
Dalam keadaan marah, Daisy pergi ke pengadilan agama dan mengambil formulir perceraian. Dia melakukan sesuatu yang sudah biasa dia lakukan.
Yaitu Pergi, dari hidup orang-orang yang tidak menginginkannya. Sesampainya di apartemennya, dia hanya membawa barang-barang yang dia miliki sebelum menikah dengan Daryn.
Dia meninggalkan handphone, kartu, dan barang lain yang bisa membuat Daryn menemukannya.
Dia hanya meninggalkan surat untuk Naza dan Daryn.
"Untuk putriku tercinta, Naza. Bunda minta maaf, belum bisa menepati janji bunda untuk tidak meninggalkan Naza. Naza harus rajin belajar, perhatikan makan. Dan jangan lupa untuk menemukan teman di sekolah.
Bunda akan selalu merindukan Naza."
Daisy menangis, sembari menulis surat itu untuk putrinya. Dia membayangkan masa puber putrinya tidak di dampingi oleh seorang ibu,tapi jika memang Alea kembali untuk mengambil posisinya. Daisy sedikit bersyukur, setidaknya Naza punya tempat untuk berbagi. Meski membayangkannya saja, membuat hatinya perih.
"Untuk Dada, ataukah harus saya panggil Tuan Daryn. Karena kita sudah bukan Dada lagi. Seperti yang tuan katakan, pernikahan rahasia kita bertahan cukup lama. Terimakasih atas kebahagiaan selama ini. Saya tau, Tuan menunggu kepulangan Alea, tapi saya berat mengembalikan posisinya di hati dan rumah tuan. Mungkin cinta kita masih tidak cukup, untuk melawan prasangka yang disebabkan oleh orang lain. Saya masih menunggu Tuan, meskipun hati saya telah luka berkali-kali. Tapi, ada ketakutan yang saya rasa, ketika Tuan semakin lama kembali. Ketakutan bahwa saya tidak lagi dibutuhkan. Karena Itu, saya memutuskan untuk pergi. Saya bawa pergi, sisa kenangan kita. Selamat tinggal. Aku Pergi."
Daisy meletakkan surat permohonan bercerai, di samping surat untuk Daryn dan Naza. Daisy Memutuskan pergi, tanpa pamit pada Dewi dan Nivia yang selalu mendukungnya.
"Jika ada yang bertanya, kenapa aku tidak mempertahankan cintaku.
Aku sudah cukup mempertahankannya. Luka yang aku rasakan memberikan jawabannya. Luka yang Tuan Daryn rasakan menjadi jawabannya. Bahwa cinta kita belum cukup untuk menutupi luka yang kita buat untuk satu sama lain. Tapi, kamu tau. Manusia adalah makhluk yang unik, meski membenci, mereka masih bisa mencintai orang yang sama. Jika suatu hari lukaku bisa menjadi hal yang sudah tidak aku tangisi dan berdamai dengannya. Aku harap kita bisa bertemu sebagai seseorang yang hanya menertawakan masa lalu sebagai pengalaman hidup kita. Selamat tinggal Tuan Daryn."Batin Daisy.
Dia lalu naik taksi dan menuju terminal bus.
Sementara itu, Dewi yang mendengar cerita tentang Daryn, mencari Daryn ke kamarnya tapi tidak ada. Dan dia mencoba mencari ke ruang kerja Daryn.
Daryn masih duduk di kursi kerjanya. Dia Sama sekali tak beranjak setelah ditinggalkan Liam tadi malam.
"Apa yang kamu lakukan di sini? Kenapa kamu masih disini dan bukannya bersama Daisy?"
Daryn menatap Dewi dengan tatapan kosong.
__ADS_1
Dia lalu menangis. "Kenapa sesakit ini? Berkali-kali aku bayangkan semua foto ini, tapi ini benar Daisy. Tapi, perasaan cinta yang dia berikan padaku terasa nyata"
Ini kelima kalinya Dewi melihat Daryn menangis, ketika kakeknya meninggal, Ibunya meninggal, ayahnya meninggal, kepergian Alea dan sekarang.
"Berhenti dengan bicara omong kosongmu.Jika kamu benar mencintainya. Harusnya kamu tanyakan langsung sama dia. Aku tau, sebelum mengetahui kenyataan, semua pikiran negatif akan masuk dalam khayalan mu. Tapi, kita sedang membicarakan Daisy. Gadis yang hatinya hanya tertuju sama kamu. Gadis yang memilih kamu, meskipun dia tak inginkan semua milikmu, gadis yang selalu memahami kamu lebih dari siapapun. Tapi, kamu masih meragukan perasaannya. Jika Liam meragukan aku seperti itu terus menerus. Aku lebih baik pergi. Tapi Daisy tidak pernah pergi dari kamu."
