
Melihat hamparan pemandangan yang indah, dan masih alami Daisy tersenyum menarik nafasnya dalam-dalam merasa tenang.
" Semoga kita bisa melewati hari-hari kita di sini dengan bahagia." ucap Daisy mengelus perutnya.
"ohh, itu dia yang rawat rumah ini."ujar kepala desa.
Seorang pemuda lewat.
"Nak Tio, kenalkan ini tetangga barumu. Namanya Daisy." Tio dan Daisy bersalaman sambil tersenyum.
"Daisy ini, lagi mengandung, tolong di bantu yah. Kasi tau ibu Rika, biar ibu kamu juga bisa bantu." ucap bu kades.
"Baik bu, selamat datang Mbak Daisy. Semoga betah di desa ini."
"Sepertinya kalian seumuran deh. Berapa umurnya Tio sekarang?" tanya pak Kades.
"26 tahun pak, jalan 27“ jawab Tio.
" berarti kita seumuran. Panggil Daisy saja." sahut Daisy.
Lalu pak Kades dan Bu Kades pun pamit.
"Ini barang-barangnya semua?" tanya Tio.
Daisy mengangguk, barang bawaannya hanya satu koper.
"Didalam belum ada sapu dan peralatan lainnya. Kalau mau bisa pinjam dulu di rumah. Setiap Sabtu kita ke pasar di kota, baru bisa nitip. Tapi, dalamnya bersih kok. Setiap hari saya bersihkan." ucap Tio.
"Terima kasih"ucap Daisy.
Tio membantu Daisy membawa barangnya ke dalam rumah setelah itu pamit untuk pergi.
Beberapa tetangga sebelahnya, mengantarkan makanan untuk makan, dan berkenalan dengan Daisy. Meski merasa canggung, tapi Daisy benar-benar merasakan kehangatan tetangganya.
Di rumah itu sudah ada peralatan masak. Semua isinya sudah lengkap, karena memang rata-rata pemiliknya meninggalkannya untuk kembali lagi ke desa itu.
"Kak Tito benar, orang-orang disini sangat perhatian. Gak heran kak Tito juga sangat perhatian." batin Daisy.
Ketika hari sudah mulai malam. Daisy mulai merasakan kesepian menyapa dirinya.para tetangga sudah sepi dan masuk rumahnya sekitar pukul 8 malam.
Daryn, dia sangat merindukannya. Ingin Berada di pelukan hangatnya. Merindukan Naza yang datang tidur disampingnya ketika merasa kesepian.
Daisy menangis sampai tertidur.
__ADS_1
Ketika pagi, dia bangun membuka pintu. Semua tetangganya sudah sibuk dengan kebun sayur dan buahnya.
"Tio, kalau saya mau beli bahan makanan dimana." tanya Daisy yang melihat Tio baru saja dari kebun belakang rumahnya.
"ambil aja. Kalau Buat konsumsi kita dipersilahkan ambil dari tetangga. Kamu maunya sayur apa? Biar aku petikan di kebunku."
"Sawi, bawang dan cabai cukup."ucap Daisy.
"Gak mau ikan? Cuma memang ikan harus dibeli di pertigaan, tempat yang ada warungnya." tawar Tio.
Daisy mengangguk, dan Tio mengantarkannya ke warung, dia di sapa dengan ramah oleh orang-orang di warung itu.
Setelah masak, Daisy mengajak Tio untuk makan.
"Ibu kamu mana?" tanya Daisy.
"masih tidur, karena biasanya pulang tengah malam. Ibu saya kerja di warung yang ada di dekat halte. Jadi, tengah malam baru pulang." jelas Tio.
Semua orang di sekitar rumahnya sangat ramah.
"kamu tau, arti nama desa ini?"tanya Tio menyesap teh yang disediakan oleh Daisy.
"Apa artinya?" tanya Daisy penasaran.
"kita punya tetangga baru ternyata sekarang " Ibu Tio yang keluar dari rumahnya menyapa Daisy dan Tio dengan keadaan rambut yang masih acak-acakan .
Iya hanya bisa diam melihat penampilan ibunya yang sangat berantakan ." Apa itu tidak bisa rapikan dulu rambutnya sebelum keluar ? "
" Ah sudahlah gula tidak ada yang akan melihat ibu " ucap Ibu Rika sambil merapikan rambutnya dalam keadaan kesal .
