
Akhirnya Daisy memutuskan untuk mengikuti Nivia ke rumah keluarganya di Kota Berlian.
Nivia mengajak Daisy ke salon menyediakan gaun untuk dia gunakan. Gaun yang sangat cantik untuk tubuh Daisy yang gemuk.
"Nivia, aku gak yakin menggunakan gaun ini adalah pilihan tepat." Daisy sangat tidak percaya diri, selama ini dia hanya mengenakan setelan celana panjang dan baju kaos di tutupi dengan jaket atau Hoodie untuk menutupi lemak yang selalu dihina Nyonya Liza.
Dia pikir, selama ini dia sudah bisa mencintai dirinya sendiri, tapi ras insecure dalam dirinya tidak semudah itu hilang.
"Kamu cantik, cantik banget. Percaya sama aku."
Nivia menarik Daisy ke depan cermin panjang.
"Kamu lihat, gadis itu sangat cantik sekali." Nivia berusaha meyakinkan Daisy bahwa dia benar-benar memukau dengan gaun yang dia gunakan.
"Ayo, kita berangkat. Oh yah, bukankah kamu bilang Ava juga datang bersama majikannya? Aku gak sabar ketemu sama dia."
Nivia mengenal Ava melalui telepon dan Daisy selalu membicarakannya.
Jujurnya, ada hal yang di takuti Daisy. Yaitu bertemu Laura. Di hatinya dia merasa bingung tentang apa yang akan dia lakukan jika bertemu dengan Laura di acara keluarga Nivia.
"Apa kamu sudah menghubungi Ava?" tanya Nivia.
"Sudah, majikannya masih bersiap-siap." ucap Daisy.
Nivia dan Daisy tiba lebih dulu, halaman rumah mewah itu sangat besar dan luas. Tamannya berbentuk labirin yang tinggi bak istana.
"Waaahhh, tempat ini di sewa?" tanya Daisy. Dia tau Denandra sangat kaya, tapi Leroy berada di tingkatan berbeda.
"Bukan, ini milik keluarga Leroy. Karena ayah om Daryn yang tertua, bisa di bilang ini milik om Daryn." setelah itu Nivia menarik Daisy untuk masuk.
"Kamu sudah bawa jamnya kan?"
"Astagaaaa.. Ada di mobil. Kamu tunggu di sini. Aku akan telpon supirku untuk mengantarnya ke sini." Nivia keluar dari ruangan mewah itu meninggalkan Daisy berdiri dekat pintu masuk sendirian.
Setiap orang yang lewat melihat ke arahnya.
Merasa tertekan, Daisy memutuskan menyusul Nivia keluar.
Nivia tak terlihat, karena dia berada di jalan masuk utama, dia memutuskan untuk pergi ke taman labirin yang terlihat agak samar.
Dia berdiri di taman itu sendirian. Dia menghubungi Nivia tapi tak di jawab.
"Dan di sini akhirnya sendiri." batin Daisy.
Di dekat taman itu, ada sebuah bangku taman, dan dia duduk di sana.
__ADS_1
"Hai... Kamu sendirian? " seorang laki-laki menyapanya.
"Devan? Kamu juga datang? " Daisy lalu berdiri.
"Kamu terlihat berbeda hari ini."
"Emm... iya. Sepertinya ini ... Hemm... " Daisy menjawab ragu, melihat dirinya sendiri.
"Tidak,bukan aneh. Maksudku kamu terlihat berbeda, lebih cantik dari biasanya."
"Apa kamu mabuk?" Daisy melihat gelas di tangan Devan.
"Ahh.. Tidak. Ini baru gelas ketiga ku."Lalu meneguk minumannya.
Daisy sangat membenci seseorang yang minum minuman keras. Dia teringat mamanya yang selalu datang ke rumah dalam keadaan mabuk dan pelukan laki-laki lain.
" Lebih baik, aku masuk ke dalam." Daisy berusaha menghindari Devan.
Ketika akan berjalan pergi, Devan menarik pergelangan tangan Daisy dengan keras.
"Dengar, apa yang begitu istimewa darimu? Hah?" Devan mabuk, dan terlihat kesal pada Daisy.
"Apa maksudmu? " Daisy masih berusaha menarik tangannya dari Devan.
"Lepasin tanganku Devan." Daisy menariknya dengan keras, begitu juga Devan menariknya lebih keras.
