
Melihat Naza dan Daisy sedang asyik melihat ikan. Daryn harus menerima telepon dari salah satu rekan bisnisnya.
Dan dia membiarkan Daisy dan Naza berkeliling lebih dulu. Setelah menelpon, Daryn menyusul Daisy dan Naza tapi malah melihat istrinya di gendong laki-laki lain.
Tangan kanannya, menyentuh punggung dan lengan Daisy, sementara tangan kirinya berada dan menggenggam paha Daisy.
Daryn langsung menghalang jalan mereka.
Ada apa ini? Kenapa kamu menggendong istriku seperti itu?" tanya Daryn kesal.
"Kaki Daisy terkilir, dan saya akan membawanya ke rumah sakit." Tito berusaha melewati Daryn.
"Turunkan dia, biar aku yang menggendongnya."ucap Daryn.
" Tapi, Tuan."
"Turunkan dia, dan aku yang akan menggendongnya. Dia adalah istriku dan dia adalah wanitaku. Jadi, aku yang akan mengurusnya." Bisik Daryn dengan kesal pada Tito.
Tito terpaksa menurunkan Daisy dengan pelan, dan Daisy dengan pincang berpindah ke pelukan Daryn.
"Dada, kita lagi ada di tempat umum. Kenapa gak biarin Tito yang gendong saya." Bisik Daisy, takut ada yang merekam mereka sekitar wilayah itu.
"Aku gak perduli, aku gak suka tangan laki-laki lain menyentuh tubuhmu." Daryn langsung menggendong Daisy.
Meski merasa bersalah pada Tito yang hanya ingin membantunya.
Daisy merasa ucapan Daryn sangat keren, dan dia merasa jatuh cinta lagi pada Daryn. Jarang sekali dia menunjukkan sisi cemburunya secara perkasa.
Daisy menggelengkan kepalanya, agar tidak memikirkan yang tidak-tidak dalam keadaan seperti ini.
Setelah membantu Daisy duduk di mobil, Daryn ikut naik mobil.
"Naza, kamu pulang ke rumah utama dulu yah. Papa antar Bunda ke rumah sakit dulu."
Dengan begitu, Tito dan Adi mengantar Naza. Daryn dan Liam mengantar Daisy ke rumah sakit.
"Apa yang kamu pikirkan ketika aku menggendong mu tadi?" bisik Daryn.
"Dada, sangat keren dan terlihat maco. Sama seperti waktu di ranjang." bisik Daisy ke telinga Daryn membuatnya merasa geli.
"Tapi kenapa kamu mau Tito tetap menggendong mu? Hemmm?"tanya Daryn agak kesal.
Daisy mengatupkan bibirnya, karena melihat Daryn cemburu sangat menyenangkan baginya. Dia menahan senyumnya.
" Ayo jawab." Daryn mulai menyentuh tubuh Daisy untuk menggelitiknya.
Daisy menggeliat. "Saya cuma takut, rahasia terbongkar." Daisy berbisik di telinga Daryn dan meniupnya. Membuat Daryn merasa geli.
"Eheeemm... " Liam memberitahukan kehadirannya di antara kedua orang yang sedang mabuk cinta itu.
__ADS_1
Setelah di obati di rumah sakit, Daryn membelikan Daisy kursi roda, yang sebenarnya sangat berlebihan untuk sakit yang di derita Daisy.
"Bagaimana, kalo hari ini kita pulang ke rumah utama dulu." tanya Daryn.
Daisy menggeleng dan memajukan bibirnya merajuk.
"Tadi aku dapat telepon, dan aku harus ke luar kota selama 3 hari. Dan gak bisa jaga kamu." muka Daryn terlihat sangat ragu meninggalkan istrinya.
Daisy faham, suaminya tetaplah pemimpin Leroy Corporation.
"Baiklah" Daisy tersenyum getir.
Meski dia sangat ingin di manja suaminya, tapi apalah boleh buat. Pekerjaan Daryn sangat penting. Banyak orang bergantung dengan keputusannya.
"Aku ingin, Tito di ganti dengan orang lain." Daryn tak suka Tito terus berada di sisi istrinya.
"Tapi, Daisy dan Naza sudah merasa nyaman dengan Tito. Dan dia bekerja sangat cekatan dan juga kuat. Kamu Lihat sendiri bagaimana dia menggendong Daisy." bantah Liam, karena dia akan kesusahan mencari pengganti yang langsung bekerja.
Para pengawal sudah punya waktu masing-masing. Sebagai sesama pekerja dia tak ingin mengganggu jadwal mereka.
"Terus, kamu pikir pengawal lain tidak sekuat dia?"
"Iya, tapi yang tau tentang pernikahan rahasiamu hanya beberapa pengawal. Aku tau, kamu merasa terganggu. Kamu harus percaya sama Daisy."
"Aku percaya. Aku percaya dengan Daisy. Di hatinya hanya ada aku seorang. Tapi, laki-laki itu yang tidak ku percaya."
