
Tubuh Tio membeku mendengar itu, kemudian membuatnya kesal.
"apa kamu ingin menghentikan pernikahan mantan suamimu?" tanya Tio kesal.
"Iya, dan aku.. Aku hanya ingin menyelesaikan segala urusanku dengan Tuan Daryn." ucap Daisy.
"urusan apa yang belum selesai. Kamu sudah bercerai. Apa kamu ingin melanjutkan urusan cintamu? Ingat, dia pernah tak percaya padamu, dan sering menyakiti kamu. Tapi sekarang kamu ingin kembali. Begitu?"
"Bukan, bukan itu yang ingin ku selesaikan. Aku ingin meminta surat cerai ku." ucap Daisy berdalih.
"surat cerai? Kamu bisa memintanya melalui panggilan telepon, menyewa pengacara dan menyelesaikan segala urusan mu."
"Aku juga ingin bertemu dengan Ava dan juga Bik Imah, kamu ingat kan, aku pernah cerita tentang mereka?" ucap Daisy beralasan, meskipun memang itu salah satu tujuan dia juga ke rumah mamanya.
"Alasan, bagaimana kalau kamu bertemu dengan Daryn. Pasti segala rasa rindumu akan tertuntaskan." ucap Tio marah, yang tau bahwa salah satu alasan Daisy adalah bertemu dengan Daryn.
"Karena itu, aku minta kamu ikut." ucap Daisy dengan mata memohon.
"aku ikut? Apa pengaruh nya jika aku ikut. Bukankah selama ini, kamu menutup perasaanmu pada orang lain. Dan kamu tidak pernah menyukaiku. Segala yang aku lakukan untukmu, hanya sebatas yang harus dilakukan oleh seorang kenalan dan teman." ucap Tio lagi.
"Aku menyukaimu. Wanita mana yang tidak luluh ketika seorang pria merawat dirinya dan putranya seperti kamu merawat, menjagaku dan Dean."
"Tapi.... Akan selalu ada tapi." ucap Tio pelan dan menatap Daisy dengan lekat.
"Rasa cintaku, semuanya sudah kuberikan dan tinggalkan untuk Tuan Daryn. Aku tidak ingin terluka lagi gara-gara laki-laki lain."ucap Daisy menunduk.
" Tapi, kamu bisa melukai laki-laki lain? Apa itu yang kamu maksud?" Tio mendekatkan dirinya pada Daisy.
"aku, tidak pernah ingin menyakitimu. Kalau aku menerimamu dan masih mencintai laki-laki lain, maka sama saja artinya aku mengkhianati kamu."
"bukankah, harusnya kamu lebih berusaha untuk mencintai aku, menerimaku." Tio mengangkat dagu Daisy mencoba menciumnya. Dan Daisy memalingkan wajahnya.
"Cinta, bukanlah sesuatu yang bisa terjadi karena aku usahakan. Perasaanku padamu, tidak bisa lebih dari rasa sayang seorang teman." Daisy lalu bangun.
"beritahu aku, kalau kamu mau menemaniku." lanjut Daisy lalu masuk ke dalam rumahnya.
"Maafkan aku Tio. Aku benar-benar tidak bisa mencintai orang lain, selain Tuan Daryn." batin Daisy.
Tio langsung pergi ke rumah kacanya untuk menenangkan dirinya.
__ADS_1
Esok harinya, Daisy sama sekali tak melihat dan bertemu dengan Tio. Setiap kali Tio marah besar, terkadang sampai 2 atau 3 hari mereka tidak akan bertemu. Dan saat itu, butuh waktu lebih dari seminggu untuk Dean mau mendekat lagi dengan Tio.
Sementara itu, Nadia lagi-lagi ikut campur urusan pertunangan dan bisnis Daryn.
"ada apa lagi, apa yang membuat Mbak gak suka lagi?Sampai mana mbak ingin menguji kesabaranku?" tanya Daryn kesal.
"Laura, tidak dengan Laura."
Daryn memijat kepalanya, merasa jenuh dan pusing.
"3 tahun, aku pikir itu waktu yang cukup untuk benar-benar menikah lagi dengan orang lain. Seperti kamu melupakan Alea dan kemudian mencintai Daisy."
"Apa yang membuat Mbak, begitu ingin ikut campur urusan asmaraku. Apa waktu mbak begitu lenggang? Aku bukan anak kecil lagi, yang bisa mbak suruh-suruh dengan dalih melindungi ku. Aku sudah cukup tua untuk itu."
"Kamu gak akan tau, kapan orang-orang terdekat dan terpercaya mu mengkhianati kamu."
Nadia, dikhianati oleh laki-laki yang dia nikahi. Laki-laki dari kalangan bawah, dia bawa ke lingkungan mewahnya dan hidup serba ada, tapi malah mengkhianati Nadia.
