Calon Ayah Tiri

Calon Ayah Tiri
Kelicikan Tio


__ADS_3

Melihat Laura dan Daisy yang tertawa. Tio langsung ikut tertawa.


"Wahh.. Apa aku ketinggalan sesuatu?" tanya Tio.


"sejak kapan kamu di situ?" tanya Laura ketus.


"sejak kamu memeluk Daisy. Gak usah khawatir. Tadi, terlihat sangat mengharukan." ejek Tio.


"Tio, kamu apa-apaan?" tanya Daisy kesal.


"Kenapa kamu kayak gini? Aku perlu bicara sama kamu. Aku akan menitipkan Dean pada Bi Imah dulu." lanjut Daisy.


Setelah menitipkan Dean, Daisy mengajak Tio untuk bicara di dalam kamarnya.


"Tio, aku sudah dengar semuanya tadi. Tapi, kenapa kamu gak kasi tau aku?" tanya Daisy.


Tio langsung duduk, di kursi tempat meja belajar Daisy dulu.


"Kamu juga baru kasi tau aku, kalo kamu cucu Tuan Abrar. Dan aku rasa , itu tidak penting. Bukankah Kita sama-sama orang yang tidak diakui oleh keluarga ini?" Tio lalu mendekat pada Daisy dan meraih kedua tangannya.


Tapi dengan cepat menarik tangannya. Jika itu, adalah Tio yang dulu, Daisy akan diam saja jika Tio menggenggam tangannya. Tapi, Tio yang kini di hadapannya adalah Tio yang merupakan pamannya sendiri.


Wajah Tio kelihatan marah dan kecewa.


"Kenapa?" tanya Tio.


"Apa kamu benar-benar gak tau alasannya. Kamu bukan lagi Tio yang aku kenal. Kamu itu pamanku.Mengetahui bahwa kamu menyukaiku. Membuat aku sedikit merasa aneh." ucap Daisy, tanpa sengaja melukai hati Tio.


Dengan cepat Tio, langsung mencengkram lengan Daisy, membuat Daisy kesakitan.


"Tatap aku" tapi Daisy malah memalingkan wajahnya.


"Tatap aku, Daisy. Kita saling mengenal sebelum kita mengetahui kalau kita punya hubungan lain. Lalu, bagaimana aku bisa merubah perasaanku pada kamu? Kamu Mungkin saja bisa melakukan itu dengan mudah, karena kamu tidak pernah mencintai aku. Hatimu, sudah kamu berikan pada Daryn seluruhnya."

__ADS_1


"Sakit, Tio." ucap Daisy berusaha melepas cengkraman Tio.


Melihat Daisy yang enggan menatapnya, membuat Tio gelap mata, dia sudah berusaha sabar selama ini, menemani dan menjaga Daisy dan juga Dean seperti anaknya sendiri.


"Jika aku tidak mendapatkan hatimu, maka dengan ragamu pun aku tak apa." ucap Tio lalu memaksakan dirinya untuk mencium Daisy.


Daisy dengan sekuat tenaga, menampar Tio.


"Sadar Tio. Kamu bukan laki-laki seperti ini." ucap Daisy yang merasa kehilangan seseorang yang selama ini dia kenal.


"Ini yang kusuka dari kamu. Meskipun kamu sudah tidak bersama dengan Mantan suamimu itu. Kamu Selalu menjaga dirimu." mendengar itu, Daisy mengerutkan alisnya.


"Dan kamu, sama sekali tidak mengenalku." ucap Tio yang lalu pergi keluar dari kamar Daisy dan pergi entah ke mana.


Daisy langsung terduduk lemas di atas tempat tidurnya. Dia menangis mengingat 3 tahun yang dia lalui dengan Tio. Tak pernah sekalipun dia memperlakukan Daisy seperti itu. Tio memang pernah marah padanya. Tapi tidak pernah separah itu.


"Daisy? " suara Imah memanggil Daisy karena Dean merasa bosan dan mencari ibunya. Dengan cepat menghapus air matanya, kemudian membuka pintu. Dengan cepat Daisy tersenyum dan menggendong Dean.


