Calon Ayah Tiri

Calon Ayah Tiri
Rumah Kaca Milik Tio


__ADS_3

Setelah menelepon Ava, Daisy kembali pulang ke desa.


Daisy merasa sangat bingung. Tapi dia tak tahu, kepada siapa dia harus bercerita. Menatap Dean yang tertidur. Daisy mengeluarkan air matanya.


"ternyata, mama tidak punya seseorang yang bisa mama ceritakan tentang semuanya." Dia duduk meringkuk di samping tempat tidur Dean.


Setelah merenung sebentar, Daisy bangun untuk masak makan malam, tapi dia lupa tidak membeli bahan makanan tadi. Dia pun ke rumah Tio.


Di rumah Tio, dia mendengar Tio dan ibunya berdebat.


"Aku gak perduli, dan aku gak mau tau. Siapa yang minta ibu melahirkan aku? Apa ibu begitu bangga melahirkan bayi hasil perselingkuhan? Lihat Daisy, dia begitu setia pada mantan suaminya, dan merawat anaknya dengan baik. Tapi kamu, saat kak Tito masih kecil pun, sudah mengandungku."


Tio lalu berjalan keluar "Seharusnya wanita sepertimu harus dibersihkan dari dunia ini." ucap Tio pelan tapi terdengar samar oleh Daisy.


"apa kamu dengar apa yang aku ucapkan?" tanya Tio ketika melihat Daisy di depan rumahnya.


"aku baru aja datang, dan dengar kamu bilang dunia ini." ucap Daisy pura-pura tak mendengar pertengkaran Tio dan ibunya.


"Ada apa?" tanya Tio berusaha mengubah nada marahnya.


"apa kamu punya lauk? Aku lupa membelinya tadi." ucap Daisy.


Tio memberikan Daisy lauk, dan lalu memetik sayuran yang ada di depan rumahnya.


Setelah berterimakasih, Daisy pulang memasak dan mengantarkan makanan yang sudah masak kepada Tio dan ibunya.


"ibu ke mana Yo? " tanya Daisy.


"jam segini, dia sudah pergi cari laki-laki di kota." ucapnya singkat dan datar.


"Dean mana? Kenapa kamu gak ajak makan bareng aja di sini."lanjut Tio dan tersenyum ramah kembali.


"dia lagi asyik sama mainan barunya. Sebentar, biar aku jemput supaya bisa makan bareng"

__ADS_1


Untuk Dean, Daisy bersyukur dia tak repot soal makan, nafsu makannya sangat baik dan biasanya lebih dulu mencari makan. Kalau dia rewel, Daisy hanya perlu mengajaknya berjala-jalan sekitar desa atau Tio yang mengajaknya berjalan-jalan.


Dengan begitu, mereka kembali makan malam bersama. Dan seperti biasanya menghabiskan waktu bersama bermain bersama Dean dan mengobrol.


Keesokan harinya, Tio pergi ke kota untuk membeli perlengkapan untuk kebun dan ternaknya. Biasanya dia akan pulang sore, karena banyak yang menitipkan belanjaan padanya.


Daisy pergi berkunjung ke rumah Tio dan bertemu ibu Rika.


"Bu, kenapa sih. Tio marah banget waktu aku ke rumah kacanya. Padahal isinya cuma sayuran dan bunga." sebenarnya dia juga ingin menanyakan tentang pertengkarannya dengan Tio, tapi dia tak mau terlihat terlalu ikut campur.


Rika tersenyum getir. "Dia sangat menyayangi tanamannya, dan dia gak mau siapapun mengusik bunganya."


"oh, yah. Aku sempat lihat. Bunganya cantik banget, warna ungu. Tapi bukan lavender. Apa sih? Aku jarang lihat bunga itu." ucap Daisy mencoba mengingat bunga yang dia lihat di rumah kaca Tio.


"Kamu masuk kesana?" tanya Rika terkejut, langsung duduk di hadapan Daisy dan memegang kedua lengan Daisy dengan erat.


"Jangan pernah lagi, masuk ke sana? Kamu ngerti. Jangan sampai Tio marah besar sama kamu. Ngerti kan?" Rika sampai menggoyangkan tubuh Daisy membuatnya mengerti.


