
"kenapa Dada ngikutin saya?" ucap Daisy yang melihat Daryn mengikutinya.
"Kenapa? Aku akan menginap disini. Dan pastinya aku akan tidur di kamar istriku. Dan aku juga, ingin melihat wajah putraku." Daryn menggendong Dean ke pelukannya.
"Hati-hati dia bisa terbangun." Daisy membiarkan Daryn menggendong putranya.
Daisy tak berhenti tersenyum melihat Daryn menatap putranya dengan dalam. Tanpa sadar, air matanya mengalir. Hal pertama yang pernah dia bayangkan ketika Dean lahir. Meski terlambat, Daisy merasa bahagia.
"Sudah, letakkan di si sini." Daisy menepuk kasur tempat yang dia siapkan untuk Dean.
"Kenapa kamu tidak letakkan Dean di pinggir. Aku ingin tidur memelukmu." ucap Daryn memeluk Daisy dari belakang.
"Hemm... Baiklah." Daisy menggeser Dean ke bagian pinggir , tak lupa menaikkan penghalang yang memang sudah Daisy siapkan, agar Dean tidak terjatuh.
Setelah berganti pakaian yang lebih nyaman. Daisy langsung tidur dan Daryn juga membuka jasnya.
"Apa tidak membawa pakaian yang lain?" tanya Daisy.
"Aku tidak tau, kita akan menginap disini. Aku pikir akan bisa langsung membawamu pulang." Bisik Daryn yang sudah berbaring di belakang Daisy karena Daisy menghadap Dean.
"Aku sungguh merindukan aroma ini." Daryn memeluk Daisy dari belakang dan mencium aroma tubuhnya. Dan mereka pun tertidur.
Sampai saat Tio membuka pintu kamarnya, membuat Daryn bangun dan berdiri.
Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Daryn dan yang membuat Daisy terbangun kaget.
Melihat horor di hadapannya. Daryn di pukul dengan kayu balok oleh Tio.
"aaaaarrkkk, Dadaaa...." teriak Daisy menutup mulutnya.
Dean terbangun menangis karena teriakan Daisy.
__ADS_1
"ssssuuusshhhh... Ssussshhh.... " Daisy membuai Dean agar tertidur lagi, meski rasanya nafasnya tercekat menahan tangisnya. Dean kembali tertidur. Meskipun dia sangat ketakutan melihat Daryn yang sedang terluka dan Tio yang masih berdiri menatap ketiga orang di dalam kamar itu.
Tio mengulurkan tangannya. Daisy
menggeleng. "Kamu bukan Tio." bisik Daisy.
Tio memegang kayu itu dengan erat.
"Apa harus aku membunuhnya saja?" ucap Tio menunjuk ke arah Daryn yang sudah tergeletak lemah.
Daisy menelan liurnya, yang terasa kering dalam mulutnya. Nafasnya menjadi tak beraturan.
Tio kembali mengulurkan tangannya dan Daisy terpaksa menerimanya.
"Bawa juga Dean." ucap Tio.
"nggak. Jangan Dean. Kamu hanya bisa bawa aku. Biarkan Dean bersama papanya." ucap Daisy tegas meskipun ketakutan. Karena Dia tidak akan pernah membiarkan Dean pergi dengan Tio yang sedang ada di hadapannya ini.
"Kamu tidak bisa menolak ku."ucap Tio kesal.
"Panggilkan dokter lebih dulu." ucap Daisy dengan wajah yang menangis menatap Daryn yang darahnya semakin banyak, menunduk dan menutup luka robek di kepala Daryn dengan tangannya.
"Dia tidak akan mati semudah itu." ucap Tio lalu menarik Daisy dengan kasar, membuat di jatuh berlutut.
Tio tak perduli, lalu menarik Daisy keluar dari kamar itu. Tapi mata Daisy masih melihat Daryn, melihat tubuhnya yang masih bergerak dan bernafas.
"Kalau sampai Tuan Daryn kenapa-kenapa. Aku sumpah, akan buat kamu membayar ini semua." ucap Daisy mengancam Tio.
Tio berhenti, lalu tersenyum ke arah Daisy.
"apa lebih baik,. Memusnahkan nya saja, agar kamu tau. Kalau aku tidak main-main? Supaya kita bisa membawa Dean pergi dari sini bersamaan?" Tio hendak kembali ke kamar Daisy, tapi Daisy memeluk Tio.
__ADS_1
"Maaf, maafin aku. Kita lebih baik cepat pergi dari sini" ucap Daisy masih memeluk Tio.
Tio membalikkan tubuhnya dan sekarang Tio memeluk Daisy. "Kamu jangan terlalu sedih, karena aku akan membiarkan Dean menemani papanya. Kita akan melahirkan anak-anak lain untuk. Menemani kita nanti." ucap Tio.
Tubuh Daisy bergetar dingin, tak percaya dengan apa yang dia dengar.
"emmm... " jawab Daisy.
"Aku tau, kamu pasti akan mencintaiku lebih dari mencintai Si Daryn itu." ucap Tio, yang benar-benar seperti orang gila.
"Tio, apa yang sudah kamu lakuin?" Tito yang tiba-tiba datang dan melihat kekacauan di depannya.
Ketika Tio hendak berjalan ke arah Tito, ingin memukulnya , Daisy dengan cepat menarik Tio.
"Ayo kita pergi. kita gak bisa lama-lama di sini. Tapi, bisa aku bicara dengan kak Tito?" ucap Daisy memohon.
Tio membiarkan Daisy mendekat pada Tio dengan jarak lima langkah.
"Tolong selamatkan Tuan Daryn dan temani Dean." ucap Daisy tak bersuara hanya menggerakkan bibirnya dengan air mata mengalir dan rasa khawatir yang mendalam. Tito mengangguk dan Daisy membawa Tio keluar dari rumah itu.
Semakin cepat mereka pergi, semakin cepat Daryn bisa di bawa ke rumah sakit.
Dan Tio membawa Daisy dengan cepat dengan mobil.
"minum ini." ucap Tio menyodorkan minuman pada Daisy.
"Kamu perlu tidur, karena perjalanan kita akan sangat panjang." lanjut Tio yang melihat Daisy ragu meminumnya.
"kamu, gak membunuh para pengawal itu kan?" tanya Daisy dengan ketakutan.
"mungkin, dan aku tidak perduli. Cepat minum ini.!!! Atau kamu ingin kita kembali??!!!" bentak Tio.
__ADS_1
Dengan cepat Daisy lalu meminum minuman itu. Dan akhirnya tertidur.
...****************...