
Daryn yang melihat air didekat tempat tidur masih ada, mengikuti Daisy ke dapur. Dan melihat Daisy minum obat.
"itu obat apa?" suara Daryn mengejutkan Daisy dan membuat dia menumpahkan obatnya.
"ini... Ini.... Bukan obat. Ini vitamin." jawab Daisy gugup.
Daryn mengerutkan dahinya dan membantu Daisy untuk memungut obatnya.
"Biarkan saya saja, Dada tunggu di dalam kamar." Gida Daisy memainkan matanya.
"Lebih baik, kita ke kamar berdua." Daryn lalu menggendong Daisy.
Daisy menutup mulutnya, takut suaranya membangunkan Naza.
Keesokan paginya, karena Naza yang libur sekolah akhirnya mereka menuju ke rumah utama bersamaan.
Sesampainya di sana, Naza langsung berlari ke kamar Nando dan bermain dengannya.
"Lihat, Naza sepertinya sangat ingin mempunyai adik." bisik Daryn pada Daisy ketika turun dari mobil.
Daryn melihat keadaan Liam yang berantakan karena malam, adalah gilirannya untuk menjaga bayi mereka yang masih sering minta susu di malam hari.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Daryn.
"Terimakasih sudah bertanya. Sekarang aku hanya ingin tidur tanpa gangguan." Liam langsung kembali ke kamarnya dan tidur.
Sementara itu, Daryn dan Daisy pergi ke dokter untuk memeriksa keadaan mereka.
Mereka berdua baik-baik saja.
"Mungkin, memang kita belum di takdirkan memiliki bayi dulu." Ucap Daisy menepuk tangan Daryn.
Sesampainya di mobil.
"Kalau kita baik-baik saja. Kenapa kita belum mempunyai bayi? Usiaku tidak lagi muda. Kamu baru 25 tahun, dan aku 37.“ucap Daryn sedih.
Daisy langsung memeluk Daryn. " Maafkan saya, jika sudah waktunya sudah tepat bagi saya. Semoga kita bisa memiliki anak." batin Daisy.
Daisy hanya memeluk Daryn tanpa bicara apapun. Daryn merasa mungkin masalah ada padanya. Karena menikah dengan Alea pun, dia tidak memiliki anak. Dan sekarang pun, dia juga belum di karuniai anak.
__ADS_1
Daryn, bukan tidak menganggap kehadiran Naza, tentu saja dia sangat mencintai Naza. Dia Ingin memiliki anak lagi, bukan berarti dia tidak menganggap kehadiran Naza.
Daryn merasa aneh dengan obat yang diminum Daisy. Dia meminumnya setiap hari. Vitamin yang dia minum, tersembunyi di bagian paling dalam di lemari. Dan Daisy selalu meminumnya sembunyi-sembunyi.
Karena penasaran, Daryn pun menyuruh Liam untuk mencari tau obat apa yang di konsumsi istrinya. Dia takut Daisy meminum obat karena suatu penyakit yang tidak ingin dia beritahukan.
Daryn sangat terkejut ketika mengetahui obat apa itu.
"Eeee... Ini. Sebenarnya obat kontrasepsi." ucap Liam dengan ragu memberi tahu Daryn.
"Apa? Obat kontrasepsi? Jangan bercanda. Daisy tidak mungkin minum itu. Kamu tau, bagaimana dia menatap Nando dan sangat ingin punya anak." Daryn benar-benar tidak tau, alasan Daisy minum obat kontrasepsi agar dia tidak hamil.
"Aku rasa, kamu bisa tanyakan langsung padanya. Dan aku yakin, dia pasti punya alasannya sendiri." Liam khawatir Daryn akan marah pada Daisy.
Bagi Liam, Daryn adalah sahabat dan saudara yang paling dia hormati. Awalnya, hanya Dewi yang akan di adopsi oleh keluarga Leroy, tapi Daryn memaksa agar Liam ikut di adopsi.
Bahkan ketika sekolah di sekolah elit setelah diadopsi, mereka berdua selalu saling melindungi. Dan mereka selalu melindungi Dewi.
Karena itu, Liam sangat berterimakasih atas hidupnya saat ini pada Daryn. Dan dia tidak ingin Daryn kecewa. Tapi, lebih dari apapun, Daryn tidak ingin dia ikut campur antara Daryn dan Daisy, karena itu, Liam menahan diri untuk langsung bertanya pada Daisy.