"Jangan pura-pura bodoh. Kamu tau aku suka denganmu. Dengan alasan kamu tak ingin laki-laki kaya. Tapi di sini kamu dengan pakaian seperti ini, di lingkungan ini. Apa kamu ingin menggoda laki-laki di sini?" Devan menarik Daisy mendekat padanya.
"Devan, stop." Daisy berusaha mendorong Devan, meski tubuhnya gemuk, tapi tubuh Devan termasuk besar dan berotot.
Daisy ingin berteriak, tapi dia tak ingin, mengundang perhatian orang-orang padanya.
Dia kesusahan beberapa saat, sampai sebuah suara membuat Devan melonggarkan genggamannya.
"Lepaskan dia, sebelum aku menghajar mu."
Suara Tuan Daryn terdengar sangat mengancam.
"Om Daryn, om tau kenapa perempuan ini pura-pura tak menyukai orang kaya? Agar kita bisa semakin terpikat padanya." Devan menarik tangan Daisy yang membuatnya kesakitan.
"Kamu gila, lepaskan tanganku." Lalu tangan kirinya menampar wajah Devan dengan keras.
Devan yang sedang mabuk, semakin marah dan mendorong tubuh Daisy sampai jatuh terlentang di tanah. Gaunnya Sampai tersingkap. Devan langsung naik ke atas tubuh Daisy.
Daryn yang melihatnya, menendang lengan Devan dan tubuhnya jatuh ke samping, dan lanjut menarik kerah baju Devan lalu menghajar wajahnya berkali-kali.
Daisy yang masih terkejut, dengan cepat bangun dan melerai Daryn. Tapi Daryn yang sudah marah, tak memperdulikan Daisy.
__ADS_1
Sementara Devan, wajahnya sudah babak belur tak berbentuk.
Tak ada yang mendengar pertengkaran itu, taman yang lumayan jauh dan kebisingan di ruang acara.
Daisy tak tahu harus melakukan apa. Dia memeluk Daryn dari belakang dan menariknya sepenuh tenaga. Karena tubuh Daryn lebih nesar dan berotot di banding Devan.
"Tuan Daryn, cukup Tuan. Hentikan." Daisy yang terkejut dan takut, menangis sambil memeluk Daryn.
"Saya mohon hentikan Tuan." Daisy masih menangis.
Akhirnya Daryn berhenti, dan melepaskan tubuh Devan.
Perlahan Daryn berjalan mundur, Daisy masih memeluknya. Entah kenapa Daryn menyukai rasa pelukan Daisy, dia merasa hangat dan lebih tenang.
Dia terdiam beberapa saat, membiarkan Daisy memeluknya. Sementara Daisy masih memeluk Daryn sambil menutup matanya. Setelah beberapa lama tak merasakan gerakan Daryn, Daisy membuka matanya, lalu dengan cepat melepaskan pelukannya.
"Kamu tidak apa-apa? " tanya Daryn masih membelakangi Daisy.
"Ya Tuan, saya baik-baik saja." Mendengar jawaban Daisy, Daryn lalu berbalik melihatnya.
Baju Daisy sobek di bagian bahunya. Pergelangan Tangannya memar dan merah.
Daryn yang melihat itu, menyentuh tangan Daisy dan melihatnya lebih dekat dengan pelan.
"Ini akan membiru besok." Daisy pun melihat tangan Daryn yang berdarah.
"Tangan Tuan berdarah." Daisy meraih tas kecil yang tergeletak di tanah, dan mengeluarkan tisu dan mengelap darah dari tinju Daryn.
Sementara Devan, masih pingsan.
Daryn lalu menelpon Liam sekretarisnya, sambil menunggu, mereka duduk di bangku taman.
Daryn membuka dasinya, dan mengikatnya di lengan Daisy untuk menutupi memarnya.
"Terimakasih" ucap Daisy pelan.
"untuk bajumu, kamu bisa menutupinya dengan jaket mu." melirik jaket yang ia bawa, tergeletak di sandaran bangku.
Daisy hanya mengangguk.
"Kamu ke sini dengan siapa? Apa kamu sudah tak bekerja sebagai pelayan? " Daryn bertanya sambil melihat pakaian Daisy.
"Saya bersama Nivia." Daisy menjawabnya meskipun heran bagaimana Daryn masih mengingatnya.
"Nivia? Nivia Anggara?"
Daisy mengangguk lagi. "Teman sekamar di asrama. Dan saya minta maaf, saya baru bisa mengembalikan jam Tuan hari ini. Saya menitipkannya pada Nivia."
__ADS_1
"Tuan, apa yang terjadi di sini? "
...****************...