
"kalau begitu, saya gak akan menemui Tio." ucap Daisy lalu memeluk suaminya.
"kenapa?" tanya Daryn yang terkejut.
"perasaan Dada lebih penting. Tio, adalah orang yang akan pergi dari hidup kita. Tapi, Saya dan Dada akan bertemu setiap hari sampai seterusnya. Dan sudah tidak penting lagi, saya harus menemui Tio hanya untuk menanyakan hal yang tidak penting." Daisy memeluk Daryn dengan erat.
"bahkan di saat seperti ini, kamu masih memikirkan perasanku." batin Daryn yang membalas pelukan istrinya.
"eheemmm.. Berapa kali, harus aku bilang. Aku masih belum terbiasa melihat kalian berdua melakukan ini." Ucap Laura yang melewati pintu depan.
"maaf Ma." ucap Daisy yang langsung melepaskan pelukan Daryn.
"tuan Daryn, saya bisa minta nomor telpon Kakak sepupu anda Nadia?" tanya Laura sebelum kembali ke kamarnya. Sebenarnya Dia ingin memintanya sejak pertemuannya dengan Nadia di rumah sakit, tapi dia melupakannya karena semua kekacauan yang terjadi.
Setelah mendapatkan nomor Nadia, Laura kembali ke kamarnya. Berulang-ulang dia ragu untuk menekan tombol panggil. Dia penasaran, tapi juga takut menerima kenyataan kalau Nevan, benar-benar tidak pernah mencintainya.
Menarik nafas perlahan, dan menghembuskannya. Akhirnya dia memanggil nomor Nadia.
Laura meminta Nadia bertemu.
Akhirnya mereka memutuskan bertemu di sebuah kafe, yang tak jauh dari pusat kota Berlian, karena kebetulan Nadia sedang ada janji di dekat tempat itu.
Lama mereka duduk, tanpa bicara dan hanya minum minumannya.
__ADS_1
"jadi, apa yang ingin kamu bicarakan dengan aku?" tanya Nadia jengah.
"waktu kamu hamil besar, kamu masih menemui Nevan. Apa Itu anaknya Nevan?" Nadia mengerutkan alisnya mendengar pertanyaan Laura.
"memangnya, aku kamu. Yang memaksa laki-laki?" ucap Nadia, sekarang Laura yang mengerutkan alisnya.
"jadi, Nevan juga menceritakan hal itu ke kamu?"
Nadia lalu menghela kasar.
"aku akan jujur sama kamu. Nevan gak pernah nyalahin kamu atas kehamilan itu. Dia menyalahkan dirinya, sebagai laki-laki yang harusnya memiliki kendali pada hidupnya."
Laura lalu menarik nafasnya dalam, menatap Nadia.
"kamu belum jawab oertanyaanku."
"Nivia, bukan anak Nevan. Dia anakku dan suamiku. Aku menemui Nevan, karena jujur aku saat itu, masih mencintai dia. Tapi, dia mengusirku. Menyuruhku mencintai suamiku dan berhenti menemui dia. Dan saat itu, aku lihat kamu, dan sengaja memeluk Nevan." jelas Nadia.
Laura merasa sedikit lega.
"menurutmu, kenapa Nevan mau menerima aku sebagai pacarnya?" tanya Laura, dan Nadia menatapnya dengan tak percaya.
"kamu sudah gila? Tentu saja karena dia suka. Nevan gak akan pernah menerima seseorang yang tidak dia sukai. Kamu pikir berapa puluh orang yang nembak dia?" ucap Nadia tersenyum dan menggeleng lalu meneguk minumannya.
__ADS_1
"jadi, kamu ingin bertemu, hanya ingin membicarakan masa lalu?" tanya Nadia lalu menghela dan bangun dari tempat duduknya.
"terima kasih." ucap Laura dengan mata yang berkaca-kaca.
"sekarang aku jadi tau, kalau dia benar mencintai aku." ucap Laura tersenyum.
Karena bagi Laura, hal itulah yang menyiksanya selama ini, tak tahu apakah Nevan pernah atau benar mencintainya.
Dia merasa menyesal, karena pernah meragukan perasaan Nevan, padahal Liza pun sudah menjelaskan bagaimana Nevan rela melepasnya demi tak hidup miskin dan melarat seperti dirinya.
Sementara itu, Daryn mengajak Daisy dan Dean ke suatu tempat.
"kita mau ke mana?" tanya Daisy.
Daryn tak menjawab, dan hanya tersenyum. Dan Daisy dengan sabar menunggu.
"kita sampai." ucap Daryn menghentikan mobil di depan rumah tahanan.
Daisy menatap Daryn dengan terkejut.
"kenapa kita disini?" tanya Daisy.
...****************...
__ADS_1