Calon Ayah Tiri

Calon Ayah Tiri
Go Public


__ADS_3

"Apakah benar, yang membunuh Nyonya Liza adalah anak hubungan gelap Tuan Abrar?" tanya seorang wartawan pada tiap orang yang berhenti di depan pagar.


Daisy langsung menutup jendela mobil.


"apa harus mereka menanyakan hal itu di pemakaman orang. Apa Mereka tak memiliki rasa simpatik?" ucap Daisy kesal.


"kamu benar, mereka memang tidak punya hati. Dan menanyakan sesuatu yang membuat orang sedih." ucap Daryn ikut kesal melihat istrinya kesal.


Daisy tersenyum mendengar ucapan Daryn, karena dia tau kalau Daryn lebih sering tidak memperdulikan apapun yang media katakan.


Mendekati pintu utama kediaman Danendra, Daisy tiba-tiba mengeluarkan air mata. Dia Menarik nafasnya dalam-dalam. Hari itu, harusnya dialah yang tertembak. Jadi, di dalam hatinya Daisy merasa kalau kematian Nyonya Liza adalah kesalahannya.


"suuussshhh... Susshhh.. " ucap Daryn memeluk Daisy dan berusaha menenangkannya.


"ini semua gara-gara aku." Daisy membenamkan wajahnya di dada Daryn dan menangis semakin kencang.


Lama mereka duduk di dalam mobil sampai Daisy benar-benar tenang.


Setelah turun dari mobil, sudah ada ramai yang berkunjung, bahkan saudara Nyonya Liza pun datang.

__ADS_1


"kenapa kita harus datang, ke pemakaman wanita ini?" tanya salah seorang wanita yang ternyata adalah adik Nyonya Liza dari istri pertama ayah Nyonya Liza.


"Andaikan bukan karna nama Abrar yang besar dan menunjukkan kita masih memiliki hubungan dengan mereka, kita tidak perlu repot-repot datang ke sini." ucap wanita lain yang lebih tua.


Daisy mendengar percakapan itu, karena begitu dia datang, dia duduk berdampingan dengan pihak keluarga.


"Aku dengan, umur putrinya 40 tahun lebih kan. Dan Belum menikah. Kasian sekali dia, anaknya jadi perawan tua, san mereka tidak akan memiliki keturunan untuk meneruskan keluarga Danendra." wanita-wanita itu tertawa cekikikan.


"apa kalian sadar, ini adalah pemakaman. Kalian malah membicarakan hal seperti itu." Daisy mulai kesal.


"heh, memangnya kamu siapa. Ikut campur saja."


"Danendra punya penerus, dan kalian jangan bicara sembarangan."bela Daisy,


"kalian, benar-benar tak punya rasa hormat." ucap Daisy kesal dan memancing mata mengarah padanya.


"Sayang, sudahlah. Mereka hanyalah orang-orang yang tidak punya pikiran. Mereka tidak akan mengerti apa yang kamu ucapkan." ucap Daryn memegang bahu Daisy melindunginya.


Daisy menatap kaget, karena Daryn memanggilnya sayang di depan umum.

__ADS_1


"bukankah anda Tuan Daryn?" tanya wanita itu kaget.


"anda benar, dan perkenalkan. Ini, istri saya Daisy." mereka lalu terdiam seribu bahasa dan pergi setelah berpura-pura tersenyum, karena sadar kalau sekarang, bisnis keluarga mereka sedang diambang kebangkrutan.


Dalam dunia bisnis, mereka tidak akan berani bersinggungan dengan Daryn. Bukan Karena Daryn kejam. Tapi Memang Daryn juga terkenal dendam dan tak mau berhubungan dengan orang-orang yang pernah menyinggungnya.


Mendengar Daryn, memperkenalkan Daisy. Semua orang berbisik menanyakan identitas Daisy. Daryn tidak ingin mengungkapkan identitas Daisy karena hal itu harus dibicarakan lebih dulu.


"Ayo kita masuk saja." Daryn lalu mendorong Daisy masuk ke kamarnya.


"Dada, apa Dada sudah gila? Kenapa Dada bicara seperti itu?"


"Kenapa? Aku hanya menyampaikan fakta, kamu adalah istriku." ucap Daryn cuek.


"Tapi mereka akan menanyakan siapa saya, dan mencari tau saya. Dan akhirnya akan tau. Aku Gak mau nama Dada dan juga mama tercoreng, apalagi setelah semua yang terjadi." ucap Daisy.


"aku tidak perduli, dan kenapa namaku harus tercoreng, hanya karena menikahi gadis yang aku cintai."


"aku, anak di luar nikah, dan mama melahirkan aku di usia belia. Belum lagi usia kita yang terpaut jauh akan dijadikan bahan gosip sama mereka."ucap Daisy tak ingin suami dan mamanya tercoreng.

__ADS_1


"mama juga gak perduli. Lebih Baik kita buka semuanya kepada media." ucap Laura dari depan pintu.


...****************...


__ADS_2