
Setelah pulang dari restaurant, Daisy langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, dan melihat cincin di jarinya. Daryn tau, Daisy tak suka hal yang mewah, karena itu dia Hanya menyiapkan cincin yang terlihat sederhana.
"Apa aku benar-benar akan menikah? Apa aku perlu kasi tau Ava? Atau Nivia?"
Daisy langsung duduk dan mengambil ponselnya.
Daisy mencoba menghubungi Ava berkali-kali tapi tidak di angkat. Jadi dia hanya mengirimkan pesan. Meski sedih karena tidak dapat memberitahukannya langsung. Memang semenjak kejadian di pesta itu, hubungan Daisy dan Ava merenggang. Akhirnya Daisy menghubungi Bik Imah.
"Bibik...!!!! "
"kenapa, kenapa?" tanya Imah kaget.
"Aku mau sampaikan kabar gembira. Tapi, aku hubungi Ava dia gak angkat telponnya."
"Entahlah, anak itu sudah beberapa bulan ini sering pergi ke klub malam. Dia sering di ajak sama kenalan Nyonya Laura. Kadang mereka berdua pergi sama-sama. Bibi gak tau, bagaimana harus ngomong ke anak itu."
"Itu kan tempat yang paling dia benci, karena bapaknya suka tempat itu." ucap Daisy sedih mengingat Ava sangat membenci klub dan minuman keras sama seperti dirinya.
"iya Daisy, tapi sekarang dia selalu jawab Bibi, bilang kalo sekarang dia tau alasan kenapa bapaknya lebih suka di tempat seperti itu di banding di rumah ini, di anggap sebagai pembantu." Imah menangis.
"Bibi, jangan nangis. Saya jadi ikut nangis." Mata Daisy berusaha menahan air matanya.
"Kalo saya kasi tau berita ini, apa bibi akan kurang bersedih gak yah?"
"Apa Nak? Apa berita gembira itu."tanya Imah penasaran.
"Saya di lamar seseorang, dan saya sudah terima."
"Beneran?? Selamat nak Daisy. Bibi ikut senang dengarnya." Imah mengucap kata syukur dan ikut bahagia.
"Tapi, apa kamu akan kasi tau orang rumah sini." tanya Imah penasaran, karena biar bagaimanapun mereka tetap keluarganya.
"Nggak bi, gak usah. Bibi tau kan mereka gak perduli. Dan juga, pihak sini juga hanya kecil-kecilan dan calon suami saya, saya gak mau orang tau tentang dia. Hehehehehe."
"Baiklah Nak Daisu, Bibi ikut bahagia. Nanti ibu sampaikan ke Ava."
"Tunggu Bi, Apa Ava sama Mama sering keluar bareng? Kalau begitu, saya mau bibi rahasiakan saja sama Ava. Saya pengen ngomong langsung sama dia saja."
Setelah agak lama mengobrol dan kangen-kangenan dengan Imah, Daisy merasa mengantuk dan tertidur.
Sementara itu, Daryn dan Liam masih di ruang kerjanya. Urusan tanggal pernikahan dan hal lainnya Daryn yang akan mengurusnya.
"Carikan apartemen dengan privasi terbaik supaya aku, daisy dan Naza bisa bebas keluar masuk. Tapi yang dekat dengan pusat kota."
__ADS_1
Liam langsung mencatatnya.
"Dan juga, daftarkan pernikahan untuk tanggal 13 bulan ini?"
"Apa? Bulan ini? Itu 8 hari lagi." ucap Liam kaget.
"semakin cepat semakin baik. Ingat, cari orang yang bisa menjaga rahasia dengan baik. Beli apartemen itu, menggunakan nama Daisy."
"Mbak Nadia akan marah kalau dia tau hal ini." ucap Liam sambil mencatat.
"Masalah mbak Nadia, aku yang akan mengurusnya. Kalau bisa, jauhkan dia dari Daisy kalau kamu melihatnya. Dan Jangan biarkan semua pelayan di rumah ini tau. Cukup pelayan lama saja."
Semalaman, Daryn mengatur semuanya agar pernikahannya dan Daisy segera terlaksana dan sebisa dirahasiakan.
Untuk masalah pakaian, dia menyerahkan pada pilihan Daisy dan Dewi.
Ketika sarapan, seperti biasanya mereka berusaha bersikap normal. Tapi Daryn tidak berhenti tersenyum ke arah Daisy dan Daisy juga berusaha menahan pandangannya melihat Daryn.
Ketika akan berangkat pergi kerja.
"Apa aku tidak bisa mencium keningmu saja? "tanya Daryn sambil berbisik pada Daisy.
" Tidak Tuan, tunggu 7 hari lagi." bisik Daisy.
"Tuan?? Hemm, aku akan memikirkan nama yang lebih baik untuk kamu panggil." Dia tersenyum dan langsung mengecup pipi dan dahi Naza.
