
Begitu tiba di halaman, seorang wanita menghampirinya.
"Apa kamu Daisy?" tanya wanita itu.
"Iya, benar. Ada a... "
"plaaak.... " belum selesai bicara sebuah tamparan mendarat di pipinya.
"Apa yang membuat kamu begitu spesial. Membuat anakku seperti itu? " wanita itu berteriak menarik perhatian orang-orang di sekitar situ.
"apa yang anda lakukan? " Daisy yang masih terkejut dan memegang pipinya.
"cabut tuntutan mu. Anakku sudah babak belur. Jadi harusnya kalian impas."
"Hah... Devan?" tanya Daisy tak percaya.
"Kamu tau, dia butuh waktu berbulan-bulan untuk wajahnya kembali normal. Dan kamu di sini baik-baik saja. Dan kamu membuat anakku harus berurusan dengan hukum? Dan Tuan Daryn, apa yang kmu berikan padanya?" Wanita itu melihat tubuh Daisy yang gemuk dan tertawa sinis menghina.
"Dan aku dengar, kamu hanya menggunakan beasiswa dari kampus ini. Apa kamu tau, beasiswa yang kamu gunakan itu berasal dari uangku juga?" wanita itu semakin menghina.
Wanita itu benar, akhirnya dia juga menggunakan uang orang-orang kaya untuk kuliahnya. Dia tak bisa berucap apa-apa untuk membela diri.
"Tante, apa tante lupa apa yang dilakukan Devan. Apa tante pengen semua orang tau kalau Devan melecehkan orang?" Nivia datang di antara Daisy dan wanita itu.
"Kenapa anda tidak datang padaku secara langsung karena membuat anak Anda masuk rumah sakit.?" Daryn yang baru saja turun dan melihat keributan yang ternyata adalah Daisy.
"Tuan Daryn, apa yang anda lakukan di sini?" wanita itu terkwjut melihat Daryn.
"Apa aku harus melaporkan kegiatan ku pada anda?" Daryn sekarang sudah berdiri di depan wanita itu.
"Tapi, perempuan itu pasti yang menggoda anak saya. Sehingga dia melakukan hal itu. Dan dia berpura-pura jual mahal, dan membuat anak saya marah." lanjut wanita itu membela Devan.
"Tante, Daisy gak pernah godain Devan. Dia yang suka sama Daisy. Daisy nolak dia. Karena itu dia marah." Nivia membela Daisy.
"Daisy adalah pegawai ku. Tentu saja itu urusan ku. Karena itu, baiknya anda bicarakan semuanya dengan ku." Daryn memanggil Liam dengan tangannya.
"Ini, asisten ku. Urus semuanya dengan dia. Dan aku tidak akan mencabut tuntutan itu."
"Tapi, Tuan Daryn."
"Mari ikuti saya Nyonya. " Liam menuntun wanita itu pergi dari lingkungan kampus.
"Apa kamu baik-baik aja?" Nivia melihat pipi Daisy yang di tampar cukup keras tadi. Pipinya masih merah, dan sepertinya akan meninggalkan lebam beberapa hari.
"Aku gak apa-apa." Daisy pun langsung pergi berlari dari pusat perhatian.
Dia menahan air matanya, sejak Nivia datang membelanya. Bukan karena sakit di pipinya. Tapi rasa malu yang dia tanggung.
"Daisy, tunggu." Nivia ingin mengejar Daisy.
"Biarkan saja dia." Daryn melarang Nivia mengejarnya.
__ADS_1
"Tapi, Om."
"Sekarang tugas kamu, mengantar Om ke kantor. Karena sekretaris Om sedang sibuk."
"Hemm... Ayoklah. Aku ambil mobil dulu." Akhirnya Daryn menumpang dengan Nivia.
"Apa kamu masih tidak teguran sama Daisy? "
Nivia menghela nafasnya kecewa.
"Dia itu keras kepala, dari orang-orang yang ku kenal. Dia paling keras kepala. Sampai sekarang pun, dia gak pernah cerita alasan dia membenci orang kaya. Padahal hari itu, aku hanya kesal dia tak membagi alamat tempat tinggalnya. Dan dia sangat marah. Ahhh..aku gak tau lagi. Dia itu asyik kalau lagi gak kumat dan stress sendiri."
"Setiap orang, punya kisah hidup masing-masing." ucap Daryn singkat, tang juga penasaran dengan alasan Daisy membenci orang kaya.
Tak lama kemudian mereka tiba di kantor Daryn.
Tiba di ruangannya, Dia duduk di kursinya. Bingung bagaimana harus membujuk Daisy agar mau bekerja padanya. Karena sangat sulit membujuk Naza. Dan dia tak akan bisa menolak keinginan putrinya itu.
Melihat jam tangannya, dia harus mengunjungi seseorang. Karena bukan Daryn jika tidak bisa mendapatkan yang dia inginkan, apalagi itu demi Naza.
Tiba di sebuah kafe, dia langsung duduk di sebuah meja yang tidak terlalu ramai orang lalu lalang.