"Baiklah, aku akan berusaha mencari penggantinya."
Liam lalu memeriksa jadwal pengawal. Tak ada yang bisa dia temukan untuk menukar Tito, dan yang tau tentang pernikahan rahasianya.
"Tidak ada, tidak ada yang bisa di tukar."Liam langsung menatap boss yang juga sahabatnya itu.
Daryn lalu menghela nafasnya secara kasar.
Mencari pengawal yang dipercaya sangat sulit. Mereka punya banyak pengawal, tapi untuk mempercayakan rahasianya, istri dan juga putrinya dia harus mencarinya dengan teliti.
Dan dia pun, merelakan Tito untuk tetap menjadi pengawal Daisy dan Naza.
Keesokan harinya, Daryn harus berangkat dan menginap meninjau lokasi baru untuk bisnisnya.
Daryn dengan sembunyi-sembunyi masuk ke kamar Daisy untuk pamit.
"Kamu akan baik-baik saja kan? " tanya Daryn, duduk di samping Daisy di atas tempat tidur. Daisy sudah menunggunya sejak tadi.
Daisy menghela nafas panjang,
"Hemmm... Gak usah khawatir. Besok kalau saya udah mendingan. Saya mau pulang ke apartemen aja."
"Iya, kalo sudah lebih baik. Aku setuju. Ingat. Kalau sudah baikan." Daryn mengecup pipi kanan dan kiri, kemudian kening dan bibir Daisy.
__ADS_1
Dan Daisy juga membalasnya dengan hal yang sama. Daisy ingin mengantar Daryn sampai mobilnya, selain ruang gerak yang terbatas, dia tak ingin banyak yang melihat.
Melepas kepergian suaminya hanya dari dalam kamar membuatnya merasa sedih.
Keesokan harinya, dia minta di antar ke apartemennya karena merasa sudah lebih baik dari sebelumnya .
Setelah mengantar Naza ke sekolah, Daisy tiba di apartemennya. Dia masih terpincang-pincang, tapi sudah bisa berjalan dan tidak terlalu merasa sakit.
Daisy duduk di ruang tengah dan menonton TV, hari ini suaminya pasti muncul di berita, setiap ada bisnis atau kerjasama bisnis yang dilakukan.
Daisy merasa beruntung, dia masih bisa merahasiakan pernikahannya selama hampir 2 tahun.
Dia masih sangat mencintai Daryn, dan perasaannya tidak akan pernah berubah.
Begitu melihat berita di TV tentang Daryn, Daisy langsung mematikannya dengan kesal. Dan berjalan ke kamarnya.
"Bunda, sudah mau tidur. Padahal Naza kan mau nemenin Bunda." ucap Naza mendekat pada Daisy.
"Karena Papa gak nginap di sini. Lebih baik, Naza tidur sama Bunda saja."
Naza yang senang, langsung menuju kamar orang tuanya tanpa menunggu Daisy.
Daisy menggeleng melihat tingkah putrinya itu.
Setalah malam kedua tanpa Daryn dan Keesokan paginya, Daisy terbangun dikarenakan suara dari dapur. Daisy melihat Naza masih di sampingnya.
Dengan cepat, Daisy mencari sesuatu untuk melindungi diri. Dia hanya bisa menemukan vas bunga.
Daisy berjalan perlahan, dan mengunci kamarnya dari luar dan menyimpan kuncinya agar penjahat itu tidak bisa menyakiti Naza.
Dia menahan nafasnya, dan jantungnya terasa sangat gugup. Tapi, dia malah melihat sosok yang tidak asing.
"Dada..... " Daisy langsung berlari memeluk dan bergelantung pada suaminya.
"Apa ini?" Daryn mengambil vas bunga di tangan Daisy yang mengenai punggungnya dan menyenggolnya.
"Saya kira kamu maling, dan cuma ini yang bisa saya gunakan untuk melindungi diri."
"Bagaimana bisa maling, bisa ke sini. Kamu gak tau kalau gedung ini, dilengkapi dengan keamanan paling canggih? Aku sengaja memilih tempat ini karena sangat aman."
Daisy hanya menggeleng, dan ingin pergi meletakkan bas bunga ke kamarnya.
Daryn menarik tubuh Daisy agar menempel padanya. "Apa kamu gak kangen sama aku.?" Daryn mendekatkan wajahnya pada Daisy namun Daisy memalingkan wajahnya.
"Dada harus jelaskan, siapa perempuan yang selalu mendampingi Dada dan tersenyum?" Daisy berjalan ke ruang tengah dan menyalakan TV, dia menayangkan siaran ulang yang dia tonton.
"Coba Dada lihat senyumnya. Dia Terlihat sangat ganjen." Daisy mencibir wanita yang ada di video.
"Sekarang, jelaskan. Dia selalu muncul di setiap bisnismu." Daisy memasang wajah marahnya.
__ADS_1
Tapi, Daryn hanya tersenyum mendengar pertanyaan Daisy. Membuat Daisy semakin marah.
...****************...