
Aku gak percaya, ayah tega lakuin ini sama aku. Terus, bagaimana dengan Nevan dan juga Mama Anita?" tanya Laura. Karena Dia dan Nevan benar-benar menikah hari itu dan menandatangani buku nikah.
Sehari sebelum pernikahan Laura dan Nevan.
Tuan Abrar menghubungi Nevan dan mereka bertemu di sebuah restoran yang mewah dan memiliki ruang VIP.
"Duduklah" ucap Abrar yang melihat Nevan datang.
Meskipun dia tidak tau, apa yang akan diucapkan Tuan Abrar, Nevan sangat gugup.
"Laura adalah putriku satu-satunya." Nevan mengangguk.
"Aku tidak akan membicarakan hal dangkal seperti cinta. karena cinta pun akan kalah dari kekayaan dan kekuasaan. Aku sudah melihat prestasimu dan semua yang kamu gapai di usia muda. Dan aku tau, kamu sangat ambisius." ucap Tuan Abrar memakan makanan yang sudah dia pesan.
"Apa yang sebenarnya ingin Tuan sampaikan?"ucap Nevan tak ingin basa basi.
Asisten Abrar lalu meletakkan buku nikah palsu dan beberapa dokumen palsu di depan Nevan.
Nevan lalu memeriksa buku itu.
" itu semua hanya untuk meyakinkan Laura kalau kalian benar-benar menikah. Karena biar bagaimanapun, Laura adalah penerus keluarga Danendra, dan aku tidak ingin ada cacat dalam hidupnya. Untuk anakmu, aku akan membiarkan sepenuhnya untukmu."
"maksud Tuan saya tidak akan menikahi Laura?" tanya Nevan bingung.
Abrar menghela kasar.
"Aku Pikir kamu anak yang cerdas, Intinya kalian tidak akan pernah menikah dimata hukum. Dan surat kelahiran anak kalian, jangan cantumkan nama Laura. Dan biarkan Laura kemabli ke kehidupannya. Jika Kamu benar-benar perduli dengan masa depannya."
"Anggap saja saya tidak pernah mendengar hal ini." ucap Nevan hendak meninggalkan meja.
"Pikirkan masa depan calon anakmu. Masa depan Laura. Apa kamu mampu, menanggung 2 orang sekaligus dalam penanggungan mu?Aku akan membiayai sampai anakmu kuliah. Tapi, kamu harus secepatnya melepaskan Laura."
Abrar bangun lebih dulu. "Pikirkanlah, kamu masih punya waktu sampai pernikahan besok."
Meninggalkan Nevan yang masih duduk berpikir di depan makanan mewah di atas meja.
__ADS_1
"Apa makanannya ingin di bungkus?" tanya seorang pelayan yang melihat makanan dimeja tak tersentuh oleh Nevan, menyadarkannya dari lamunannya.
Nevan mengangguk, dan membawa makanan mewah itu pulang ke rumahnya.
Laura sangat senang melihat makanan yang di bawa oleh Nevan. Ternyata semua makanan yang di pesan Abrar adalah makanan kesukaan Laura.
"Pelan-pelan" ucap Ibu Anita yang melihat Laura makan dengan buru-buru.
Nevan menatap Laura dengan dalam. Melihat penampilan Laura beberapa bulan lalu sebelum datang ke rumahnya. Sekarang jauh lebih lusuh. Kadang Laura merengek ingin pulang ke rumahnya karena keadaan rumah Nevan yang tidak sesuai dengannya.
Dan akhirnya, Nevan memberikan file palsu kepada Laura, dan dia juga memanggil penghulu dan saksi untuk menikahkan mereka secara sirih tanpa ada catatan.
Perlahan, Laura pun sudah tak tahan menjadi seorang ibu. Dia masih belum bisa mengurus semuanya. Meski Nevan dan Bu Anita bergantian membantunya. Tapi Itu semua tak cukup bagi Laura yang setiap keperluannya selalu di urus dan di bantu oleh orang lain.
Saat Laura kembali ke rumah orang tuanya untuk melanjutkan sekolah, meski merasa kecewa, Nevan tidak marah. Semua itu, hal yang sudah di duga oleh Nevan. Bahwa sejak awal, dia dan Laura memang tidak bisa bersama.