Setelah pergi, sekarang saatnya mengantar Naza ke sekolah. Seperti biasa, Tito akan mengantar dan mengawal Naza dan Daisy.
"Ada kejadian apa? Kalian Berdua terlihat begitu gembira hari ini?" tanya Tito melihat Daisy dan Naza di belakang.
"Rahasiaaa" ucap Naza dan tertawa kecil.
Tito hanya tersenyum dan menggeleng.
Setelah tiba disekolah, Daisy mengantarkan Naza ke depan pintu kelas, setelah itu kembali ke mobil.
"Aku tau, apa yang berbeda." Tito lalu menatap cincin di jari Daisy, dengan cepat Daisy menyembunyikannya.
"Tuan Daryn benar-benar sudah melamar mu?"tanya Tito agak sedih.
Daisy mengangguk malu.
" Tapi, apa kamu yakin dengan keputusanmu, aku ingat kamu tidak ingin berhubungan dengan orang kaya."
__ADS_1
"Eem... " Daisy lalu menghela nafas pelan.
"Mungkin saya terlihat seperti wanita munafik dan pembohong, tapi saya baru pertama kali merasakan hal seperti ini. Waktu saya putuskan untuk pergi, rasanya di sini sangat perih dan saya sangat merindukan tuan Daryn." Daisy menyentuh dadanya dan menunduk.
"tidak, aku tidak akan menilai kamu seperti itu. Aku tau sejak awal kalau kamu menyukai tuan Daryn, bahkan mungkin semua orang di rumah itu sudah tau. Tapi, mungkin hanya tidak menyangka kalian seserius itu untuk memutuskan menikah."
"Saya juga tidak menyangka nya."Daisy tersenyum malu.
" Apa sekarang, aku harus memanggilmu Nyonya." tanya Tito melihat ke arah Daisy.
"Tidak tidak, Saya akan tinggal terpisah, dan Tuan Daryn berjanji akan membuat hidup saya senormal mungkin. Normal dalam dunia saya. Karena itu, kita mutusin buat rahasiakan pernikahan kita. Hah, oh ya. Kak Tito jangan bilang siapa-siapa yah." Daisy baru sadar sudah menceritakan rahasianya.
Tito tersenyum melihat wajah terkejut Daisy, dimatanya Daisy selalu terlihat menggemaskan.
"Saya ada janji dengan Nona Dewi, saya akan naik taksi. Tolong titip Naza yah." Daisy kemudian pergi menemui Dewi untuk melihat dan mencari bahan pakaian untuk pernikahan mereka. Meskipun Di Pernikahan itu, hanya akan ada beberapa orang saja.
4 Hari sebelum pernikahan, setelah makan malam, Nadia datang dengan emosi.
"Mana Daryn?" tanya Nadia dengan marah.
Tanpa menunggu jawaban pelayan yang kaget, dia langsung masuk ke ruang kerja Daryn.
"Apa kami sudah gila?" Nadia langsung memukul meja kerja Daryn.
"Kecilkan suaramu mbak, Naza masih bangun dan banyak pelayan yang akan mendengar suaramu." Daryn langsung menggunakan suara tegasnya.
"Kamu benar-benar sudah gila. Aku dengar kamu sudah mendaftarkan pernikahanmu, dan dengan gadis itu?" Nadia berusaha menahan suaranya.
"Ini urusan rumah tanggaku. Mbak jangan ikut campur. Dan jangan berani lagi memarahi atau menyentuh Daisy lagi."
"Apa? Kamu sadar, aku ikut campur bukan semata-mata karena perduli perasaanmu, bagaimana kalau hal ini mempengaruhi saham? Dan Kamu tau, berapa sisa sahamku di perusahaan mu?"
"Hanya karena memiliki saham, di perusahaan ku bukan berarti mbak Nadia bisa memperlakukan aku seperti ini. Ingat, aku adalah pimpinan keluarga Leroy, mbak Nadia sudah menikah dengan Anggara, jadi baiknya fokus dengan perusahaan itu. Dan jangan khawatir, masalah kalau mbak mengalami kerugian aku akan menggantinya."
Nadia semakin marah mendengar ucapan Daryn.
"Apa kamu gak ingat, bagaimana kakek di tipu? Dia di tipu yang katanya sahabat dan juga gara-gara seorang wanita. Kalau bukan ayahmu dan mamaku yang mengembalikan semua keadaan. Kamu gak akan bisa melanjutkan semua ini. Dan aku gak mau hal itu terulang lagi."
Lalu tiba-tiba Dewi masuk.
"Ada apa? Semua orang mendengar kalian dari luar"
Melihat Dewi, Nadia yang emosi langsung mendekati Dewi dan menamparnya.
__ADS_1
"Berhenti berakting, dasar pelayan berlagak nyonya."
...****************...