Calon Ayah Tiri

Calon Ayah Tiri
Jangan Mengusikku


__ADS_3

"Apa yang kamu lakukan?" Nadia berteriak dan memukul meja Daryn.


"Bukankah, harusnya aku yang harus bertanya?"ucap Daryn datar.


Daryn sidah cukup bersabar menghadapi kakak sepupunya itu. Karena itu, ia membuat peringatan keras lainnya pada Nadia.


Daryn membuat, perusahaan suaminya di selidiki jaksa atas kasus penggelapan dana dan pencucian uang.


"Kenapa kamu bisa setega ini?" Nadia mulai menangis.


Daryn menghela tak percaya pada kakaknya itu. Wanita yang dia kenal sangat baik itu, berubah menjadi wanita licik tak tau malu.


Nivia kemudian masuk ke ruang kerja Daryn.


"Om, saya tau, mama sudah keterlaluan. Tapi Om juga tau kenapa mama begini."


Daryn menggeleng dan menghela nafasnya.


"Om tau, apa yang sudah mama kamu lalui. Tapi mengusik kehidupan Om, mengusik Daisy dan keluarga Om adalah hal yang berbeda. Sampai mana om harus memahami tingkah laku mamamu?"


"tapi Om, om tau sendiri. Keputusan Daisy untuk meninggalkan rumah ini, bukan sepenuhnya salah mama. Aku tau mama memang ikut andil. Tapi.... " Nivia berhenti bicara. Karena apapun yang dia katakan, tidak bisa mengubah fakta bahwa Nadia adalah penyebab utamanya.


"Mama bisa keluar dulu? Biarkan Nivia ngomong sama Om Daryn." Nadia berusaha menahan amarahnya dan menangis keluar dari ruang kerja Daryn.


Setelah Nadia keluar Nivia memberitahu Daryn tentang surat yang Naza terima.


"Tapi, om jangan bilang-bilang Naza. Karena aku janji gak bakalan kasi tau siapa-siapa." ucap Nivia pelan dan mengatupkan bibirnya.


Daryn menghela pelan. Entah, apa dia harus merasa senang atau merasa sedih. Dia senang, karena Daisy masih memikirkan Naza. Tapi, dia juga sedih, bahwa dirinya tidak termasuk orang penting yang perlu dia kabari.


Daryn tau, dimanapun Daisy berada dia akan baik-baik saja. Tapi dia juga memikirkan keadaan Daisy yang baru kali pertama mengandung dan hal itu membuat dia menghawatirkan Daisy dan calon anak mereka.


Daryn menyuruh Nivia kembali, dan memberitahu Nivia, dia akan berhenti memojokkan perusahaan ayahnya, selama Nadia berjanji tidak akan mengusik kehidupannya lagi.


Nivia menyetujuinya, dia akan membuat Nadia agar berhenti mengganggu kehidupan asmara dan rumah tangga Daryn. Dan keluar dari ruang kerja.


Daryn membuka laci mejanya. Dia melihat foto Daisy, foto USG, dan surat cerai yang sudah dia robek.

__ADS_1


"Aku, tidak akan menceraikan mu. Karena jika kamu ingin menikah lagi atau sudah move on dariku. Kamu akan tetap harus menemui ku. Tapi, aku harap jika kita bertemu, adalah karena kamu merindukanku dan ingin bersamaku lagi." ucap Daryn.


Daryn berusaha sabar, bagaimana bisa dia masih belum mengetahui keberadaan Daisy. Tapi mengingat calon anak mereka, dia mulai merasa sangat tak sabar, dia ingin menemukan Daisy secepatnya. Tapi, apa yang diberitahukan Nivia masih tidak cukup untuk menemukan Daisy.


Dia sudah mencari daerah kantor pos yang di gunakan Daisy untuk mengirim surat. Tapi, dia tidak bisa menemukan petunjuk apapun. Bahkan telpon yang diberitahukan Daisy selalu berubah-ubah tiap 2 minggu, sehingga mereka masih susah menemukannya.


Naza yang pulang sekolah, menemukan suratnya di usik. Langsung berteriak sekencang-kencangnya membuat seisi rumah sangat terkejut.


"Ada apa Nona Naza?" tanya seorang pelayan.


"Siapa yang ngambil surat Naza?" dia berteriak dan membanting semua isi kamarnya.


Daryn yang baru datang, langsung memeluk Naza dengan erat.