Daryn tau, selama hubungannya bersama Daisy. Daisy yang selalu memahaminya. Yang sering Daisy pinta adalah jika Daryn merasakan sesuatu harus mengatakan atau menanyakannya pada Daisy. Tapi, bahkan hal seperti itu, belum bisa dia lakukan.
"Apa Liam sudah bangun?" tanya Daryn,
Dewi mengangguk.
"Bisa, minta Liam panggilkan Tito."
"Oke, aku harap kamu bisa segera menyelesaikan masalah ini. Oh Ya, dan satu lagi. Alea, dia katanya ingin kembali. Dan aku harap kamu begini bukan karena hal itu."
"Aku tidak ingin memikirkan hal lain dulu." Meski pernah membayangkan Alea kembali, tapi Daryn tak menyangka dia kembali di saat Dia sedang ragu pada Daisy, Dan dia membenci dirinya yang mempertimbangkan Alea untuk kembali dan membiarkan Daisy pergi.
Dewi mengerti dan memanggil Liam.
Daryn lalu memperlihatkan foto-foto itu pada Tito.
Tito melihatnya heran, kenapa fotonya bersama Daisy semua ada di sini.
"Tuan, saya harap tuan jangan salah paham. Semua gambar disini. Saya dan Daisy tidak melakukan apapun. Ini Hanya kita yang mengobrol dan mentertawakan hal yang remeh. Seperti halnya Daisy yang mengobrol dengan para pelayan lain dan saya hanya salah satunya."
Kemudian Daryn memperlihatkan fotonya yang berpelukan dan hampir berciuman.
Tito menjawabnya dengan terbata-bata.
"iii.. Iinii... Maafkan saya." Lalu Tito menceritakan kejadian hari itu.
__ADS_1
Tito baru saja mendapatkan telepon dari desanya, bahwa adik perempuannya meninggal. Tito sangat menyayangi adik-adiknya terutama adik perempuannya.
Mendengar berita itu, Tito sangat terpukul.
Hari itu, kebetulan Daisy melihat Tito menangis sambil menunduk di taman.
"Kak Tito, kenapa?" Daisy menepuk bahu Tito dengan pelan.
"Adikku, adik perempuanku meninggal." Tito lanjut menangis.
Daisy menemani Tito disampingnya dan mengusap bahunya. Membantunya untuk tetap tegar. Tapi Tito tiba-tiba menarik Daisy dalam pelukannya. Bukan ingin mencari kesempatan, tapi dia benar-benar butuh pelukan.
Daisy berusaha mendorong tubuh tito.
"Sebentar, sebentar saja. Aku benar-benar butuh pelukan." ucap Tito.
Karena kasihan, Daisy membiarkan Tito memeluknya, meskipun merasa bersalah pada suaminya.
Setelah lega menangis, Tito melepaskan pelukannya dan melihat wajah Daisy dan tiba-tiba mendekatkan wajahnya. Daisy yang awalnya terkejut, ketika wajahnya Tito semakin mendekat, Daisy langsung menampar Tito dan lalu pergi. Sejak Hari itu, Daisy selalu menghindar dari Tito. Dan tak pernah lagi berbicara padanya.
Mendengar cerita Tito, Daryn langsung menyuruh Liam pergi menyiapkan mobil dan langsung menuju ke apartemen.
"Pindahkan Tito, ke tempat di mana aku tidak perlu melihat wajahnya lagi."Perintah Daryn pada Liam.
Jika tidak, Daryn tidak bisa membayangkan apa yang bisa dia lakukan pada Tito. Karena ulah Tito, bukan. Karena rasa cemburunya dia melukai perasaan Daisy.
Setelah tiba di apartemennya, Daryn langsung ke kamarnya, lalu memeriksa kamar mandinya. Dia tidak melihat tanda kehadiran Daisy. Lalu dia memeriksa kamar Naza, dia memeriksa seluruh tempat di rumah itu. Tapi nihil.
"Daryn" Panggil Liam pelan.
Dia menunjukkan surat dan amplop yang terletak di meja kerja Daryn didalam apartemen. Daryn berjalan perlahan melihat 3 buah amplop. Dia menggeleng dan senyum tak percaya.
__ADS_1
"Aku harap ini bukan." ucapnya sembari mengambil amplop di atas meja itu.
...****************...