Calon Ayah Tiri

Calon Ayah Tiri
Waktu Yang Berlalu


__ADS_3

"Tuan, kami menemukan rumah sakit tempat Daisy melahirkan." ucap Liam menyadarkan Daryn dari pikirannya.


Daryn langsung berdiri dan tanpa basa basi langsung menuju rumah sakit tempat Daisy melahirkan. Tapi, dia harus kecewa lagi karena Daisy sudah pulang.


Setelah lama bertanya ke sana kemari akhirnya Liam menemukan seorang perawat yang membantu Daisy. Dan perawat itu hanya memberikan Daryn sebuah foto. Berisikan Daisy, Dean, Tio dan juga ibu Rika. Untuk kenang-kenangan bagian kandungan.


"Siapa laki-laki ini?" tanya Liam menunjuk Tio.


"ahh, laki-laki ini tetangganya. Dan ibu ini, ibu laki-laki ini. Dan mereka berdua yang merawat Ibu Daisy. Saya kira dia suaminya. Karena mereka terlihat sangat cocok." ucap perawat itu tersenyum.


Wajah Daryn langsung berubah masam.


"Apa mereka tidak meninggalkan alamat asal mereka?"


"Maaf, jika boleh saya tau, hubungan anda dengan ibu Daisy?" tanya perawat itu.


Belum sempat menjawab, seseorang memanggil nama Liam.


"Liam, apa kabar?" teman SMA Liam menyapanya, yang merupakan salah satu dokter do rumah sakit itu.


Dan Liam pun memanfaatkan kesempatan untuk. Mencari tau informasi tentang Daisy melalui teman SMA nya itu.


Tapi, alamat yang tertera pun tidak jelas. Bahkan Daisy masih menulis alamat apartemennya sebagai data.


Setelah di atas mobil.


"Sepertinya aku harus bersyukur hanya dengan fotomu Nak. Dan Daisy, kamu terlihat cantik seperti biasanya." Daryn menitikkan air matanya. Rindu, dia sangat merindukan Daisy. Dia sangat ingin bertemu dengan putranya. Penyesalan terus menerus muncul dalam benaknya.


Liam memarkir mobilnya di pinggir jalan, dan membiarkan Daryn meluapkan kesedihan dan penyesalannya.


Naza, tidak kalah sedihnya. Dia bahkan sering memimpikan Daisy.


Daisy, apakah kepergiannya adalah keputusan terbaik yang bisa dia ambil, bahkan sampai saat ini dia masih mempertanyakan keputusannya.


Mereka saling merindukan, karena itu mereka semakin sedih.


"Papa, kangen Bunda." Ucap Naza yang masuk ke kamar Daryn dan tidur di sampingnya.


Daryn yang pulang semenjak dari rumah sakit tadi tidak ingin melakukan apapun. Dia merasa tidak bersemangat. Dia mengambil salah satu pakaian Daisy dan memeluk aroma tubuh Daisy yang masih tertinggal.

__ADS_1


Begitu melihat Naza, dengan cepat dia menyembunyikan di bawah selimutnya.


Naza tersenyum dan menunjukkan ikat rambut Daisy yang dia pakai di pergelangannya.


Daryn pun tersenyum.


"Apa menurut Naza, baiknya ayah mencari bunda atau nggak?" tanya Daryn.


Naza berpikir dan belum menjawab Daryn.


Daryn menatap putrinya yang sedang berpikir di sampingnya.


"Jadi?"


"hemm.. Naza senang kalau bunda bisa bareng kita lagi. Tapi, Naza gak suka lihat bunda nangis sendiri."


"Bagaimana kalau lama kelamaan, bunda semakin lupa sama kita?" Daryn kembali bertanya kembali.


"Bunda gak mungkin lupa sama kita. Bunda pernah bilang, kalau Naza dan Papa adalah kehidupan Bunda. Gak mungkin bunda lupa dengan hidupnya sendiri." Naza lau menyelimuti tubuhnya dan tertidur.


"Apakah benar, Daisy tidak akan melupakanku? Dia terlihat bahagia di foto itu." Batin Daryn yang masih memikirkan laki-laki yang menemani Daisy.


"Hari ini, aku akan ke kota. Apa kamu ingin titip sesuatu?" tanya Daisy.


"Sepertinya, snack nya Dean sudah habis." ucap Tio yang asik bermain bersama Daryn di teras rumahnya.


