Calon Ayah Tiri

Calon Ayah Tiri
Rencana Daryn


__ADS_3

Sejak duduk di meja makan, Daisy hanya menunduk. Tak tahan akan menangis, Daisy terpaksa bangun dan berjalan meninggalkan meja makan.


Tapi, Daryn juga bangun mengikuti Daisy dan menarik tangan Daisy agar mengikutinya.


Tio pun bangun hendak mengikuti.


Tapi Tito berdiri di hadapannya.


"Minggir" perintah Tio.


"Maafkan saya. Saya tidak bisa." ucap Tito dengan tegas.


"Kak Tito!!! Minggir. Dia itu wanitaku." ucap Tio berteriak membuat beberapa pengawal langsung menghalau jalan Tio, karena dia mulai memukul Tito.


Dean menangis mendengar semua itu. Dengan cepat di gendong oleh Nyonya Liza dan segera menyingkir dari meja makan.


Abrar yang terkejut, hendak menyuruh melepaskan Tio. Tapi Laura menarik lengan Abrar dan mengajaknya ke ruangan lain.


"Apa yang terjadi?" tanya Tuan Abrar.


"Aku gak tau pasti Yah. Tapi, saat ini Tio akan sangat berbahaya." jelas Laura yang hanya di beri gambaran besar oleh Daryn.


...----------------...


"Tuan, saya akan ikut dengan anda mengunjungi rumah Tuan Abrar." ucap Tito tiba-tiba menghadap pada Daryn.


"Kamu, sudah ku tugaskan kembali menjaga Naza. Kenapa kamu harus ikut dalam acara makan malam bisnisku?" tanya Daryn.


Dan Tito menceritakan kepada Daryn, bahwa dia memiliki adik yang bernama Tio. Ibunya menelepon Tito, karena sebelum pergi. Tio menulis surat untuk Rika.


"Aku tidak ingin ber basa basi lagi. Aku beritahu mama sebuah rahasia. Daisy ternyata keponakanku. Dia adalah putri yang di sembunyikan Laura selama ini. Sama sepertiku, Daisy adalah aib bagi keluarga Abrar. Karena itu. Aku akan membiarkan Daisy mengucapkan salam perpisahan pada keluarganya yang tidak berguna itu, dan juga kepada laki-laki yang menyia-nyiakannya.


Dan aka ku buat dia menjadikan aku satu-satunya keluarga baginya. Selama aku bersama Daisy, aku sudah tidak pernah membunuh lagi. Dia membuatku percaya, bahwa wanita tidak murahan sepertimu. Aku yakin, dia akan menjadi wanitaku saja."


Membaca surat itu, Rika sangat terkejut melihat Tio membawa Daisy.


3 Tahun mengenal Daisy, Rika menganggap Daisy seperti putrinya sendiri. Sudah cukup dia kehilangan putri kecilnya gara-gara Tio. Dia tidak mau ada korban lagi.


Rika akhirnya menelepon Tito dan menceritakan semuanya.

__ADS_1


Karena itu, Daryn mempercepat kedatangannya ke rumah Abrar karena ingin melindungi istri dan anaknya.


Iya, Daryn tidak pernah menceraikan Daisy. Surat yang dia robek tidak bisa dia ajukan.


Daryn langsung menelepon Laura hari itu juga. Daryn memang kaget dan terkejut mengetahui Laura adalah ibu kandung Daisy, tapi dia tak ingin memperdulikan hal lain. Dia hanya harus melindungi keluarganya lebih dulu.


Dan Daryn pun membawa banyak pengawal pribadinya.


...----------------...


"Tuan Daryn." panggil Daisy pelan.


Daryn langsung berhenti di tempat yang sepi, dan menatap Daisy di remangnya cahaya lampu. Dia menatap Daisy, wanita yang selama ini dia rindukan. Dia melihat Daisy dari ujung kepala sampai ujung kaki, melihat istrinya baik-baik saja.


Langsung memeluknya dengan erat. Tubuh empuk yang dipeluk sangat nyaman di pelukannya. Sangat Padat di pelukannya. Sangat Puas memeluknya. Daryn memeluk Daisy merasa lega.


Tapi, Daisy malah menangis dengan keras. Daryn yang terkejut, melepas pelukannya.


"Kenapa tadi mengabaikan ku? Kenapa tadi, sama sekali tidak tersenyum?" ucap Daisy di selah tangisannya.


Tak tahu cara menenangkan Daisy, Daryn langsung membekap kedua pipi Daisy dan menariknya dalam kecupan.


