
Akhirnya, hari yang di tunggu oleh Daisy tiba.
Pagi hari, Ava dan Daisy sudah ke sekolahnya mengambil ijazahnya.
"apa kamu yakin tidak pamit pada Nyonya Laura?" tanya Bik Imah.
Daisy menggeleng, "Bibi tau, saat pertama aku ke rumah ini? Hanya bibi yang tersenyum melihat saya. Mama, memang dengan senang membawa saya ke sini. Tapi akhirnya saya di abaikan. Saya berterimakasih, karena dia sudah melahirkan dan membiayai saya." Daisy menyentuh dadanya.
"Tapi di sini, dia tak pernah hadir si sini. Bahkan Setiap dia menyebut dirinya mama, aku tak merasakan apapun. Saat pertemuan orang tua, dia tidak pernah datang, dan akhirnya aku tau. Kalau aku tidak pernah menjadi anaknya secara resmi." Daisy tersenyum getir.
Dia ingat ketika pertama kali dia mengetahui bahwa dia di jadikan anak adopsi Bik Imah secara resmi. Bukan sebagai anak Laura dan keluarga Abrar.
Saat pertemuan sekolah SD, sekolah menanyakan orang tuanya. Saat itu dia masih duduk di kelas 6. Tentu saja dia menjawab bahwa orang tuanya adalah Nevan dan Laura.
Tapi, di akta kelahirannya, Laura tak ada di sana, bahkan pernikahan Nevan dan Laura tak pernah terdaftar, begitu juga kartu keluarga terbarunya, dan dia anak angkat Bik Imah.
Mengetahui hal itu, Daisy sangat sedih. Bertanya-tanya, apa arti dirinya untuk Laura. Setiap acara penting sekolahpun, Laura tak pernah meluangkan waktunya.
"Tapi, hal yang aku syukuri ketika pindah ke rumah ini adalah kalian." Daisy lalu memeluk Bik Imah dan Ava.
"Apa kamu yakin, kamu bisa sendirian?" tanya Ava.
"Aku akan berusaha, jika aku tidak bisa aku akan memanggilmu. " Daisy tersenyum.
"Apa kamu benar-benar gak akan kasi tau aku ke mana kamu pergi.?"
"iya aku gak akan kasi tau siapapun. Aku takut kamu pergi menyusul ku. Dan aku benar-benar ingin pergi ke tempat tak ada satupun orang yang mengenalku. Aku janji, aku tetap ngabarin kamu." Daisy mulai mengeluarkan air matanya.
Dia masih memiliki keluarga kandung, tapi tak pernah menganggap keberadaannya. Memang benar, yang katanya. Bahwa keluarga itu, bukan hanya berati kamu terikat oleh darah dan keturunan tapi juga orang-orang yang menghabiskan waktu bersama-sama melewati kesedihan dan kebahagiaan bersama.
"Aku pasti akan merindukan kalian. Aku akan kabari kalian kalau aku sudah sampai sana." Daisy pun berpamitan dan pergi.
Dia akan sampai di kota tujuannya dalam 5 jam. Dia tidak memberi tau siapapun tentang kota yang ditujunya. Tapi Dia akan terus mengabari Ava dan Bik Imah.
__ADS_1
Kota Mutiara, Kota yang terkenal karena kerajinan mutiaranya. Dia mendaftar kuliah di sana semenjak 3 bulan lalu. Ava juga tidak mengetahuinya. Bukan dia tidak mempercayai sahabatnya. Dia tau, bahwa Ava sangat menyayanginya, dan takut terjadi apa-apa dengannya.
Ava bahkan pernah meninggalkan ujiannya ketika dia mendengar Daisy ke IGD. Padahal ujian itu adalah ketentuan akhir untuknya. Untung saja Tuan Abrar memakluminya dan membiarkan dia lolos.
Ketika tiba di kota Mutiara, Daisy melihat kota itu dengan asing. Diapun langsung menuju ke asrama. Dia Mendaftarkan dirinya dalam program beasiswa.
Dia mengganti semua kontak handphonenya. Hanya Ava yang mengetahui nomornya.
Daisy memulai kehidupan sosialnya di kampus, dia mendapatkan teman sekamar bernama Nivia.
Nivia merupakan gadis yang cantik, anak orang kaya di kota itu. Entah kenapa, Daisy tak bisa menjauhkan hidupnya dari orang kaya.
Dua Tahun Berlalu, Daisy yang sibuk dengan dunia barunya sudah mulai bisa membiasakan diri dengan kehidupan sosialnya.
