Calon Ayah Tiri

Calon Ayah Tiri
Aku Bukan siapa-siapa


__ADS_3

" Apa dia macam-macam sama kamu? Dan terus Om Daryn lihat kejadian itu? Dam om Daryn kehilangan akal sehatnya?" Nivia menanyakan hal itu dengan sangat serius pada Daisy.


"Iya, memangnya kenapa?" tanya Daisy.


"Emm... Aku Gak tau, apa aku boleh cerita ini ke kamu." Nivia ragu untuk memberi tahu Daisy.


"Bagaimana keadaan Devan?" Nivia kembali bertanya.


"Wajahnya berantakan, dan terakhir aku lihat dia sudah pingsan." Daisy menggenggam lengannya, jika dia mengingat kejadian tadi, membuat dia sangat takut dan juga marah.


"Untung saja Om Daryn tidak membunuhnya."


"Hampir, jika tidak ada yang menghentikannya. Dan kamu tau, dia tadi berteriak ke arahku. Padahal aku cuma bilang, aku pengen pulang."


"Dia hanya khawatir sama kamu."


"khawatir? Aku bukan siapa-siapanya. Dan juga, aku bisa mengurus diriku sendiri."


"Daisy.... Jangan sampai kamu bilang begitu ke Om Daryn. Dia murni membantumu, karena memang dia sangat benci yang namanya pelecehan, apalagi itu terjadi di depan matanya."


"Lagipula, siapa yang menyukai pelecehan." Daisy bersandar di mobil karena sangat lelah.


Selang beberapa lama, mereka tiba di kediaman Leroy.


Daisy yang melihat hal itu, merasa sangat marah. Dia Memutuskan tak beranjak dari tempat duduknya.


"Kenapa sih? Apa Om Daryn ngelakuin sesuatu yang jahat sama kamu?"


"Dia gak ngelakuin apa-apa. Aku justru terima kasih sama dia. Tapi kalau kamu gak mau antar aku ke hotel atau losmen, kamu harusnya bilang. Biar aku tidur d rumah sakit, tanpa harus semarah ini sama kamu. Apa Yang kamu gak ngerti dari kata-kataku. Selain kamu, aku gak mau berhubungan lagi sama yang namanya konglomerat." Daisy memutuskan untuk turun dan berjalan ke arah gerbang.


"Daisy, tolong.. Ini Sudah malam. Kenapa kamu keras kepala sekali tentang ini?" Nivia mengejar Daisy sambil terengah-engah membujuknya.


Nivia yang lelah berhenti sebentar, ketika akan mengejarnya lagi.


"Biar Om yang mengurusnya." Daryn berlari cepat ke arah Daisy dan berdiri di depannya dan menghadangnya.


Ketika Daisy ke kiri, Daryn menghalangi langkahnya. Begitu Juga ke arah sebaliknya.


"Tuan, saya mohon anda minggir. Jika tidak. Saya akan menabrak anda." Mendengar ucapan Daisy dia hanya tersenyum.

__ADS_1


Daisy lalu berusaha menabrak Daryn, tapi kekuatan Daryn tidak selemah yang dia bayangkan.


Daisy semakin marah.


"Kenapa? Apa yang kalian perlukan?" Daisy berteriak kesal.


"Ini sudah tengah malam. Dan kamu sendiri gak tau kamu mau ke mana." Daryn menahan tubuh Daisy yang masih berusaha untuk berjalan pergi.


"Saya mohon Tuan, jangan urusi saya." Daisy mulai mengeluarkan air mata, dan merasa harinya sangat melelahkan. Dia marah dengan keadaannya. Dia di ingin dilecehkan temannya sendiri yang kaya raya dan juga di selamatkan oleh orang kaya raya juga.


"Kenapa kamu menangis?"


"Saya mohon, perlakukan saya seperti biasa. Anggap saya tidak ada dan tidak penting. Karena itu saya juga akan melakukan hal yang sama." air matanya semakin deras mengalir dan tubuhnya mulai bergetar.


"Seperti biasa?" Batin Daryn.


Daryn memegang bahu Daisy, berusaha menenangkannya. Tapi Tangisnya semakin pecah. Nivia ingin mendekat, tapi Daryn melarangnya dan menyuruhnya kembali.


Nivia ragu-ragu meninggalkan Daisy dan Daryn tapi Daryn mengangguk meyakinkannya.


"Daisy? Katakan kamu kenapa?" Tuan Daryn memegang kedua lengannya dari depan berusaha melihat wajah Daisy yang nunduk dan menangis.


