
Tiba-tiba bercandaan mereka terhenti, ketika sebuah mobil berhenti di depan rumah.
Semua orang terkejut, ketika melihat Ibu Rika dan Tito turun dari mobil.
Rika berjalan cepat ke arah Laura, dan langsung berlutut di kakinya. Tito berusaha mencegah Ibu Rika.
"selamatkan adikmu. Aku mohon. Aku tau, aku sudah salah melahirkan dia. Tapi Dia tetap anakku dan juga adikmu." ucap Rika memeluk kaki Laura
"ibu Rika, hentikan ini." ucap Laura berusaha melepaskan kakinya.
"bu, saya mohon." Ucap Tito memeluk Ibu Rika menyuruhnya berdiri.
"tidak.. Aku tidak bisa berhenti. Ini semua adalah kesalahanku." ucap Rika masih menangis di kaki Laura.
Daisy tak tega melihat itu semua.
"lebih baik, bicarakan di dalam saja. Ibu Rika. Harus tenang." ucap Daisy menyentuh bahu Ibu Rika.
__ADS_1
Tapi, Ibu Rika malah menepis tangan Daisy. Lalu menatap Daisy dengan marah. Daisy tak mengerti kenapa Ibu Rika malah menatapnya dengan penuh kebencian.
"Ini semua gara-gara kamu yang ingin datang ke sini. Kenapa kamu tidak menikmati hidupmu di desa bersama Tio?" teriak Rika pada Daisy.
Daisy hanya menganga mendengar ucapan Ibu Rika.
"Kenapa anda malah menyalahkan istriku?" ucap Daryn marah.
"maafkan ibu saya Tuan. Dia sekarang sedang tidak bisa berpikir jernih" ucap Tito pelan, dan menunduk meminta maaf.
"oh yah.. Bukan. Ini salah kamu kan. Suami yang mengabaikan perasaan istrinya. Dan Daisy kembali pada laki-laki seperti kamu. Dan membuat Tio yang selalu di sisinya menjadi hanya sekedar bayangan." lanjut Rika marah, dia sudah kehilangan akal sehatnya. Anaknya sekarang di ambang kematian, siapa yang bisa menyelamatkan Tio. Dia akan bersujud bahkan menjilat kaki orang itu.
"Tio yang selalu ada, Tio yang selalu mencintai Daisy di hari-hari sulitnya. Tapi, dia tetap tidak bisa mencintai Tio, tidak perduli seberapa besar pengorbanannya untuk Daisy dan Dean." Rika menunjuk nunjuk dada Daryn menghinanya.
"Ibu, hentikan." Tito memeluk dan menarik tangan Rika dari tubuh Daryn.
"Hentikaan Rika.!!!Bicaralah padaku." ucap Abrar yang baru keluar dari kamarnya semenjak beberapa hari yang lalu.
__ADS_1
Rika lalu menatap arah suara dan berlari memeluk Abrar, hal itu membuat Laura merasa mual dan marah.
Abrar langsung membawa Rika masuk.
"Ini semua adalah salahku." ucap Abrar menatap Rika.
"andai saja, aku menjagamu dan Tio, maka semua ini tidak akan terjadi. Andai saja aku tidak mematahkan hatimu, maka Tio pun tidak akan terluka karena tindakanmu." Abrar lalu menyentuh kedua tangan Rika.
"aku akan berusaha membebaskan Tio dari hukuman m@ti." ucap Abrar menenangkan Rika, dan Rika menyandarkan kepalanya ke dada Abrar.
"aku tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi. Dia sudah menyakiti putriku, dan sudah membun*h ibuku." batin Laura.
Laura lalu masuk ke dalam kamarnya dengan marah.
Daisy bingung. Masalah ini tidak akan pernah selesai. Dia tau, dia banyak berhutang budi pada Tio, tapi Tio juga sudah menyakiti dirinya dan juga menyebabkan neneknya meninggal. Dan saat ini Daisy hanya bersikap netral. Perasaannya terlalu bingung memutuskan akan membela siapa.
"Daisy, kamu akan menyelamatkan Tio kan?" ucap Rika membuat Daisy tak bisa bicara apa-apa.
__ADS_1
...****************...