Daisy faham, Dean pasti merasa bosan. Jadi Dia memutuskan untuk mengajaknya berjalan di sekitar kediaman Danendra. Lingkungan sudah sangat besar untuk Dean dan Daisy berjalan-jalan.


Dean yang menarik tangannya untuk terus berjalan, menyadarkannya dari masa lalu.


Daisy tau, kini dia tidak mungkin bisa kembali ke desa itu bersama Tio. Dan dia juga sangat bingung ke mana dia harus pergi.


Mungkinkah Daryn akan mengajaknya kembali? Mungkinkah Daryn menerimanya kembali. Daily Sangat bingung dengan pikirannya sendiri, sampai tak sadar dia sudah berada di kandang belakang tempat beberapa hewan dipelihara.


"Mama, Iyoo." ucap Dean yang melihat Tio membawa seekor kelinci yang sangat imut ke tempat lebih sepi.


Daisy langsung mengajak Dean kembali dalam rumah. Meskipun Dean menangis ingin mengikuti Tio.


Saat makan malam tiba, semua orang duduk di meja makan. Tak terkecuali Tio.


Abrar tanpa malu, terus menggoda Dean yang merupakan cicitnya.

__ADS_1


Semua orang hanya bisa diam. Berkecamuk dengan pikirannya masing-masing.


"Setelah kedatangan Tuan Daryn, aku akan membawa Daisy dan Dean kembali ke tempat tinggal kami." ucap Tio memecah keheningan, dan Laura dan Daisy melototi Tio, tapi dia pura-pura tidak melihatnya.


"Kenapa kalian tidak pindah ke rumah ini?" ucap Abrar.


"Apa?" jawab Liza kaget.


"Apa Ayah sadar, apa masalah terbesar disini? Saat ini, anak Ayah, yang juga pamannya Daisy ingin membawa keponakannya sendiri." ucap Laura mengeja ucapannya.


"Aku, tidak akan kembali ke desa itu bersamamu. Danaku juga tidak akan tinggal disini." ucap Daisy tegas.


Semua mata tertuju pada Daisy.


"Aku sudah cukup diabaikan sebagai cucu oleh rumah ini. Aku tidak ingin putraku juga akan diabaikan. Mungkin sekarang Tuan Abrar senang karena mengira memiliki pengganti. Tapi, aku tak akan membiarkan putraku di didik dengan hanya memikirkan kekayaan dan kekuasaan."lanjut Daisy.


Abrar sangat ingin marah, tapi mengingat ada Dean di didekatnya dia mengurungkan niatnya.


"Dan Tio, bagaimana bisa kamu mengira aku akan pulang bersama kamu. Aku tidak mau." jawab Daisy ketus pada Tio.


"Lantas kamu akan kembali bersama mantan suamimu, setelah datang ke sini? "ucap Tio meninggikan nada suaranya.


" Tioo.. Hentikan.!! Kamu sudah berjanji tidak akan mengungkit hal itu." Daisy berteriak keras memukul meja dan menghadap Tio.


"Kamu sangat licik Tio. Aku bilang sama kamu, aku butuh waktu untuk menjelaskan semua ini pada mama dan yang lainnya."


"Kenapa, waktu apa yang kamu butuhkan? Menjelaskan? Tentang apa? Tentang kamu yang tidak bisa membiarkan mamamu dan mantan suamimu bertunangan meskipun kamu tau mereka hanya pura-pura?"


PLAk, sebuah tamparan mendarat di pipi Tio. Tapi Tio tidak memperdulikannya.


"Jawab dengan jujur Daisy, kamu ke sini, hanya ingin bertemu deng Daryn itu kan?" tanya Tio kesal.


Laura yang mendengar itu, langsung berdiri.

__ADS_1


"Apa maksudnya? Kamu ingin bertemu Daryn? Mantan suami? " ucap Laura mengerutkan alisnya.


...****************...


__ADS_2