Kejadian tadi membuat Daisy sangat takut, Nivia yang berjanji akan kembali tapi setelah beberapa jam baru mengingatnya, kemarahan Daryn ketika menghajar Devan, kelakuan Devan terhadapnya, semua kejadian tadi semakin membuatnya takut dan tak ingin mendekat pada orang kaya.


Dia ingin menganggap mereka tak ada dalam hidupnya, sebagaimana keluarga ibunya sendiri tak menganggapnya ada. Dia sangat takut mendekatkan diri pada siapapun, terutama orang kaya.


Lalu Daryn memeluk Daisy, mengusap kepalanya, untuk menenangkannya. Setelah kurang lebih 10 menit Daisy menangis di pelukan Daryn.


"Kamu tau, jika kamu tidak penting, Nivia tak akan mencari mu. Mungkin kamu tidak penting bagi saya. Tapi, sebagai sesama manusia, kita perlu saling menolong. Apalagi aku tau kalau kamu adalah sahabat keponakan ku. Kamu tau, betapa bahayanya tengah malam, sendirian. Banyak hal yang bisa terjadi. Apalagi, kamu terlihat sangat cantik malam ini." Daryn mengucapkan agak tertawa dengan niat bercanda.


Daisy yang sudah berhenti menangis agak mendorong tubuh Daryn agar tidak memeluknya lagi.


Setelah tenang, Daisy akhirnya berjalan menuju rumah tanpa bicara, dan Daryn berlari jalan berdampingan.


"Maaf, aku tidak memperhatikan perasaanmu, kamu pasti sangat terkejut dengan semua kejadian tadi." Daryn memecah keheningan antara mereka.


"Bukan salah Tuan. Saya yang memang tak bisa menyampaikannya. Dan harusnya saya bisa menjaga diri saya." ucap Daisy pelan.


"Apa kamu pernah dikhianati oleh orang kaya? Dan orang tuanya gak merestui kamu?" tanya Daryn tiba-tiba.

__ADS_1


"hah? Maksud Tuan? "


"Karena kamu membenci orang kaya, dan kamu tak ingin berurusan dengan orang-orang kaya?aku mendengar kamu dan Nivia tadi."


Daisy lalu menghentikan langkahnya.


"Apa Tuan Daryn, tidak pernah merasa kalau uang bisa membeli segalanya? Uang Yang berkuasa? Dan saya sangat membencinya. Orang-orang yang selalu menganggap kalau mereka punya harta dan uang, maka mereka bisa melakukan apapun."


"Oke, masuk akal. Dan aku akan mengakuinya. Bahwa Uang, memang segalanya."


"Saya juga mengakuinya, tapi saya hanya membencinya. Dan, Tuan. Saya baru 21 tahun, dan saya tidak memiliki hubungan seserius itu, untuk calon mertua saya menolak saya." Daisy lanjut berjalan.


Setelah tiba di dalam rumah, Nivia langsung memeluk Daisy.


"Maafin aku... "


"Udah, aku sudah lebih baik sekarang. Dan lain kali, kalau kamu lupa sama aku. Aku bakalan benar-benar gak mau ingat kamu lagi." Daisy membalas pelukan Nivia.


Sementara itu, Daryn langsung menuju ruang kerjanya.


Ketika tiba di kamar yang di sediakan, Daisy menutup pintu dan langsung mandi. Dia Merasa tubuhnya sepertinya hidup kembali.


Dia melihat piyama yang di sediakan oleh Nona Dewi di atas tempat tidur.


"Apa ini? Kenapa dia memberikanku baju yang sangat seksi. " Dia merasa geli dan Dia lalu melemparkannya ke atas sofa.


Dengan terpaksa dia menggunakan jubah mandi dan tertidur.


"Kamar tamu saja sangat mewah. Memang levelnya berbeda dengan Keluarga Mama." Dia bergumam sendiri dan tertidur.


Ketika pukul 3 pagi, Daisy mendengar suara dari luar kamar. Seperti suara anak kecil menangis. Daisy menarik selimutnya.


"itu bukan suara hantu kan?" batinnya.


Dia mengerutkan dahinya dan menggerakkan tubuhnya sedikit ke arah pintu.


"itu suara anak kecil." Daisy bangun dari tempat tidur dan berjalan perlahan mendekati suara itu.


Seorang gadis kecil, meringkuk di depan sebuah kamar.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2