"Kamu kenapa sih, tolak Devan. Dia kan baik." ucap Nivia yang merupakan sahabat baik Daisy di kota Mutiara.
"Kamu tau alasannya. Selain itu, aku sangat sibuk. Jika aku tak menjaga nilaiku, aku bisa kehilangan beasiswaku."
"Aku orang kaya, tapi kamu gak jauhin aku. Kita malah sekamar dan jadi sahabatan." Nivia lalu bersandar pada bahu Daisy yang empuk.
"Oh yah, aku melihat kotak jam di laci mu. Sudah 2 tahun di sana. Kapan kamu akan mengirimkannya?"
"Astaga... Aku lupa. Padahal Ava sudah ngingetin aku. Biar aku selesaikan ini dulu." Daisy lanjut mengerjakan tugasnya.
"Memangnya, siapa yang punya jam itu?"
"Ahh... Mungkin kemu mengenalnya. Sepertinya dia pebisnis yang cukup terkenal. Daryn Leroy?"
"Apaaaa? Om Daryn? Darimana dan bagaimana bisa jamnya ada di kamu? " Nivia terkejut mendengar nama Daryn. Daryn adalah Pamannya, Ibunya dan Daryn adalah sepupu.
"Aku menemukannya, aku pikir aku bisa langsung mengirimnya setelah tiba di sini. Tapi waktuku tersita dengan kegiatan kuliah dan melupakannya. Kalau begitu, kamu saja yang memberikannya pada Om mu." Daisy membuka lacinya dan menyodorkan jam itu pada Nivia.
"Jam ini, peninggalan ayahnya. Jadi dia sangat sangat menjaganya. Makanya aku kaget, ketika kamu bilang itu jam nya Om Daryn."
__ADS_1
Daisy hanya tersenyum getir merasa bersalah lama bisa mengembalikan jam itu. Harusnya dia meninggalkannya di rumah Denandra.
"Atau kamu mau ikut, aku akan ada acara di rumah 2 hari lagi, dan aku yakin Om Daryn pasti datang."
"Apa gak bisa , kamu aja yang kasi? Aku merasa bersalah karena terlalu lama menyimpannya. Dan juga, aku ingin istirahat. Besok hari terakhir ujian."
"Apa iya? Ya sudah, aku aja yang kembalikan. Dan justru, besok hari terakhir ujian, jadi lusa kamu bisa ikut aku sekaligus refreshing. Ikut yah?" Nivia bersandar manja di lengan Daisy.
"iiihhh... Kamu tuh kayak. Kucing Aja, gosok-gosok kepalamu kayak gitu."
"Mau yah, mau yah.?" ucap Nivia sambil memainkan matanya dan tersenyum.
"aku tau, acara itu pasti akan dipenuhi oleh orang-orang kaya. Jadi jawabanku , NO... Big NO. Sudahlah, aku sibuk dengan tugasku. Bukannya kamu juga perlu menyelesaikan tugasmu?" Daisy lanjut mengerjakan tugasnya.
Nivia memajukan bibirnya kemudian pergi mengerjakan tugasnya.
Keesokan harinya, setelah menyelesaikan tugasnya, Daisy menelpon Ava.
"Kamu tau, Nyonya Laura nyariin nomormu di aku." ucap Ava.
"Ada perlu apa? Kamu gak ngasih kan?" Daisy tak ingin lagi berhubungan dengan Laura. Bertahun-tahun dia tinggal di sana. Laura tak pernah menghiraukan dan mencarinya. Dan dia yakin, kali ini pun, mencarinya hanya sekedar basa-basi.
"jelas lah, aku bilang gak tau. Karena memang aku gak tau kamu di mana."
Beberapa jam mereka curhat dan cerita kehidupan mereka. Membicarakan masa lalu. Dan harapan mereka untuk masa depan.
"Kapan kita bisa ketemu lagi yah?" tanya Ava.
"Iya, aku juga kangen sama kamu. Besok aku sudah libur. Dan gak tau mau ngapain."
"aku juga sedang libur, tapi Aku malah bakalan nemenin Nyonya Ke kota Berlian, dia mau ke pesta dan setelah itu akan shopping dan dia butuh asisten, karena aku mahasiswa fashion jadi dia perlu membawaku."
"Bagus dong, kamu bisa jalan-jalan. Bagaimana kalau besok kita ketemu di sana?" Daisy berfikir untuk mengikuti Nivia dan bertemu dengan Ava di kota Berlian.
__ADS_1
...****************...