
Setelah 4 jam melalui masa yang sulit, akhirnya bayi laki-laki itu lahir.
"Siapa namanya?" tanya Rika pada Tio yang menggendong Dean.
"Dean Austin" ucap Tio. Karena Daisy tidak memberi tau nama akhir dari putranya.
Begitu mendapat panggilan dari tetangganya, Tio langsung dengan cepat menyusul Daisy dan Rika ke rumah sakit. Untung saja, mereka memutuskan memilih kota yang tidak terlalu jauh dari desa.
Daisy tersenyum dan juga menangis ketika memeluk bayinya yang baru lahir. Dia sangat bahagia bayinya lahir dengan selamat. Dengan segala kesulitan yang dia alami bersama putranya selama 5 bulan lebih. Tio menemani Daisy ketika melahirkan.
Melihat Tio, Daisy membayangkan jika yang menggendong Dean adalah Daryn. Tanpa sadar dia menangis terisak.
"Kenapa Nak Daisy?" tanya Ibu Rika lalu memeluk Daisy dan mengelus punggungnya tanpa berkata apa-apa.
"Aku kenapa sih? Kenapa hatiku rasanya sedih banget. Padahal aku harusnya bahagia. Dan kenapa aku harus merindukan Tuan Daryn? Harusnya dia ada di sini menemaniku dan Dean. Dan Naza, pasti dia bahagia akhirnya memiliki adik." batin Daisy.
"Sepertinya dia lapar." ucap Tio menyerahkan Dean pada Daisy.
"Kalau begitu, aku kembali ke desa dulu. Kabari kalau ada sesuatu." ucap Tio dengan raut datar.
Daisy terkejut, mendengar Tio tiba-tiba pamit.
Rika lalu mengejar Tio ke luar ruangan.
"Kamu kenapa kelihatan kecewa gitu? Apa kamu sedih dia nangis ingat suaminya? Maksud ibu, mantan suaminya."
"Gak kenapa-kenapa. Lagipula wajar dia ingat mantan suaminya." ucap Tio datar lalu pergi meninggalkan rumah sakit.
"Tio kenapa Bu Rika?" tanya Daisy pada Rika yang baru saja masuk kembali ke ruangan.
"Dia sibuk. Dan harus urus kebun dan ternaknya." jawab ibu Rika tersenyum.
"Aadduhhh... Tampannya bayi ini. Hidung yang mancung, kulit bening. tu tu tutu.." ucap Ibu Rika gemas melihat Dean di pelukan Daisy sekaligus mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
Daisy tersenyum melihat bu Rika.
"Dan apa Mama, akan sebahagia ini, jika melihat anakku? Tuan Abrar dan Nyonya Liza juga? Aku membayangkan wajah Ava dan juga bi Imah." batin Daisy, dan air matanya keluar lagi. Melahirkan bayinya membuat dia merindukan semua keluarganya. Meskipun beberapa memang tidak menganggapnya sebagai keluarga. Daisy memang sering membayangkan seandainya keluarganya adalah keluarga biasa yang membagi kasih sayang satu sama lain.
"Berhenti menangis. Bahagia lah berdua bersama Dean. Dan orang-orang yang perduli padamu." Batin Daisy menyemangati dirinya sendiri kemudian mengusap air matanya.
Setelah Dean tertidur dia meletakkan Dean di tempat tidurnya. Dan Ibu Rika masih setia menemaninya. Setiap pagi, Tio akan datang sekedar mengantarkan makanan dan menggendong Dean. Daisy merasa sangat berterimakasih kepada Tio dan Bu Rika. Dan juga tetangga-tetangganya.
Setelah 3 hari , Daisy di perbolehkan pulang. Bahkan sampai di desa pun. Bu Rika dan Tio bergantian membantu Daisy.
"Darimana aku bisa temukan orang-orang baik seperti mereka?" batin Daisy.
Tio selalu setia menemani Daisy dan Dean. Tak pernah sehari pun dia berlibur membantu Daisy mengurus Dean.
Sementara itu, Daryn yang masih khawatir akan keadaan Daisy merasa menyesal karena tak membiarkan pengawalnya mengikuti Daisy sampai tempat tinggalnya.
"Bod*h.. Bod*oh. Dan sekarang kamu hanya bisa khawatir." hujat Daryn pada dirinya sendiri.
"Tuan, Nyonya Alea ingin bertemu Tuan."
"Aku pengen ajak kamu, unyuk makan malam bersama yang terakhir." ucap Alea tanpa basa-basi.