Mendengar itu, Daryn tertawa dan melepas kecupannya.


"sssttt... Jangan menangis." ucap Daryn mengecup kening Daisy.


Mata Daisy mulai berkaca lagi menatap Daryn.


"Tuan Daryn, sudah bertambah tua sekarang." Daisy melihat beberapa helai uban di kepala Daryn.


"Apa kamu lupa, kamu menikah dengan seseorang yang hampir jadi ayah tirimu?" ucap Daryn bercanda.


Daisy menghela kasar. "Heeeeh. Apa sekarang saatnya bercanda? Apa kamu gak tau, bagaimana lukanya hati saya waktu kamu gak hiraukan saya.?"


"Tapi, apa kamu tau. Betapa aku ingin memeluk kamu begitu melihat kamu dan putra kita? Aku berusaha menahan amarahku, melihat tangan laki-laki lain di pinggangmu. Jika bisa, aku akan menghajarnya." ucap Daryn yang memang merasa sangat kesal melihat Tio tadi.


"Apa urusannya dengan kamu. Aku sudah mendatangi surat cerai denganmu." ucap Daisy membuang muka.


Daryn, maju perlahan mendekat pada Daisy, sampai punggung Daisy terhenti oleh dinding.

__ADS_1


"Tidak, aku tidak pernah menerima hal seperti itu. Dan seandainya aku menerimanya. Kamu, tidak akan pernah aku ceraikan."ucap Daryn pelan dan sekarang wajahnya sudah berada di depan wajah Daisy, Daryn mengangkat dagu Daisy agar wajah mereka bertemu.


Daryn mengecupnya sekali.


"Kamu masih istriku." Daryn mengecup pipi kanan Daisy.


"Aku minta maaf." mengecup pipi kanan Daisy.


"Karena sempat meragukan mu."mengecup kening Daisy.


" Karena sempat melepaskan mu." mengecup bibir Daisy.


"Tapi, aku tidak pernah berhenti, mencintai kamu." Daryn lalu mencium bibir Daisy perlahan, melingkarkan tangannya di pinggang Daisy dan menarik tubuh Daisy lebih dekat padanya. Semakin lama memperdalam ciumannya. Daisy pun membalasnya. Tangannya langsung melingkar di leher Daryn.


Bagaimana tidak, semua kata-kata dan kecupan itu, membuat Daisy melupakan amarahnya. Hati dan tubuhnya benar-benar merindukan laki-laki yang ada dihadapannya saat ini.


"Emm.. Tuan. Maaf Mengganggu." ucap salah satu pengawal yang langsung berbalik melihat pekerjaan Tuannya.


"Baiklah, aku segera kembali." Daryn dan Daisy langsung melepaskan ciuman dan pelukan satu sama lain.


"Iya, kita harus segera kembali. Tapi, sebentar." ucap Daisy menatap Daryn ingin mencari tau sesuatu.


"Apa Tuan Daryn sudah tau, siapa aku?" tanya Daisy penasaran dan menatap Daryn.


Daryn mengangguk. "Aku, tidak perduli tentang siapa kamu, atau darimana asal kamu. Karena Aku jatuh cinta pada Daisy, gadis manis, yang baik hati. Yang mencintaiku dan putriku tanpa batas." ucap Daryn mengecup kening Daisy dan mengusap rambut Daisy.


"Sebentar, aku hampir lupa. Aku, punya hadiah untuk kamu." Daryn langsung mengeluarkan sebuah kotak kecil, berisi kalung yang memiliki mata mutiara yang sangat indah. Daryn langsung memakaikannya pada Daisy.


Daisy merasa sangat senang.


"Ngomong-ngomong, siapa laki-laki yang tadi melingkarkan tangannya di tubuhmu?" Tanya Daryn pura-pura tak mengenali Tio, tapi memang merasa cemburu.


"Dia Tio, sahabatku. Dan Juga adiknya Kak Tito. Tapi Dia juga pamanku." ucap Daisy bingung menggaruk kepalanya.


"Sudahlah, intinya dia adalah yang menjaga aku dan Dean selama 3 tahun terkahir ini, dan akan ku kenalkan pada Tuan Daryn. Dia sangat baik dan juga perhatian." ucap Daisy berjalan kembali ke arah meja makan bersamaan dengan Daryn.


Dia sangat terkejut, melihat Tio yang sudah diikat di kursi dan beberapa orang yang babak belur.


"Lepaskaaan.! Lepaskan! Ini. Kenapa kalian memperlakukan Tio seperti ini??? " teriak Daisy sambil menangis.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2