"Iya.. Iya.. Saya ngerti." Ucap Daisy terkejut dan melepas cengkeraman bu Rika di lengannya.


Sesuatu yang di larang, biasanya membuat kita semakin penasaran, membuat kita melakukan hal-hal yang justru dilarang. Menurut Daisy, reaksi Tio dan Ibu Rika terlalu berlebihan hanya gara-gara Daisy masuk ke rumah kaca Tio.


"Apa yang begitu spesial di rumah kaca itu?" ucap Daisy.


Ketika siang, ibu Rika tengah tidur dan Dean juga yang sudah tertidur lagi. Daisy memasuki rumah kaca Tio.


Di sana dia melihat sayuran dan beberapa tanaman yang tidak ia kenali. Daisy kembali mengamati bunga yang sempat dia lihat kemarin. Bunga ungu yang cantik, tapi bukan lavender. Dia melihat beberapa tumbuhan yang tidak tidak pernah dia lihat.


"Tumbuhan apa ini?" Daisy mendekati tanaman itu dan melihatnya dari dekat. Sampai kakinya tak sengaja menginjak sebuah besi yang menonjol. Seperti sebuah gagang.


Daisy lalu membersihkan tanah di dekat besi itu, dan benar saja. Besi itu berbentuk segi empat tebal. Dia mencoba mengetuk plat besi tebal itu, dan berusaha menarik besi itu. Tapi, terlalu berat untuk Daisy. Dan dia pun menyerah.


"Apa ini ruang bawah tanah?" batin Daisy.

__ADS_1


Karena tak mau ketahuan, dia berusaha mengatur semuanya seperti semula. Dan ketika akan keluar, sebuah tirai menarik pandangannya. Terlihat seperti ruang istirahat Tio. Karena memang Tio lebih sering menghabiskan waktunya di rumah kacanya sebelum Dean lahir. Ternyata dia memiliki tempat istirahat.


Ketika membuka tirai itu, dia sangat terkejut. Melihat gambar mamanya, Tuan Abrar dan juga Nyonya Liza.


"Kenapa Tio simpan foto keluarga mama?" ucap Daisy bingung.


"apa dia ngefans sama mama?" pikirnya lagi.


Dan dia juga melihat berita mamanya dan Daryn yang akan bertunangan. Sebagian besar info yang terlihat adalah tentang keluarga mamanya. Tapi di sudut meja dia juga melihat foto Daryn yang di tusuk dengan pisau, dan matanya sudah di lubangi.


Daisy menggeleng, kemudian tertawa ketakutan.


"Apa ini karena beeita pertunangan mama dan Tuan Daryn? Atau karena dia tau Tuan Daryn suamiku?Aku rasa, jika cemburu seperti ini masih normal kan? Lagipula waktu kecil juga kita sering mencoret gambar orang yang tidak kita sukai." Daisy lalu cepat-cepat keluar. Tempat itu membuat bulu badannya berdiri.


Daisy lalu cepat kembali ke rumahnya dan membersihkan diri.


Daisy berjalan sore bersama Dean ketika Tio pulang, di sambut bahagia oleh Dean yang berlari kecil ke arah Tio.


Daisy menarik dan menggendong Dean, karena Tio membawa lumayan banyak barang bawaan.


"Ayo, kita tunggu Om Iyo di rumah." ucap Daisy kemudian menggendong Dean kembali ke rumah.


Setibanya di rumah, Tio membersihkan diri, dia lalu membrikan mainan kesukaan Dean


Satu set mainan mobil-mobilan, truck dan kendaraan lainnya. Dean langsung lompat kegirangan dan memeluk Tio.


Setelah itu, Dean lanhsung masuk ke rumahnya dan memainkan mainannya di arena bermain yang khusus di buatkan Daisy untuknya.


"Tio, aku akan pergi ke rumah Tuan Abrar seminggu lagi." ucap Daisy tiba-tiba.


Tubuh Tio membeku mendengar itu, kemudian membuatnya kesal.


"apa kamu ingin menghentikan pernikahan mantan suamimu?" tanya Tio kesal.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2