"Sayang, maafin papa. Papa cuma ingin segera menemukan Bunda kamu." bisik Daryn.


"Apa Naza gak mau kita ketemu dan ngumpul lagi?" tanya Daryn membuat Naza tenang.


Naza lalu menggeleng."Bunda gak mau kembali. Bunda merasa bahagia di sana." ucap Naza masih menangis.


waktu Bunda masih ada di sini. Bunda selalu nangis nungguin papa. Papa sering lupa janji papa, tapi Bunda selalu nungguin Papa dengan senyum." ucap Naza.


Daryn tidak tau, benar-benar tidak tau. Bahwa setiap dia terlambat dan mengingkari janjinya. Daisy selalu menangis dan berusaha membesarkan hatinya untuk bersabar agar tetap memahaminya. Bahwa wanita yang mencintainya itu, mengeluarkan air mata lebih banyak dari yang dia tau.


"papa, gak tau. Memang gak pernah tau. Karena Bunda selalu nangis diam-diam."lanjut Naza.


Naza, bukan lagi gadis kecil yang menangis karena merindukan mamanya. Bukan lagi gadis kecil yang menangis ketika Daisy pergi meninggalkannya. Dia yang menjadi saksi, kecewanya Daisy selama 3 tahun pernikahan Daryn dan Daisy.


Tapi, rasa cintanya pada Daryn dan Naza membuatnya bertahan. Dia juga tau, betapa Daryn mencintainya, karena itu dia tetap bersama Daryn dan Naza.


Kebimbangan Daryn lah yang akhirnya membuatnya mundur setelah sekian lama bertahan. Meski usianya berbeda 12 tahun, Daisy belajar mencintai dari ayahnya, dan berusaha tidak seperti ibunya.


Hari Sabtu yang dijanjikan Daisy pada Naza pun tiba.


Sementara itu, Daisy menunggu panggilan telepon dari Naza di sebuah toko. Anak buah Daryn, sudah beberapa yang menunggu.


Daisy tau dan mengenal dari beberapa orang yang ada di sekitarnya.

__ADS_1


"Dia menemukanku." batin Daisy. Tapi, dia bingung dengan perasaannya.


Dia menikmati kesendiriannya saat ini.


Tapi, dia juga melihat berita kehamilan Alea di berita.


Sementara dia mengandung dan Alea juga mengandung. Apakah dia akan harus memberikan anaknya untuk Daryn dan Alea?.


Daisy menggeleng tak percaya.


"Dia tidak akan membawaku dengan paksa kan?Jika benar, aku tidak akan memaafkannya" batin Daisy, merasa marah dan gugup dengan pikirannya sendiri.


Daisy menitipkan pesan pada pemilik toko, jika nanti Naza telepon.


"Sampaikan pada Papa, jangan lakukan hal yang membuat Bunda menyesal pernah mencintainya. Bunda sangat mencintai Naza, dan Bunda yakin pasti ada jalan keluar buat perasaan kita saat ini. Bunda akan mengabari Naza untuk kita yang selanjutnya."


Saat Daisy keluar dari toko, dia langsung ke halte bus. Dan berkeliling ke beberapa kota sebelum kembali ke kota yang akan mengantarkannya ke desa tempat tinggal barunya. Setelah sudah tak melihat tanda pengawal Daryn.


Ketika dia sampai, Tio sudah menunggunya sampai malam.


"Maaf, aku harus berkeliling ke beberapa tempat mencari keperluan bayiku." Daisy merasa bersalah pada Tio yang sudah menunggunya.


"bukan apa-apa. Hanya saja kendaraan ke arah desa akan susah kita dapatkan." ucap Tio membawa barang yang banyak.


"Maaf" Daisy tersenyum merasa bersalah.


"Ya sudah, kita duduk di sini saja dulu. Meskipun perjalan dari sini hanya 30 menit, kalau kondisi kamu berjalan ke desa, aku yakin kita akan nyampe tengah malam." Tio menggeleng sambil melihat perut Daisy bercanda.


Daisy hanya tersenyum mendengar candaan Tio yang garing.


"oh yah, ngomong-ngomong. Aku tadi sempat dengar gosip. Katanya di desa kita ada penculikan gadis-gadis yah?"


Tio lalu menatap Daisy.


"Hanya gadis-gadis. Wanita dewasa juga." jawab Tio dengan wajah yang datar.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2