Aku Mamanya Daisy. Laura." ucap Laura mendekati Tio dan bersalam dengannya.
"Saya Tio. Ternyata anda jauh lebih muda dari yang saya bayangkan." ucap Tio Menjabat tangan Laura.
"Suamimu, pintar sekali menggoda. Kamu ada-ada saja. " ucap Laura tertawa.
"tapi, sepertinya wajahmu tidak asing." ucap Laura memperhatikan Tio.
Daisy ingin mengoreksi Laura kalau Tio bukan suaminya, tapi Tio menghentikannya.
"Apakah wajah saya seperti aktor?" ucap Tio ramah dan tersenyum.
Laura lalu pergi ke kursinya dan duduk disamping ayahnya.
"ayah percaya gak? Aku sudah jadi nenek-nenek" ucap Laura tertawa tak percaya.
__ADS_1
"Dan Dean, ya ampun.. Dia imut banget. Tapi gak mirip sama kalian berdua." ucap Laura bertanya.
"Dia lebih mirip mantan suamiku." ucap Daisy membuat Laura berhenti tertawa.
"mantan suami? lalu Tio suami barumu?" ucap Laura lumayan terkejut.
"Tapi, aku sudah menganggap Dean putraku sendiri." Tio menghentikan Daisy berbicara.
"Sudahlah, berhenti bicarakan yang tidak penting. Lebih baik kita makan." ucap Liza yang diam saja sejak tadi merasa kesal. Dan sejak tadi memperhatikan Tio.
"Wajahnya, ahh.. Tidak mungkin." batin Liza.
"Benar-benar.Kalian pasti sudah lapar. Kita Nikmati dulu, hidangannya. Nanti Kita akan lanjutkan obrolannya." ucap Abrar mulai makan dan diikuti yang lainnya.
Mereka menikmati makanan mereka tanpa bicara apapun.
"Tapi, kamu sangat mirip dengan seseorang, dan wajahmu tidak asing di kepalaku. Tapi aku gak ingat, siapa."ucap Laura memecah keheningan.
Ava yang mengantarkan pencuci mulut, memperhatikan wajah Tio, dan melihat Tuan Abrar.
" Bukankah mirip dengan Tuan Abrar? Lihat hidung dan matanya." ucap Ava.
Semua orang yang mendengar langsung memperhatikan wajah kedua orang itu. Kecuali Laura.
"Ava ada benarnya juga.apa mungkin?" batin Daisy. Dia jadi ingat kalau Tio adalah hasil selingkuhan ayahnya. Dia menggeleng, Cepat Daisy menghilangkan pikiran itu.
"Jangan ada-ada deh Va, Mereka tuh beda banget. Coba perhatikan baik-baik." ucap Laura tersenyum menatap Ava.
"mungkin saya salah lihat. Soalnya keduanya terlihat tampan." Ava melirik Tio.
Setelah makan, Abrar mengajak semuanya ke ruang keluarga dan mengobrol. Bagi Daisy ini adalah hal yang sangat canggung baginya.?Meski berusaha, dia belum bisa menerima dirinya sebagai anggota keluarga Abrar.
Karena itu, sekarang dia hanya dalam kamar, dengan alasan ingin menjaga Dean.
Saat Dean terbangun, Daisy ingin memperkenalkan Laura dan Dean. Tapi melihat Tuan Abrar, Nyonya Liza , Laura dan Tio. Mereka sedang mengobrol seperti sebuah keluarga, kecuali wajah Nyonya Liza yang masam melihat ke arah Tio.
"Iyooo." Teriak Dean membuat semua orang yang ada di ruangan itu beralih melihat Dean.
Tio lalu menggendong Dean.
Dan Tuan Abrar mendekati Tio dan Dean.
"Bagaimana kalau Dean menjadi cucu tuan dan bukan cicit?" tanya Tio.
"jaga ucapan kamu, Tio." teriak Laura.
__ADS_1
...****************...