
"Apa kamu sedang menyukai seseorang?" tanya Tito, membuat Daisy kembali membeku.
Sejak awal, Daisy selalu memberi batasan obrolan mereka. Setiap Tito ingin membicarakan tentang perasaan dan hubungan. Daisy menghindari pembicaraan itu.
Karena itu, pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut Tito.
Melihat reaksi Daisy yang tak menjawabnya. Dia semakin yakin, selain kuliah dan hal-hal yang ingin dia lakukan, Daisy sedang menyukai seseorang.
Daisy langsung meninggalkan Tito dan menunggu Naza di depan kelas, sementara Tito langsung menunggu di mobil.
"Kenapa wajahmu murung begitu?" Tanya supir di sampingnya.
"Gak ada apa-apa." jawab Tito getir.
"Sejak aku kasih nomornya Daisy, kamu gak pernah sms atau chat dia?" tanya supir itu lagi.
Tito menggeleng, "aku hanya merasa kurang sopan menyapanya lewat chat, sementara kita bekerja di tempat yang sama."
Supir itu menggeleng dan menghela nafasnya.
"Tapi, apa kamu tau, laki-laki yang disukai Daisy" Tito melihat supir itu dengan dalam, karena Tito sangat penasaran, laki-laki seperti apa yang sudah merebut hati Daisy.
Supir itu, terlihat berpikir, tentang siapa kemungkinan laki-laki yang disukai Daisy. Tapi dia menggeleng tak memikirkan siapapun yang bekerja dengan mereka.
"Mungkin saja teman kuliahnya." jawab supir itu juga tak tahu.
"Aaa. Mungkin saja. Tapi aku sangat..." ucapan Tito terhenti ketika ada suara pintu mobil terbuka.
Dalam perjalanan pulang Tito dan Daisy benar-benar . Merasa canggung.
Begitu turun dari mobil. Naza langsung berlari ke arah papanya dan memeluknya. Daryn menyambutnya dengan bahagia. Daisy tersenyum melihatnya.
Sementara itu, Tito memperhatikan Daisy dan mengetahui siapa orang yang sedang menempati hati Daisy saat ini.
Melihat Daisy yang tersenyum, Daryn pun tersenyum ke arah Daisy.
"Kalau begitu aku pergi." ucap Tito mengalihkan pandangan Daisy.
"Iya Kak, aku cuma mau kita... "
"Aku akan senang kalau kita tetap mengobrol sebagai teman." ucap Tito memotong ucapan Daisy karena dia takut Daisy akan benar-benar membatasi dirinya.
Daisy tersenyum tulus. "Aku juga senang." Daisy tersenyum dan mengajak Tito bersalaman.
__ADS_1
"Tanteee... " Naza memanggil Daisy, dan Daisy meninggalkan Tito untuk menemani Daisy mandi dan siap-siap untuk istirahat sebelum makan malam.
"Apa yang kalian bicarakan? " Tanya Daryn yang masih menggendong Naza
"Hanya obrolan anak muda." jawab Daisy polos sambil tersenyum.
Daryn menurunkan Naza dari gendongannya dan Naza menggandeng tangan Daisy menuju kamarnya.
Setelah makan malam, Naza dan Daisy bermain sebentar. Setelah itu Daisy mengantarkan Naza ke kamarnya untuk tidur.
Setelah Naza tertidur, Daisy hendak keluar dari kamar. Tapi, tiba-tiba pintu kamar terbuka dan mengenai dahi Daisy.
"Aaakhh" Daisy berusaha menahan suaranya. Karena dahinya terbentur cukup keras, membuatnya mundur beberapa langkah dan dengan cepat Daryn memeluk tubuh Daisy dengan cepat agar tak terjatuh.
"Maaf" bisik Daryn.
Sambil menggosok dahinya, dia menegakkan tubuhnya dan berjalan keluar. Daryn Mengikutinya dengan khawatir.
"Mana, biar aku lihat." ucap Daryn menahan tangan Daisy yang menggosok dahinya.
"ikh... Saya Gak apa-apa Tuan. Memang sakit. Tapi, nanti akan baik-baik saja."
Daryn menunduk sedikit, memperhatikan kening Daisy, memang tak parah, tapi akan membiru besok.
"Apa yang kamu bayangkan? Dasar laki-laki mesum." Bathin Daryn.
Daisy membuka sebelah matanya, melihat wajah Daryn. Matanya, alisnya, bibirnya. Dia benar-benar laki-laki yang tampan. Jantung Daisy berdegup kencang. Dia Menahan nafasnya.