"Bagaimana kehidupan pernikahanmu?" tanya Nadia kepada Nevan yang sedang istirahat dari pekerjaannya.
Nadia, yang masih mencintai Nevan, akan selalu datang mengunjungi Nevan di tempat kerjanya. Meskipun dia sendiri sudah menikahi laki-laki lain karena marah pada Nevan.
"Kapan anakmu akan lahir? " tanya Nevan melihat perut Nadia yang saat itu, sedang hamil Nivia.
"bulan depan." ucap Nadia singkat.
"Maafkan aku, seharusnya aku benar-benar fokus dengan pendidikanku dan menyusul mu. Aahh., tapi sudahlah. Itu Sudah jadi masa lalu kita. Nadia. Berhentilah datang melihatku. Pikirkan perasaan suamimu. Dan aku juga harus menghargai Laura, dan aku menyayanginya." ucap Nevan yang pergi dengan melambai.
Entah kenapa, begitu sulit bagi Nadia meninggalkan bayangan Nevan. Melihat Nevan yang meninggalkannya Nadia menangis dan sakit hati. Nadia, tidak habis pikir.
"Apa begitu mudah bagimu, meninggalkanku, melupakanku dan mencintai wanita lain dengan mudahnya?" batin Nadia yang pergi meninggalkan lokasi tempat Nevan bekerja.
Laura yang berniat mengantar makanan ke tempat kerja Nevan melihat Nadia yang menangis ketika Nevan pergi.
Tanpa menemui Nevan, Laura pulang kerumahnya.
Meletakkan Daisy di atas tempat tidur , Laura pergi meninggalkan rumah Nevan dan kembali ke rumahnya.
__ADS_1
Laura yang saat itu, merasa sangat kesepian di tambah melihat Nevan bersama mantan kekasihnya membuat Laura yang labil tak berfikiran panjang. Laura memang pernah melihat foto Nadia tersimpan di dalam salah satu buku Nevan.
Meski begitu, dia tidak mau melepaskan Nevan. Dan Nevan memanfaatkan momen itu, untuk meminta berpisah dengan Laura meskipun tak menikahinya secara resmi.
Nevan tak lagi memperdulikan apapun yang Laura lakukan.
Dan Laura merasa bahwa Nevan tak benar-benar mencintainya. Laura semakin menjadi dan merusak dirinya agar Nevan perduli. Agar Nevan mencintainya. Laura bahkan tak menyembunyikan perselingkuhannya.
Laura membawa uang dari orang tuanya demi Nevan dan Daisy. Laura bahkan sering memohon agar mencintainya, tapi Nevan tidak perduli.
Meski begitu, Laura tidak berhenti mencintai Nevan.
...----------------...
"Jadi, maksud Ayah. Pernikahanku dan Nevan tidak pernah terjadi? Dan aku, bukan mamanya Daisy?" Laura yang bingung langsung ke kamar Daisy.
"Mana akta kelahiranmu?" tanya Laura.
Daisy keluar dari kamar dan mengajak Lauran agak jauh dari pintu.
"Mereka bilang kamu bukan anak Mama." tanya Laura.
"Mama, aku sudah gak perduli dengan hal itu."
"sejak kapan kamu tau, kalau kamu di adopsi bi Imah dan mama gak ada di akta kelahiran kamu." tanya Laura dengan mata berkaca-kaca.
"Terlepas dari itu semua, itu hanyalah sebuah dokumen. Tapi, yang lebih penting adalah, memang mama gak perduli dan menyayangi aku. aku bukan anggota keluarga ini? Aku gak perduli. Tapi mama yang selalu ninggalin aku dan gak perduli sama sekali dengan kebutuhanku, itu yang membuat aku merasa terasingkan di rumah ini." ucap Daisy marah.
"Sudahlah, itu semua sudah di masa lalu. Sekarang Aku bahagia bersama Dean." ucap Daisy menenangkan dirinya.
"Kamu pasti sangat membenci mama." Laura menarik tangan Daisy dan menggenggamnya.
Daisy menarik tangannya dan masuk ke dalam kamarnya.
...****************...
__ADS_1