Calon Ayah Tiri

Calon Ayah Tiri
Malam Pertama


__ADS_3

Karena kelelahan, Naza tertidur di kamarnya setelah makan malam dan main game di hp nya.


Akhirnya mereka mendapatkan kesempatan untuk berduaan.


Tapi, tak lama ponsel Daryn berdering, dan mereka berdua menghela nafas kasar bersamaan.


"Maaf yah, aku harus menerima telepon ini." Daisy mengangguk mengerti, ini bukanlah hal baru untuk Daisy melihat Daryn yang sibuk meski cuti untuk liburan bersama Naza.


Dan paling lama, hanya bisa dua hari. Dan Daryn pun selalu sibuk. Tapi, entah mengapa meski dia mengerti tidak mengurangi rasa kecewa di hatinya.


Dia pun, memutuskan untuk menikmati angin malam laut, rebahan di teras luar yang menghadap laut sambil memperbaiki tugas akhirnya. Dan dia pun tertidur sambari menunggu Daryn.


Daisy terkejut, ketika sadar seseorang mengangkatnya.


"Tuan Daryn, turunkan saya. Saya sangat berat." Daisy memeluk leher Daryn untuk tumpuan.


"Kalau masalah ini, aku tidak akan keberatan." Daryn merebahkan Daisy di atas tempat tidur.


Melihat wajah Daryn mendekat, Daisy menutup matanya, Daryn lalu tersenyum. "Tatap aku," ucap Daryn. Daisy membuka matanya ketika Daryn mendekat, ketika bibir mereka bersentuhan keduanya dengan alami menutup matanya menikmati setiap sentuhan dan nafas satu sama lain.


Keesokan paginya, Daryn sudah mandi terlebih dahulu. Daisy terbangun dan merasakan seluruh tubuhnya terasa sakit, terutama bagian utamanya.


"Apakah sesakit ini?Tadi malam baik-baik saja.Hanya awalnya saja."Batin Daisy, berusaha bangun sambil meringis kesakitan.


Daryn yang keluar dari kamar mandi langsung mendekati Daisy.


"Aku sudah siapkan air panas, biar aku menggendong mu." ucap Daryn menggendong Daisy. Dan membantunya membilas dan masuk dalam bathtub.


"Terimakasih tuan." Daisy menutup matanya dan bersandar menikmati air hangat yang membuat tubuhnya terasa nyaman.


"Kenapa Tuan masih ada di sini?" Tanya Daisy yang melihat Daryn masih duduk di dekat bathtub dan menatapnya.


"Aku hanya ingin menatap istriku. Aku tidak menyangka akan jatuh cinta dengan wanita yang sangat menggemaskan." Daryn memasukkan tangannya ke dalam bathtub dan menyentuh perut Daisy, membuat Daisy merasa geli.


"Tuan, stop. Geli." Daisy menahan tangan Daryn dan menariknya.


Sehingga tubuh Daryn kembali basah.


"Jangan memancingku, Aku gak mau kamu terluka. Energiku masih cukup membuatmu kelelahan." Daryn mendekat pada wajah Daisy.


Daisy kemudian menarik wajah Daryn dan menci*mnya dengan kecupan.

__ADS_1


"Terima kasih sudah memperlakukan saya dengan lembut."


"Terima Kasih juga, kamu mau menikah denganku dan merawat anakku, dan calon anak-anakku yang lain." Daryn mengecup dahi Daisy. Mendengar ucapan Daryn, Daisy hanya membalasnya dengan senyuman getir.


"Kenapa?" tanya Daryn setelah melihat ekspresi Daisy.


"Tidak, Tuan. Hanya saja, membayangkan memiliki anak, ada sedikit rasa takut. Tapi, selama Tuan selalu menemani saya. Saya pasti bisa."


Tiba-tiba mereka mendengar suara panggilan dari suara yang tidak asing lagi.


"Papa? Bunda?" panggil Naza.


"Iya sayang, bentar lagi papa keluar." Daryn berdiri.


"Nikmati air hangat mu, aku akan menemani Naza." Daryn keluar menemani Naza bermain.


Setelah berendam lumayan lama, Daisy selesai berganti dan menyiapkan pakaian mereka untuk kembali pulang.


"Naza, pakaiannya sudah dikemas?"tanya Daisy.


Naza mengangguk, "Sudah bunda, kata bunda kan kita pulang setelah sarapan, jadi Naza selesai mandi langsung kemas barang" ucap Naza memamerkan kalau dia sudah bisa mengurus pakaiannya sendiri.


Setelah sarapan. Merekapun langsung berangkat untuk pulang.