"Apa yang ingin anda pesan?" tanya seorang pelayan.
"Saya ingin di layani oleh Daisy." ucap Daryn singkat. Selanjutnya Liam yang menjelaskan pada pelayan itu dan manajer restauran bahkan sampai menelepon pemilik restoran.
"Daisy, kamu di suruh melayani pelanggan di meja nomor 12“ sapa pelayan itu pada Daisy yang sedang sibuk menjadi asisten koki.
"Maaf chef, tapi ini permintaan pemilik restaurant."
"pergilah, Arga. Gantikan Daisy." Dengan cepat pegawai lainnya membantu koki menyiapkan makanan.
Setelah mengganti seragamnya yang bau asap. Daisy berjalan keluar.
Melihat Liam di meja sebelahnya dia tahu siapa yang mencarinya.
"Apa yang ingin anda pesan Tuan?" ucap Daisy agak menahan suaranya kesal.
"Aku ingin bicara."
"Maaf Tuan, restoran hari ini sangat sibuk. Dan saya tidak punya waktu jika anda tidak memesan makanan." Daisy akan melangkah pergi, Daryn lalu berdiri menghalanginya.
"Duduk, aku serius ingin bicara."
Daisy menghela nafasnya dengan kasar, dan duduk di hadapan Daryn.
"Jadilah babysitter Naza, aku akan menggaji mu 5 kali lipat dari gajimu di sini."
"Anda bisa menggaji orang lain. Saya Tidak memerlukannya. Jika hanya itu yang anda perlukan, saya permisi." Daisy hendak bangun.
"Duduk" ucap Daryn mulai tak sabar.
__ADS_1
"Tuan, saya mengerti anda ingin mengabulkan permintaan anak Tuan. Tapi apa tidak keterlaluan, jika hanya demi putri anda, anda memaksa kehendak pada orang lain?" Daisy yang duduk dan menatap kesal pada Daryn.
"Aku tidak perduli, yang putriku inginkan hanya lah kamu."
"Hanya? Apa Tuan tidak berfikir kalau aku manusia yang punya pendirian dan keinginan? Dan saya ingin Tuan tidak mengganggu saya. Dan apa yang Tuan lakukan sekarang, tidak ada bedanya dengan apa yang Daryn lakukan. Memaksa Kehendaknya pada saya."
Daryn yang marah kemudian berpindah tempat duduk di samping Daisy.
"Jangan pernah samakan aku dengan brengsek itu. Jika aku ingin memaksakan kehendak ku padamu. Aku akan langsung menculik mu. mengurung mu di rumahku." Daryn mendekatkan wajahnya ke wajah Daisy, Daisy pun memundurkan tubuhnya sampai rapat ke dinding.
Jika orang lain melihatnya, mereka akan terlihat sedang berciuman.
Daisy yang agak takut, mendorong tubuh Daryn menjauh. Tapi, tubuhnya tak bergeming.
"Emmm... Saya minta maaf dan mengerti. Jadi tolong jauhkan wajah anda."ucap Daisy menahan nafas.
Baru Daryn menarik dirinya dari Daisy. Setelah itu Daisy baru bisa bernafas lega.
" Setahun, sampai dia bisa mengerti dan tidak akan menangis ketika merindukan mu. Aku sangat kelelahan, dan kamu juga harusnya bertanggung jawab, karena membuat putriku ketagihan dengan Snack dan kehadiranmu."
"3 bulan. Dan saya malam itu hanya membantunya untuk bisa tidur." jawab Daisy.
"6 bulan. Putriku lebih sensitif saat itu. Jadi apapun yang kamu lakukan memasuki perasaannya lebih dari yang kamu duga. Dan jika kamu menolaknya. Kamu akan melihatku, setiap hari di tempat kerjamu, di kampusmu, dan mungkin kamu akan melihatku di sekitar kost mu."
Daisy bergidik, membayangkan dia akan di ganggu seperti ini setiap hari.
"Oke.oke. Tapi bagaimana dengan kuliah saya?"
"Supirku akan mengantar dan menjemputmu setiap kuliah dan kemanapun kamu pergi."
"Emmm... Oke. Apa saya perlu menginap?"
"Tentu saja, dia mencari mu tiap pagi, jadi kamu harus ada di rumahku tiap hari."
"Baiklah, saya akan menyiapkan barang-barang saya, dan besok saya ak... "
"Hari ini, sekarang juga." Daryn memotong ucapan Daisy.
"Apa? Sekarang juga? Bagaimana dengan pekerjaan dan hal lainnya."
"Liam akan mengurusnya. Ayo bangun." Daryn bangun dan mengulurkan tangannya pada Daisy.
Daisy menerimanya, dan mereka berjalan ke mobil dan memasukinya bersama.
Dalam perjalanan, mereka berdua hanya diam.
"apa keputusan ku sudah tepat. 6 bulan, bukan waktu yang singkat." batin Daisy.
Akhirnya mereka tiba, Naza sudah menunggu di pintu depan.
"Tante Daisy..." Naza berlari dan langsung memeluknya.
__ADS_1
...****************...