
Dia menunjukkan surat dan amplop yang terletak di meja kerja Daryn didalam apartemen. Daryn berjalan perlahan melihat 3 buah amplop. Dia menggeleng dan senyum tak percaya.
"Aku harap ini bukan." ucapnya sembari mengambil amplop di atas meja itu. "Aku tidak mungkin bisa membiarkan Daisy pergi." ucap Daryn meraih amplop di atas meja.
Melihat Daryn hendak membaca surat, Liam izin untuk mencari kemana Daisy pergi.
Daryn yang sedang membaca surat Daisy, menangis. Kemudian dia marah membanting semua yang ada di meja kerjanya.Bahkan merobek surat permohonan cerai milik Daisy.
Dia marah pada dirinya sendiri. Hanya karena sebuah foto yang belum dia tau kebenarannya dia mengabaikan Daisy.
Sementara Liam sedang menuju ruang keamanan ingin memeriksa CCTV.
"Aku terlambat, aku membuatnya menunggu terlalu lama." ucap Daryn dengan tangannya yang berdarah karena benda di atas meja.
Bagi beberapa orang, satu malam bukanlah waktu yang lama. Tapi, Daryn tau, bagi Daisy menunggu ketidak pastian adalah keraguan. Dan ketika ragu, berarti orang itu punya keinginan untuk melepaskan.
"Apakah dia berpikir aku memilih Alea?" batin Daryn. Dia menggeleng tidak bisa membayangkan pikiran apa saja yang dipikirkan Daisy apalagi setelah melihat Alea menciumnya.
Daryn merasa bingung, tidak tau harus mencari Daisy ke mana. Dia belum tau banyak tentang Daisy, karena Daisy yang memintanya menunggu sampai Daisy siap memberi tahu tentang kehidupan Daisy.
Melewati keseharian, membuat Daryn lupa dan tidak perduli bagaimana masa lalu Daisy, karena Daryn mencintai Daisy yang ada di pelukannya.
"Daryn, sepertinya tadi pagi dia pergi ke rumah sakit." ucap Liam yang masuk dalam ruangan.
"Apa maksudmu?" tanya Daryn.
Melihat tangan Daryn yang terluka, Liam dengan cepat mencari kotak obat di apartemen itu. Lalu membalut luka di tangan Daryn.
"Katakan cepat, apa maksudnya dia ke rumah sakit?"
"Dewi telepon. Kata teman Dewi, melihat babysitter nya Naza di rumah sakit."jawab Liam sambil membungkus luka di tangan Daryn.
Setelah selesai membalut lukanya, Tanpa basa-basi mereka langsung ke rumah sakit. Liam menyuruh anak buahnya untuk memeriksa CCTV sekitar apartemen, mencari lebih jauh ke mana arah tujuan Daisy.
Sesampainya di rumah sakit, mereka langsung ke ruang dokter kandungan,dan menunggu giliran mereka. Melihat nama dokter yang terpampang. Daryn menghentikan langkahnya.
"Daisy, tidak mungkin kamu membawa anak kita pergi dariku kan?" Daryn tak bisa membayangkan Daisy yang sendirian akan membesarkan anak mereka.
Ketika tiba gilirannya memasuki ruangan, Daryn merasa ragu. Dia takut menghadapi kenyataan kalau sampai Daisy benar-benar hamil. Anak yang sudah mereka nanti, tapi karena kecemburuannya dia malah mengusir Daisy pergi dari hidupnya.
"Tuan. Apa anda tidak masuk?" ucap Liam berbisik pada Daryn.
Daryn memberanikan langkahnya untuk masuk. Dia duduk sambil melihat poster-poster di ruangan dokter.
"Bapak Daryn?"
__ADS_1
Dokter mencari keberadaan Istrinya tapi malah melihat Liam yang masuk. Menemani Daryn.
"Bapak ingin memeriksa diri bapak?" tanya Dokter melihat Daryn. Dokter itu melihat Daryn dan mengenalinya.
"Tuan Daryn Leroy?" panggil dokter itu.
"Iya, saya ingin mengetahui keadaan istri saya, yang datang tadi pagi ke rumah sakit ini." jawab Daryn.
"istri? " tanya dokter itu, lalu memeriksa siapa istrinya.
"Ahhh, Mbak Daisy?" dia memeriksa kembali data Daisy dan melihat Daryn agak terkejut. Selain karena Daryn dikabarkan belum menikah usianya juga terpaut jauh dengan istrinya.
"keadaan bayi dan ibu baik-baik saja. Memang sempat mengalami kram perut. Tapi syukurnya keadaan mereka baik-baik saja."
Mendengar ucapan Dokter, tubuh Daryn terasa lemas.
"Daisy benar hamil. Hamil anakku. Apa dia tidak berpikir untuk memberi tahuku?" batin Daryn yang keluar tanpa pamit pada dokter.