"Oke. Ada yang lain? " Tio menggeleng, tak menghiraukan Daisy karena sibuk bermain bersama Dean.


Tio, tau bahwa Daisy akan ke kota untuk menelpon Naza. Bagi Tio, itu adalah hal yang wajar dia merindukan putrinya, meskipun bukan putri kandungnya. Tapi, rasa cemburu tetap menyelimuti Tio, karena dia juga Tahu, Daisy akan mengumpulkan majalah yang ada gambar Daryn di dalamnya.


Daisy bahkan mengguntingnya dan menempelkannya khusus untuk buku yang berisi wajah Daryn. Daisy bahkan rela pulang agak malam, melihat berita acara bisnis dan menatap wajah Daryn.


Meski hanya melalui panggilan telepon, bagi Naza dan Daisy hal ini lebih dari cukup, mengingat bahwa Daryn dan Daisy sudah tak bersama lagi. Tapi, jauh di lubuk hati mereka. Masih menyimpan keinginan untuk bersama lagi.


Untuk saat ini.


"Daisy mau ke kota?" tanya salah satu tetangga.


"yo bu, ada yang mau di titipkan?" jawab Daisy ramah.

__ADS_1


Setelah menyebutkan barang yang ingin dia titip, tetangga itu selalu menanyakan Daisy kenapa tak menikah dengan Tio.


"Kalian itu, hidup seperti sudah berumah tangga, makan, minum, main bareng-bareng, tidurnya aja yang beda tempat. Lagian, Tio kan sangat menyayangi Dean." Dan seperti biasa, Daisy hanya tersenyum mendengar tetangganya itu. Sebenarnya banyak yang menyuruh mereka menikah.


Tapi, bagi Daisy. Meskipun menikah dengan Tio, sementara hatinya masih bersama Daryn adalah bentuk penghianatan untuk Tio. Dan Daisy tak ingin mengkhianati siapapun.


Setelah kembali ke Desa, Daisy terlihat sangat bingung dan merenung.


"Kenapa? Apa Naza baik-baik saja?" tanya Tio yang melihat Daisy seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Apa kamu bilang?" tanya Daisy tak mendengar pertanyaan Tio.


"Aku bilang, apa Naza baik-baik saja? Apa yang terjadi, kenapa kamu sampai bengong begitu?" tanya Tio.


"Sepertinya dia akan menikah, tapi aku gak tau apakah dia benar-benar menikah, atau seperti biasanya hanya demi urusan bisnis." ucap Daisy bingung.


"Daryn maksud kamu? Bukankah, itu hal yang biasa? Kamu sudah sering melihatnya. Dan apa urusannya denganmu? Apa kamu benar-benar tak bisa melepaskan dirinya?" tanya Tio kesal lalu meninggalkan Daisy dan Dean di teras rumah.


"Iya, aku tidak bisa. Bagiku Daryn satu-satunya lelaki yang aku cintai." batin Daisy, merasa bersalah pada Tio.


Sebenarnya, Tio pernah menyatakan perasaannya pada Daisy dan itu membuat hubungan mereka sangat canggung. Tapi bagaimanapun, Tio tidak bisa menjauh dari Dean. Dan itu membuat hubungan mereka kembali membaik sebagai teman.


"Dasar tukang ngambek." ucap Daisy sambil menenangkan Dean yang mulai menangis karena di tinggal Tio.


"Iyoo.. Iyooo.." tangis Dean memanggil Tio.


"Sayangnya mama, Om Tio kerja dulu yah.." Daisy membujuk Dean yang berjalan hendak mengikuti Tio.


Dean sekarang memasuki usia 3 tahun, Dia tumbuh dengan baik, dan mendapat kasih sayang dari orang-orang di desa.


Akhirnya Daisy berhasil menidurkan Dean. Dia kemudian menyusul Tio ke kebunnya.


"Yo.. Tio?" tak mendengar jawaban Daisy lalu masuk ke rumah kaca kebun milik Tio.


Di dalam rumah kaca itu, matahari yang masuk sangat baik, tapi entah kenapa Daisy mencium bau yang tidak enak. Dia kemudian melihat tas jinjing, di tepi rumah kaca. Saat dia mendekat, Tio mengagetkannya.


"kenapa kamu masuk ke sini?!!??? “ Tio berteriak berjalan ke arah Daisy dan mendorongnya keluar.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2