Dan untungnya, Naza adalah gadis penurut. Daisy bukan tidak tau, kalau Naza punya banyak pelayan untuk melakukan hal itu, melainkan agar nanti kalau sudah mulai belajar atau besar nanti, setidaknya Naza punya keahlian dasar untuk bertahan hidup.


Setelah itu, Daisy kembali ke kamarnya dan rebahan. Sebenarnya ada rasa tidak percaya kalau dia sudah menikah. Dia melihat lagi cincinnya dan tersenyum.


Daryn menyuruhnya bersiap untuk keluar nanti malam bersama Naza juga.


Sementara itu, Daryn harus melanjutkan pekerjaannya. Dan Daisy pun mengerjakan proposal untuk skripsinya.


Ketika malam tiba, Daisy dan Naza sudah bersiap-siap. Begitu Di atas mobil keduanya di suruh menutup mata.


Apartemen yang dibelikan Daryn, benar-benar sangat privat, setiap unit memiliki parkiran sendiri yang langsung menuju lift untuk masing-masing lantai, jadi privasi mereka tidak akan terganggu.


Begitu membuka mata, Daisy melihat ruangan beserta perabotan yang sudah lengkap. Daisy melihat ke arah Daryn dan merasa bingung.


"Kenapa? Kamu gak suka?" tanya Daryn.


"Gak. Bukan begitu. Saya suka. Tapi ini rumah siapa?" tanya Daisy bingung.

__ADS_1


"Ini rumah kita." jawab Daryn.


"Rumah kita? Kamar Naza mana?" Daryn menunjuk ke sebuah kamar dan Naza langsung pergi memeriksanya.


"Tuan, apa kita akan pindah rumah?" tanya Daisy masih bingung.


"Kita akan di sini kalau siang, kita bisa makan siang bersama, berbicara tanpa harus merasa terganggu dengan orang lain."


Daisy merasa bingung dengan perasaannya. Dia senang dengan ide kalau mereka bisa bebas di rumah baru itu, tanpa harus sembunyi-sembunyi menunjukkan kasih sayang mereka. Tapi, di satu sisi merasa sedih, bahwa kehidupan normal yang dia maksud adalah bukan seperti yang dia bayangkan.


Dia tahu, keputusannya menikahi Daryn, tidak akan bisa sepenuhnya terjadi sesuai keinginannya.


"Terima kasih Tuan." Daisy mengecup pipi Daryn.


"Jadi kapan kita pindah ke sini?" tanya Naza.


"Kita gak pindah sayang, kita hanya akan di sini siang hari. Karena malam harus kembali ke rumah utama." Daisy mengelus kepala Naza dengan lembut.


Dan mereka pun kembali ke rumah utama.


"Kamu suka rumahnya?" tanya Dewi pada Daisy dan Naza setelah mereka di kamar Naza.


Naza mengangguk senang, sambil mengambil cemilannya dan duduk di meja belajarnya. Daisy dan Dewi duduk di sofa kamar Naza. Sementara menurut Daisy rumah itu terlalu besar hanya untuk di jadikan tempat singgah.


"Oh ya,eemmm Nona Dewi. Apa boleh, mulai besok saya yang akan mengurus keperluan pribadi Tuan Daryn?" Tanya Daisy agak ragu.


"Tentu saja, dia kan suamimu. Aku pikir kamu gak akan pernah nanya. Karena aku gak enak, siapa tau kamu merasa tiba-tiba aku membebankan pekerjaan ku sama kamu." Ucap Dewi sambil bercanda.


Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, Daisy sudah masuk ke kamar Daryn untuk menyiapkan pakaian kerjanya. Daryn yang melihat Daisy sibuk di ruang ganti, langsung memeluknya dari belakang.


"Maaf, Tuan Daryn. Saya Sedang menyiapkan baju kerja untuk suami saya." ancamnya sambil bercanda.


"Sampai kapan kamu akan memanggilku dengan sebutan Tuan?"


"Hemmm... Terus Tuan mau saya panggil apa?"


"Sayang? Bagaimana? Atau mas?"


Daisy menunjukkan wajah berpikir. "Sayang? Sepertinya bukan ide yang buruk. Sayang, sekarang saya mau siapkan baju kerjanya dulu yah." Daisy melepaskan dirinya dari pelukan Daryn dan meletakkan pakaian dan jas Daryn di tempat biasa baju yang akan dia gunakan diletakkan.


Seorang pelayan melihat Daryn dan Daisy lalu menjatuhkan alat pel nya.

__ADS_1


"Maaf, Tuan. Saya tidak bermaksud."


...****************...


__ADS_2