Calon Ayah Tiri

Calon Ayah Tiri
Hubungan


__ADS_3

"Kadang kamu akan selalu terhubung dengan seseorang yang tak ingin kamu temui, tapi kadang juga keinginanmu tak sejalan dengan apa yang terjadi."


"Kamu ke sini dengan siapa? Apa kamu sudah tak bekerja sebagai pelayan? " Daryn bertanya sambil melihat pakaian Daisy.


"Saya bersama Nivia."Daisy menjawabnya meskipun heran bagaimana Daryn masih mengingatnya.


"Nivia? Nivia Anggara?"


Daisy mengangguk lagi. "Teman sekamar di asrama. Dan saya minta maaf, saya baru bisa mengembalikan jam Tuan hari ini. Saya menitipkannya pada Nivia."


"Tuan, apa yang terjadi di sini? " Liam terkejut melihat Devan yang tergeletak, Daryn yang berantakan dan Daisy yang juga berantakan. Rambut keritingnya sudah berantakan tak beraturan.


Melihat Liam, Daryn berdiri mengulurkan tangannya pada Daisy, sementara Daisy hanya melihat tangan Daryn di hadapannya.


"Ayo, ikut aku. Kita harus memperbaiki penampilanmu." ucap Daryn.


"Tidak perlu, saya akan kembali pulang." ucap Daisy tergagap. Karena dia tau, begitu dia menerima tangan Daryn, dia akan terus terkait dengan orang-orang ini.


"Dengan penampilan seperti ini?"


Daisy akhirnya menerima tangan Daryn dan mereka beranjak dari tempat itu.


Daryn berjalan di depan Daisy dan Daisy Mengikutinya.


Mereka mengambil jalan memutar ke arah bangunan lainnya.


"Apa tuan tak perlu berada di pesta, saya lebih baik menunggu Nivia di depan aula tadi." Daisy menghentikan langkahnya.


"Kamu tak akan ingin Nivia khawatir dan tau tentang ini. Dia akan sangat berisik." Daryn melanjutkan langkahnya dan di ikuti Daisy.


Mereka tiba di sebuah bangunan megah lainnya. Bangunan ini lebih terasa seperti rumah karena furniture dan beberapa pelayan di dalamnya.


Liam sudah ada di belakang mereka.


"Tuan, saya sudah menghubungi pengacara dan mengantar Tuan Devan ke rumah sakit."ucap Liam yang berusaha menahan nafasnya yang ngos-ngosan.


" Pastikan kamu mengurusnya dengan baik. Dan suruh seseorang memeriksa tangan gadis ini, dan jadikan bukti. dan panggilkan Nona Dewi untuk mencarikan pakaian yang cocok untuknya."


"Baik Tuan." Liam pun pergi.


"Maaf Tuan, saya rasa anda tidak perlu repot-repot untuk pakaian. Dan Devan, itu terjadi karena dia sedang mabuk."

__ADS_1


"Apa kamu tahu, seberapa bahayanya tadi, dan apa yang mungkin terjadi sama kamu?" Daryn melangkah cepat ke arah Daisy dan berteriak ke arahnya, membuat semua orang yang ada di ruangan itu terdiam.


"Papa kenapa?"suara seorang gadis kecil berumur 5 tahun memanggil Daryn.


" Kamu belum tidur sayang?" suara Daryn tiba-tiba menjadi lembut dan menggendong gadis kecil itu ke kamarnya. membuat Daisy menggelengkan kepalanya dalam hati.


"Apa-apaan Tuan ini? Tadi dia begitu kasar, ada anaknya dia berubah menjadi lembut. Tuhan, jauhkan aku dari orang-orang ini." Batin Daisy.


"Maaf, anda bisa ikut dengan saya." seorang pelayan menuntun Daisy ke sebuah ruangan.


Ketika tiba di ruangan itu, Daisy bertemu dengan dengan seorang wanita.


"Well, well.. Well.. Kamu tipe terbarunya?" Dia membuka jaket Daisy memperhatikan tubuhnya seperti mengukurnya.


Daisy terdiam hanya bisa mengangkat alisnya.


"Gak usah khawatir, aku hanya mencarikan pakaian yang cocok untukmu."


"Maaf, Nona Dewi?" Panggil Daisy menghela nafasnya.


"Yes Darling? "


Dia berjalan mengambil jaketnya lalu keluar dari ruangan itu.


Liam sudah berdiri di depan pintu.