Pacar pertamanya, memutuskan hubungan dengannya, ingin fokus pada sekolah malah menghamili gadis yang baru beberapa bulan dipacari.
Ketika dia masih kecil, teman kakeknya menculiknya dan meminta tebusan untuknya. Kekasih kakeknya yang juga saat itu dari kalangan bawah, menipu kakeknya.
Tapi, Laura adalah anak konglomerat, tapi dia juga membencinya.
"Suami yang berselingkuh, bukankah mbak tidak mencintainya? Mbak masih mencintai pacar pertama mbak. Yang aku lupa namanya. Mbak menikahi suami mbak yang sekarang karena marah padanya kan?" ucap Daryn.
"Aku memang tidak mencintainya. Tapi aku tetap setia padanya. Dia harusnya berterima kasih. Aku mengangkat derajat keluarganya dan menjadikan mereka keluarga kalangan atas." ucap Nadia marah.
"Lalu kenapa Mbak marah dan sewot lagi tentang beritaku dengan Laura. Dia dari kalangan atas."
"Dia, kekasih yang dihamili cinta pertamaku."
"apa? Dia belum punya anak. Aku memeriksa semuanya."
"Tidak, dia melahirkan. Nevan yang merawat putrinya. Sementara dia kembali bersekolah dan hidup normal. Yang pasti dia itu gadis yang punya banyak rumor yang tidak baik. Aku tidak ingin keluarga kita, terhubung dengan keluarga mereka."
"jadi, selama ini mbak selalu mengikuti Nevan? Apa itu yang mbak bilang tetap setia?" tanya Daryn.
"Aku berhenti mengikutinya, ketika dia sudah meninggal. Karena aku sangat sedih. Dan ketika ibunya Nevan meninggal. Aku sama sekali tidak tahu kabar anaknya, coba kamu cari tau baik-baik. Bisa saja Laura menyembunyikan putrinya."
__ADS_1
"Aki tidak begitu perduli, karena begitu kerjasama terjalin, semuanya juga akan selesai seperti berita-berita yang sebelumnya." ucap Daryn yang memang tidak perduli.
"Dan mbak, jika memang mbak sangat tidak menyukai suami mbak selingkuh. Ceraikan saja. Buat dia kembali ke tempatnya, bukankah mbak sangat ahli dengan hal itu.?"
"Ada Nivia, aku gak mau orang bilang, Nivia punya Ayah miskin." ucap Nadia sedih.
Daryn bangun dari tempat duduknya, dan mendekati Nadia.
"Aku tau, mbak sudah melewati banyak hal. Tapi, aku Daryn Leroy. Sekarang laki-laki dewasa. Aku bisa menyelesaikan masalahku. Kalau aku butuh bantuan, aku akan menghubungi Mbak. Jadi, percaya sama aku." Daryn lalu menggenggam tangan Nadia.
Daryn melihat sendiri, bagaimana terlukanya Nadia sejak kecil selalu dimanfaatkan oleh orang lain. Apalagi, setelah putus dengan cinta pertamanya, Nadia benar-benar hancur malah mendengar ketika mantannya itu menghamili kekasihnya.
"Maaf, Tuan. Ada Nyonya Laura ingin bertemu dengan Tuan." ucap Liam masuk ke dalam ruangan.
"Laura? Ada perlu apa dia kemari? Jangan sampai Mbak Nadia keceplosan dan merusak bisnis kita." batin Daryn.
"Baiklah, suruh dia tunggu sebentar." Daryn lalu menatap Nadia.
"Sudah puluhan tahun berlalu, berhenti menatap masa lalu mu. Fokus dengan Ayah Nivia. Dia yang harusnya menjadi fokus mbak Nadia." Daryn menatap sepupunya lekat, yang tegang ketika mendengar nama Laura.
Setelah Nadia keluar, Laura lalu masuk ke dalam ruang kerja Daryn.
"Siapa wanita tadi?" tanya Laura dengan tersenyum santai.
"Kakak sepupuku. Ada apa amda sampai jauh-jauh datang kemari?" Tanya Daryn tanpa basa-basi.
"Aku kebetulan ada urusan di kota ini. Dan sekaligus menyampaikan undangan Papaku. Meskipun pertunangan kita hanya untuk urusan bisnis, dia ingin mengundang kamu makan malam bersama."
"Saya akan menghadiri undangan Tuan Abrar." ucap Daryn.
"Terima kasih." ucap Laura tidak beranjak dari tempat duduknya dan menatap Daryn penuh senyum.
"Apa ada hal lain lagi yang ingin dibicarakan? Saya rasa kita sudah membicarakan semua detailnya secara tertulis."
Laura menggeleng, dan berdiri.
"Sampai jumpa saat makan malam." Laura melambai dan pergi.
...****************...
__ADS_1