Daryn menatap Alea dengan penuh tanya.
"Aku akan berangkat lagi keluar Negeri." ucap Alea sambil tersenyum.
Setelah agak lama berpikir, Daryn setuju untuk makan malam bersama.
Alea sudah duduk menunggu Daryn datang Dia menyambut Daryn dengan senyuman.
"Maaf, aku terlambat." ucap Daryn langsung duduk.
"Aku sudah terbiasa, sejak kita pacaran pun. Kamu selalu datang terlambat." sindir Alea sambil tersenyum.
__ADS_1
Daryn hanya mengangguk membalas senyum Alea.
Setelah makan, mereka pun mulai bicara. Memang kebiasaan mereka ketika makan, mereka hanya akan fokus makan. Jadi mereka memulai mengobrol ketika mereka menikmati hidangan pencuci mulut.
"Maaf menyinggung mu tadi." ucap Alea lalu menyuap chesee cake nya.
"Iya, tidak apa-apa. Aku tau akan hal itu." balas Daryn.
"Jujur, sebenarnya aku sendiri tidak begitu tahu alasanku ingin kembali. Karena jika aku benar-benar mencintaimu. Harusnya sejak awal aku tidak pernah meninggalkanmu."
"Itu semua sudah di masa lalu. Aku sudah melupakan." belum selesai bicara, Alea menggeleng melihat Daryn.
"Sebenarnya Naza bukanlah satu-satunya alasan aku untuk pergi."
Daryn mengangkat alisnya menanyakan maksud ucapan Alea.
"Naza? Aku juga menyayanginya. Aku tau, belum bisa menganggap dia sebagai putriku sendiri. Saat aku pergi, aku berpikir bahwa aku tau, ternyata aku hanya sebatas itu dalam hidupmu. Aku wanita yang belum pantas untuk kamu perjuangkan. Meskipun dengan berbohong. Aku pergi, karena kamu tidak pernah membicarakan ataupun memberitahuku setiap keputusan besar yang kamu ambil. Aku merasa seperti terasingkan. Aku seperti bukan bagian dari rumah tangga yang kamu jalani." Mata Alea mulai berkaca-kaca.
"Melepaskan mu, tidak pernah mudah untukku dan Naza. Aku, sebenarnya memberikanmu waktu untuk menata hatimu. Aku, berkali-kali mengatakan pada diriku. Bahwa, aku terlalu banyak untukmu. Bahwa kamu akan kembali di saat kamu siap. Aku sudah merencanakan segalanya sampai saat kamu kembali padaku dan Naza. Tapi, siapa yang akan menyangka, bahwa istana yang ku bangun tinggi dan megah untukmu kembali, ternyata hanya sebuah istana rapuh. Aku membangunnya agar aku kuat setelah kepergianmu." ucap Daryn panjang lebar, tentang bagaimana Dia dan Naza terluka dan bisa sembuh karena kehadiran Daisy.
"Karena itu, awalnya aku sangat bingung dengan perasaanku. Aku merasa lega, kamu sudah tidak tersakiti karena aku. Tapi, melihatmu menyukai wanita lain. Juga menyayat hatiku. Tapi, sekarang aku tau dan mengerti. Istanaku tidak ada lagi dalam kerajaanmu."
"Maafkan aku, jika aku menyakitimu di masa lalu." ucap Daryn.
"Aku juga, minta maaf mengusik kehidupanmu dengan Daisy."
"Itu adalah salahku, yang percaya dengan permainan Mbak Nadia." Ucap Daryn sedih.
"Aku tau, mbak Nadia tidak akan menyerah. Tapi, aku tidak mau lagi terlibat.Dan Terima kasih sudah mau meluangkan waktumu buat ku." Ucap Alea mengulurkan tangan dan mengajak Daryn bersalaman.
Daryn bersalaman dengan Alea.
"Dan aku berharap, kamu dan Daisy akan berakhir bersama. Selamat tinggal Daryn." Dan Alea pun pergi.
__ADS_1
Daryn duduk membayangkan, seandainya waktu itu dia menemui Daisy lebih awal, seandainya dia tak pernah meragukan Daisy, seandainya dia tak pernah membuat Daisy sering menangis. Begitu banyak penyesalan yang terjadi dalam pikiran Daryn.
"Tuan, kami menemukan rumah sakit tempat Daisy melahirkan." ucap Liam menyadarkan Daryn dari pikirannya.