Setelah itu Ibu Rika mendekati Daisy dan memperhatikan wajahnya dengan seksama ." Ada apa gadis sepertimu bisa tinggal di desa ini? " ucap wanita itu sambil tersenyum ke arah Daisy .
" seperti nama desanya saya ke sini untuk bersembunyi " jawab Daisy sambil bercanda.
Setelah saling mengenalkan diri mereka lalu mengobrol sebentar dan kemudian Tio kembali ke kerjaannya begitu juga Ibu Rika yang kembali ke kamarnya untuk tidur lagi .
Beberapa hari tinggal di rumah itu, membuat Daisy merasa tenang, tapi juga merasa rindu dan bersalah pada Naza. Dia pernah berjanji pada Naza bahwa dia tidak akan meninggalkan Naza seperti Alea meninggalkannya.
Meski menyibukkan dirinya dengan berkebun dan memelihara beberapa ayam, yang ternyata tidak mudah. Dan sebagian besar di bantu Tio.
Dia masih merindukan anak dan mantan suaminya.
Dan dia pun memutuskan menulis surat untuk Naza. Setiap hari Sabtu, Daisy akan menumpang bersama Tio menuju kota.
__ADS_1
Mereka berpisah di halte kota dan menyelesaikan urusan masing-masing, dan bertemu lagi sore hari untuk kembali ke desa.
Daisy sengaja mencari kantor pos yang jauh agar tempat tinggalnya tidak di ketahui oleh Daryn. Dia memang sakit hati, dan marah pada Daryn. Tapi, dia juga tidak berhenti mencintai dan merindukan Daryn.
Apalagi, kehamilannya sangat mempengaruhi perasaannya. Rasa rindunya yang semakin dalam, kadang menghasutnya untuk kembali.
Tapi, niat itu selalu dia urungkan mengingat bisa saja tempat itu bukan untuknya lagi.
Beberapa bulan berlalu, Tio selalu mendampingi Daisy di setiap tahapnya. Bahkan dokter tempat ia memeriksa kandungannya berpikir bahwa Tio adalah suaminya.
Memang Tio sangat perhatian padanya.
Remang-remang lampu malam di setiap rumah menjadi teman Daisy tiap malam. Disaat semua orang terlelap, dia masih larut dalam kesedihannya merindukan orang-orang yang dia sayangi.
"Masih belum tidur?" tanya Tio keluar menyapa Daisy.
Daisy mengangguk tersenyum, dan mempersilahkan Tio untuk duduk.
"Masih rindu dengan mantan suami? Dan anakmu?" tanya Tio dan duduk di teras bersama Daisy.
"Aku mungkin akan merindukan mereka terus-terusan. Dan gak akan bisa berhenti. Aku selalu membayangkan betapa bahagianya mereka ketika melihat perutku yang membesar, membayangkan mereka akan selalu di sampingku menunggu bayi ini lahir." ucap Daisy mengelus perutnya.
"Dia bergerak" ucap Daisy tersenyum.
"Apa kamu juga pengen ketemu dan kangen sama Papa dan juga kakakmu?" batin Daisy.
Tio langsung menyentuh perut Daisy. "iya, benar. Waaaahh.. Menakjubkan." ucap Tio tertawa, membuat Daisy agak terkejut lalu tersenyum.
Melihat Tio sangat senang, dia membayangkan Daryn dan Naza pasti akan lebih bahagia. Tanpa dia sadari air matanya mengalir.
Tio, lalu melihat ke arah Daisy yang menangis.
"kenapa kamu gak hubungi mereka sesekali? Toh, kamu selalu mengirimkan surat untuk putrimu. Mungkin mantan suamimu juga mengharapkan kabar darimu." ucap Tio.
"Kamu tau darimana? Apa aku pernah cerita?"
tanya Daisy bingung, dan mengusap air matanya. Karena memang dia tak ingat memberitahu siapapun tentang surat yang dia kirim untuk Naza.
"Mungkin, apa aku salah dengar?" ucap Tio pura-pura tak tahu.
"Kalau begitu aku pulang dulu. Semoga dia bisa keluar dengan selamat. Jangan terlalu lama di luar, sekarang sangat dingin." Tio tersenyum melihat ke perut Daisy dan kembali ke rumahnya. Begitu juga Daisy.
...****************...
__ADS_1