"Maaf Nona, sebaiknya anda mendengarkan ucapan Tuan Daryn." ucapnya menahan Daisy keluar.


"Liam? Namamu Liam kan? Dengar. Aku sangat tak ingin berada di sini lebih lama. Aku berada di tempat dan waktu yang salah. Masalah ku dan Devan, aku berterimakasih karena Tuanmu sudah menyelamatkanku." Daisy lalu berjalan melewati Liam dan keluar dari rumah itu.


Begitu sampai luar, dia mengikuti jalan ketika dia datang dan akhirnya sampai di taman tadi. Dia Mencoba menghubungi Nivia, tapi tak di jawab. Dia juga mencoba menghubungi Ava, tak ada jawaban juga.


Akhirnya dia berjalan keluar dari lingkungan istana itu. Berjalan cukup jauh untuk dia tiba di gerbang utama.


Dia memutuskan untuk melepas higheel nya, karena kakinya terasa sangat sakit.


Daisy pun naik taksi dan menuju ke rumah sakit untuk memvisum pergelangan tangannya yang sudah mulai memar dan membiru.


Setelah mendapatkan keterangan dokter, waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam, jika dia berangkat malam ini, maka asrama masih tutup. Dia akhirnya memutuskan untuk duduk di lobi rumah sakit. Dan tanpa sengaja tertidur.


Tepat pukul 12 malam, ponselnya berdering.

__ADS_1


"Daisy, maaf... Aku tak melihat panggilan mu. Kamu di mana sekarang?" Ucap Nivia dengan nada bersalah.


"Aku? Aku ada di rumah sakit." Ucap Daisy yang masih dalam keadaan kantuknya.


"Kamu kenapa? Bagaimana bisa kamu di situ? Tunggu, aku akan menjemputmu."


Daisy menunggu Nivia di depan rumah sakit.


Rambutnya yang tadi berantakan sudah dia ikat rapi seperti biasanya.


Nivia turun dari mobil dan berlari ke arah Daisy.


"Kamu gak apa-apa?" Nivia memeriksa seluruh tubuh Daisy dan melihat pergelangan tangannya.


"Tanganmu kenapa? Apa yang sudah terjadi? Setelah mengambil jam Om Daryn aku masuk, tapi gak lihat kamu. Aku pikir kamu sudah di dalam. Dan aku gak bisa keluar karena mama menarik aku ke sana kemari. Maaf." Nivia benar-benar merasa bersalah, dan tak ingin Daisy berpikir bahwa dia meninggalkan Daisy karena asik dengan teman-teman kaya nya.


Daisy hanya tersenyum getir. Dia sangat tau, kalau Nivia ke depannya akan sibuk dengan dunianya.


"Kita gak bisa pulang ke asrama malam ini." ucap Daisy yang sudah duduk dalam mobil.


"Malam ini, kita akan menginap di rumah Om Daryn. Besok pagi kita akan ke asrama."


"Aku gak mau ikut, kalau nginap di rumah Tuan Daryn. Lebih baik aku menunggu di rumah sakit sampai besok."


"Kenapa? Memang nya kenapa. Aku tau kamu gak mau berurusan dengan orang kaya. Tapi dia keluargaku, dan Om Daryn itu sangat baik."


"Maaf, aku lebih baik tidur di lobi rumah sakit, Pak. Tolong hentikan mobilnya."


"Oke.. Oke.Dasar keras kepala. Aku akan sewa kamar hotel di sekitar sini. Terus jalan pak."


"Adduh, bagaimana ini, tadi Om Daryn suruh aku bawa Daisy ke sana. Daisy kalau marah, juga menyeramkan. Apasih yang sebenarnya terjadi? " batin Nivia bingung, antara mengikuti pamannya dan membohongi sahabatnya atau resiko di marah pamannya dan di skors oleh mamanya. Daryn memegang sebuah rahasia Nivia yang tak boleh diketahui oleh mamanya.


"Sebenarnya , tanganmu kenapa? " Nivia melihat tangan Daisy yang sudah dibalut perban.


"Devan"Jawab Daisy singkat.


" Apa dia macam-macam sama kamu? Dan terus Om Daryn lihat kejadian itu? Dam om Daryn kehilangan akal sehatnya?" Nivia menanyakan hal itu dengan sangat serius pada Daisy.


"Iya, memangnya kenapa?" tanya Daisy


...****************...

__ADS_1


__ADS_2