"Aku akan mengambilkan obat oles." Daryn menarik dirinya.
Daisy pun menghela nafasnya dengan perlahan agar tak terdengar oleh Daryn.
"Kamu tunggu di situ." Daryn menunjuk sofa di dekat kamar Naza.
Daisy mengikuti ucapan Daryn dan duduk menunggunya.
Tak lama kemudian dia muncul membawa salep untuk meredakan benjolan di dahi Daisy.
Daryn lalu berlutut di hadapan Daisy dan meletakkan salep di dahinya. Tubuhnya Mengenai kaki Daisy membuat Daisy menggigit bibirnya karena gugup.
Daryn yang melihatnya, hanya mengolesnya sedikit lalu berdiri. "Kurasa kamu bisa mengolesnya sendiri di depan cermin." sambil menyodorkan obat salep. Lalu pergi meninggalkan Daisy menuju kamarnya.
Daisy menghela nafasnya dengan lega.
__ADS_1
"Apa yang baru saja terjadi." Dia memegang dadanya. Jantungnya masih berdegup dengan kencang.
"Hentikan, Daisy. Sejak awal harusnya kamu sudah menjauh darinya. Tapi, jujur saja kamu senang kan dengan kejadian barusan?" batinnya bergelut.
Daisy menggeleng, "Tidak.. Tidak... No.. No.. No. Sadar Daisy. Kamu tidak mungkin menyukainya. Dia 12 tahun lebih tua darimu. Di tambah, dia itu konglomerat. Sementara kamu, hanya anak yang tidak di anggap keluargamu sendiri." Daisy lalu berdiri dan kembali ke kamarnya menyadarkan dirinya.
Dia langsung duduk di depan meja rias.
Mengoles obat pada dahinya. Dia duduk di depan cermin dan membuka handphonenya.
Dia mencari foto mantan istri Daryn.
"Aku mana bisa di bandingkan dengan wanita ini. Dia Sangat cantik dan elegan." Ucap Daisy kemudian melihat cermin dan menatap dirinya.
Ketika akan ke tempat tidurnya dia melihat dasi yang diikatkan Daryn padanya saat malam itu.
Awal pertemuannya di Laura malam itu, tak terlalu berkesan. Dia hanya tau, kalau Daryn benar-benar tampan.
Tapi, dia tak menyangka, dia akan bertemu kembali.
Ketika Devan menyakitinya malam itu. Dia menyebut nama ayahnya berkali-kali. Dan Daryn muncul seperti pahlawan.
Dia merasa bersyukur malam itu, dan malam itu juga ketika Daryn mengulurkan tangannya. Daisy sudah tau, jika dia akan senang menerima tawaran Daryn.
Berkali-kali logikanya berfikir untuk lari dan tidak berurusan lagi dengan Daryn, tapi semakin keadaan dan hatinya untuk mendorongnya mendekat pada Daryn.
"Itu mungkin, karena kamu tak pernah dilindungi oleh siapapun selain ayahmu, karena itu kamu sangat terpengaruh setelah di tolong oleh Tuan Daryn." batin Daisy berusaha menolak Daryn masuk dalam kehidupannya.
Ketika beberapa kali, Daryn mencarinya demi Naza. Dia merasa sangat senang, sekaligus sedih. Dia merasa memanfaatkan Naza untuk mendekat pada Daryn.
"6 Bulan saja, melihatnya dari jauh, membuatku senang. Aku tak berniat melakukan apapun dengannya. Tapi melihatnya dari jauh, saat dia sibuk bekerja namun menyempatkan diri melihat dan menyapa putrinya. Dia seperti merasakan kehangatan dari seorang ayah, yang lama dia rindukan. Sebentar saja, dan tak lama lagi aku akan pergi. " bathin Daisy, dia selalu mencari pembenaran atas perasaannya pada Daryn.
Dia tau, dia dan Daryn bukanlah orang yang bisa bersama hanya karena dia menyukainya.
Terlalu banyak yang dia tak inginkan dari Daryn.
"Kenapa dia harus orang kaya? Kenapa dia sudah menikah? Kenapa dia lebih tua 12 tahun? Kenapa mantannya harus secantik itu? Ahh, sudahlah. Sepertinya, cintaku memang harus bertepuk sebelah tangan."
Daisy lalu merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka perlahan, Dia melihat Daryn masuk ke dalam kamarnya...
"Tuan, apa yang anda lakukan di sini?" tanya Daisy kaget.
__ADS_1
...****************...