Sejak awal, Liam tidak terlalu setuju dengan pernikahan Daryn, tapi melihat Daryn bahagia dan Dewi juga mendukungnya maka dia juga mendukungnya.
"Kalau begitu, aku keluar dulu." ucap Liam.
Ketika pulang ke apartemen, seperti biasa Daisy dan Naza akan menyambut Daryn dengan kecupan. Tapi, hari itu Daryn langsung masuk ke kamarnya.
"Naza tunggu di meja makan yah. Mungkin Papa lagi gak enak badan." Daisy langsung mengikuti Daryn ke kamar.
Daryn tak ingin membicarakan apapun dengan Daisy saat ini.
Dalam pikiran berkecamuk, kemungkinan apa yang membuat Daisy meminum obat itu dan tak ingin punya anak.
"Apakah, dia belum cukup mencintaiku untuk punya anak? Apakah dia belum percaya padaku? Apakah dia ingin meninggalkanku?" Batin Daryn, menggeleng sendiri sambil membuka pakaiannya.
"Dada, kamu kenapa?" Daisy mengintip wajah Daryn mencoba mangajak nya bercanda.
Melihat wajah Daisy, dan apa yang dia lakukan selama ini, kesabarannya dan dia yang selalu mecoba mengerti keadaan Daryn. Apa yang dia pikirkan tadi, tidak ada yang masuk akal. Meski Daisy jauh lebih muda dibanding Daryn, tapi Daisy selalu bersikap lebih dewasa.
"Apa mungkin, dia sudah bosan padaku. Karena aku cinta pertamanya, dan laki-laki pertamanya?" Daryn kembali menggeleng.
__ADS_1
Karena tak di respon. Daisy terlihat sedikit kecewa. Meski begitu, dia terus mencoba merayu Daryn.
"Apa ada sesuatu terjadi di kantor?"Lanjut Daisy.
Tapi Daryn malah lanjut ke tempat tidur sambil terus berfikir keras.
" Sabar Daisy, mungkin suamimu kelelahan."batin Daisy mencoba mengerti tingkah suaminya.
"Kalau begitu Dada istirahat dulu. Saya akan menemani Naza makan malam."
Naza bersantai di ruang keluarga. Sementara Daisy, masuk ke kamarnya melihat Daryn.
Melihat Daryn yang tertidur. Daisy memutuskan untuk menemani Naza. Dan Naza tidur ke kamarnya.
Daisy masuk kamar dan tidur di samping Daryn.
Sambil melihat wajah Daryn dari samping Daisy tersenyum.
"Kenapa, suamiku yang tampan ini, sampai rumah tidak bicara sedikitpun. Apakah dia sakit? " ucap Daisy berbisik pada dirinya.
Daisy menyentuh kening Daryn, dan suhu tubuhnya normal-normal saja.
Perlahan dia menyentuh alis, bibir dan kemudian pipi Daryn.
"Aku sangat ingin, punya putra yang tampan seperti suamiku. Tapi, aku akan menunggu.
Dan sampai saat itu, aku harap kamu tetap mencintaiku."
Mendengar itu, Daryn yang sejak tadi hanya berpura-pura tidur langsung menarik pergelangan tangan Daisy dan menggenggamnya dengan keras, membuat Daisy sangat terkejut dan agak berteriak.
"Kamu bilang, ingin punya anak sepertiku? Kamu bilang kamu mencintaiku? Tapi, kenapa? Kenapa? " Daryn yang marah berusaha menahan suaranya agar Naza tidak terbangun.
Daisy yang terkejut, sama sekali tidak mengerti apa maksud Daryn.
"Dada, Dada kenapa?? Aku takut." Air mata Daisy mengalir tanpa dia sadari. Dia jadi teringat kejadian malam itu.
"Dada, lepasin. Tanganku kesakitan." Melihat wajah Daisy yang kesakitan, Daryn langsung melepaskan tangan Daisy. Dan langsung duduk menghadap Daisy dan membuat Daisy ikut duduk dan berhadapan.
"Dada, kamu kenapa?" ucap Daisy sambil menangis dan melihat Daryn dengan kaget.
__ADS_1
"Jika kamu mencintaiku, jika kamu ingin punya anak dariku, lantas kenapa kamu minum obat untuk menunda kehamilanmu? Kenapa?? Jawab Daisy." Daryn mencengkram kedua lengan Daisy dan menggoyangkan tubuhnya.
...****************...