"Saya harap, anda merahasiakan hal ini. karena hal ini juga hal pribadi pasien anda." ucap Liam keluar dan memberikan kartu namanya, kemudian mengikuti Daryn yang keluar dari rumah sakit.
Mereka masih mencari keberadaan Daisy. Meski sudah menemukan terminalnya, tapi masih tidak tau tujuan Daisy.
Sudah seharian. Selain Daryn, Naza juga menangis mencari Daisy. Semua orang sangat sulit menenangkan Naza. Dan juga semalam Naza kesulitan tidur.
Daryn langsung menggunting foto Daisy menyimpannya dan membuang gambar Tito.
Dan ketika berdiri, dia kemudian melihat kotak kecil di sudut meja yang dia ingat Daisy tinggalkan kemarin.
Dia buru-buru membukanya, di dalamnya ada testpack dan gambar USG, seketika kakinya langsung terasa lemas.
Daryn menangis lagi melihat gambar itu.
"Dia memberitahuku. Apa yang sudah aku lakukan? Apa aku benar-benar terlambat?Tisak bisakah kamu menungguku sedikit lebih lama?"batin Daryn.
Seumur hidupnya, dia selalu berpikir logis. Tapi hari itu.
Liam lalu masuk ketika mendengar isak Daryn.
Melihat Daryn menangis dilantai terduduk menangisi foto USG anaknya.
Daryn menyuruh anak buahnya mencari di setiap kota kemungkinan dimana bus itu berhenti.
Sementara itu, Daisy baru saja tiba, di tempat tujuannya.
Dia sudah berganti bis sebanyak 5 kali.
__ADS_1
Tubuhnya sudah sangat pegal. Dia memutuskan untuk mencari tempat menginap di dekat terminal.
Semalam, dia masih menangis merindukan Daryn dan juga Naza. Bahkan masih bertanya-tanya. Apakah keputusan yang dia ambil sudah benar. Di setiap pemberhentian bus, dia ingin kembali, tapi mengurungkan niatnya. Dia takut, Daryn masih tidak ada di sana, di rumah mereka.
Melanjutkan perjalanannya kembali, Daisy melanjutkannya dengan gerobak, karena untuk mencapai desa itu tidak diizinkan dimasuki oleh kendaraan bermotor.
Desa itu dijaga keadaan udara dan tanahnya.
Daisy ingin hidup dan membesarkan anaknya di tempat yang masih bersih dan tidak terpengaruh dengan kehidupan mewah.
Dia mengetahui tempat itu, dari Tito.
Tito sering menceritakan, betapa indah dan bersih kampungnya. Dengan kehidupan seadanya.
Orang-orang di sana berkebun, beternak dan bertani. Jadi tidak akan merasa kekurangan makanan, dan sangat ramah.
Tapi, kebutuhan sekolah membutuhkan uang, karena itu Tito harus meninggalkan desanya demi biaya sekolah adik-adiknya.
Selang 30 menit, Daisy mulai memasuki desa, dan melihat hamparan sawah yang luas. Ada kebun sayur di samping atau depan rumah rumah warga sekitar.
Daisy tidak menyiapkan apapun untuk tinggal di daerah itu. Dia Hanya minta di antarkan ke kepala desa. Dan selanjutnya kepala desanya membantu dengan mencarikan rumah yang bisa Daisy tinggali. Dalam perjalanan.
"Masih sendiri mbak?" tanya Istri kepala desa melihat Daisy.
"Saya berpisah dari suami saya." ucap Daisy sedih.
"Mbak sepertinya sedang mengandung yah?"
Daisy mengatupkan kedua bibirnya mendengar pertanyaan itu lalu mengelus perutnya.
"Gak usah khawatir mbak. Disini banyak warga yang akan bantuin mbak. Disini juga banyak orang-orang yang datang mencari ketenangan dari kota-kota besar. Dan Banyak juga yang pergi demi pendidikan anak-anak mereka. Paling ada beberapa saja yang tinggal kalau anaknya masih sekolah. Soalnya dari sini ke kota, lumayan ada 1 jam baru bisa sampai sekolah terdekat."
Daisy mengangguk tersenyum.
Akhirnya mereka tiba di sebuah rumah yang sangat sederhana, berukuran 4x7 dengan teras kecil didepannya. Dengan halaman yang luas.
"apa ada yang rawat rumah ini?" tanya Daisy heran melihat rumah yang terawat, rumput liar tidak ada, dan hanya bunga.
"Iya, biasanya tetangga yang akan rawat rumah kosong sekitar sini."jawab kepala desa.
Melihat hamparan pemandangan yang indah, dan masih alami Daisy tersenyum menarik nafasnya dalam-dalam merasa tenang.
" Semoga kita bisa melewati hari-hari kita di sini dengan bahagia." ucap Daisy mengelus perutnya.
...****************...
__ADS_1