
Di dalam rumah kaca itu, matahari yang masuk sangat baik, tapi entah kenapa Daisy mencium bau yang tidak enak. Dia kemudian melihat tas jinjing, di tepi rumah kaca. Saat dia mendekat, Tio mengagetkannya.
"kenapa kamu masuk ke sini?!!??? “ Tio berteriak berjalan ke arah Daisy dan mendorongnya keluar.
" kenapa kamu harus semarah itu? Aku cuma mau titip Dean, aku mau pergi beli ikan di rumah Pak wahyu sebentar." ucap Daisy kesal.
Tio menarik nafas dalam-dalam menahan emosinya.
"aku kan, sudah bilang berkali-kali. Jangan pernah masuk ke sini. Apa yang tidak kamu mengerti dari kalimatku?" tanya Tio kesal.
"oke, aku minta maaf. Kalau memang kamu masih sibuk. Nanti saja aku pergi." Daisy kembali ke rumahnya kesal karena reaksi Tio yang terlalu berlebihan.
Keesokan harinya, Tio datang meminta maaf, karena berteriak padanya. Dia menjelaskan pada Daisy dengan alasan yang tidak masuk akal. Bahwa tanamannya sensitif dengan orang baru. Daisy mengerti kalau binatang peliharaan. Tapi, kalau tumbuhan. Samasekali gak masuk akal. Daisy hanya mengiyakan saja.
"Aku dengar dari ibu, kalau kamu mau ke kota lagi? " tanya Tio.
"iya, ada yang perlu aku tanyakan"
"jangan jangan bilang ini masalah Daryn lagi " ucap Tio kesal hendak meninggalkan Daisy.
"Jangan marah dulu, ini bukan hanya masalah Daryn, tapi wanita yang bertunangan dengannya." ucap Daisy bersedih.
"kenapa dengan wanita itu. Apa kamu mengenalnya?" tanya Tio penasaran.
"aku pernah hidup seperti pelayan di rumah mereka." ucap Daisy pelan. Dan belum ingin memberitahukan yang sebenarnya pada Tio. Dia bahkan belum memberitahu Daryn yang sebenarnya.
"Dan bagaimana bisa, aku membiarkan laki-laki yang aku cintai bertunangan dengan mamaku, meskipun itu hanya untuk bisnis." batin Daisy.
"Sejak kapan? Dan bagaimana bisa?" tanya Tio terkejut.
"kenapa kamu sangat terkejut? Semuanya terjadi begitu saja. Apa yang harus aku jelaskan?" Jawab Daisy bingung melihat reaksi Tio.
Tio dengan cepat mengubah ekspresinya.
"tidak. Maksudku. Wanita itu. Siapa Wanita itu memangnya? Ahh, sudahlah. Tidak ada hubungannya denganku. Kalau memang kamu mau pergi, pergi saja. Biar aku yang menjaga Dean." ucap Tio.
"Aku akan bawa Dean, ajak dia jalan-jalan. Dia jarang sekali jalan-jalan ke kota. Yakan sayang?" tanya Daisy menggendong Dean.
"jalan-jalan? Te mana? " tanya Dean, mendengar kata jalan-jalan.
__ADS_1
"ke kota, kita mau jalan-jalan ke kota."
"te toka? " tanyanya lagi. Dean memang sudah bisa bicara, tapi terkadang dia membalik suku kata bicaranya.
"Iyo ituk ya?"
"Om Iyo gak bisa ikut ke kota. Siapa yang kasi makan ayam Om?" ucap Tio menunduk gemas, membuat wajah mereka bertiga berdekatan.
"iya ya.. " ucap Dean.
"mesranya keluarga bahagia." tegur salah satu tetangga.
"iya bu" jawab Daisy canggung. Tetangga itu, berlalu pergi.
"Kalau begitu, aku siap-siap dulu yah." Daisy menitip Dean dan bersiap-siap. Setelah itu dia mengganti pakaian Dean. Dan mereka sudah siap berangkat
Dean terlihat sangat senang.
Setelah ke kota, Daisy mengajak Dean berjalan-jalan. Mereka berkeliling di kota cukup lama. Karena Dean yang sudah lelah, Daisy mencari toko dimana dia bisa. Membiarkan Dean tidur, sementara menghubungi seseorang.
"Apa aku harusnya membeli ponsel saja? Agar Tidak perlu ke kota untuk menghubungi Naza lagi. Aku pikir, mungkin di titik ini, Tuan Daryn tidak akan memperdulikan dimana aku berada." ucap Daisy melewati toko ponsel.
Setelah membeli ponsel, Daisy pun menghubungi Naza.
Naza tentu saja, merasa bahagia. Karena dua hari berturut-turut Daisy meneleponnya.
"Sayang, apa kamu tau tentang calon tunangan papa kamu?"
"Bunda tau sendiri kan, itu semua cuma bisnis. Naza juga gak terlalu tau tentang hal itu." ucap Naza. Mereka lalu mengobrol sampai 1 jam lebih.
Daisy memutuskan untuk menelepon Ava. 6 tahun terakhir dia tidak menghubungi Ava lagi.
"Halo?" ucap Ava.
"Hai Ava, ini Daisy." balas Daisy.
"Daisy!!!!!! " Ava berteriak menyebut nama Daisy.
"Kamu tega, sudah berapa lama kita gak berhubungan. Setiap Aku telepon nomormu . Sudah gak aktif. Dan aku dengar kamu sudah menikah. Bagaimana bisa, kamu menikah tanpa kasi tau mbak Laura." ucap Ava ceplas ceplos tak membiarkan Daisy bicara.
__ADS_1
"Mbak Laura?" tanya Daisy bingung.
"aaahhh.. Aki belum kasi tau yah. Kalau aku manggil mama kamu dengan sebutan Mbak. Kamu tau lah, kalau aku panggil tante orang bakalan bertanya-tanya."
"iya.. Iya... Oh yah. Aku dengar mama mau tunangan?" tanya Daisy lagi.
"kamu lihat di berita yah. Memang, mereka mau tunangan.Itu hanya untuk bisnis saja. Kamu tau lah, sekarang Tuan Abrar lagi butih untuk membangun koneksi. Tapi, sepertinya mbak Laura, beneran suka dengan Tuan Daryn itu. Kamu ingat kan Tuan Daryn?"
"Iya, aku ingat."
"Dan mbak Laura beneran naksir dan suka. Dan dia berharap hubungan mereka bisa jadi betulan. Kamu gak lihat, gimana mbak Laura berusaha menggoda Tuan Daryn. Dan juga mereka terlihat sangat cocok. Kamu tau, meskipun usia kita beda 16 tahun, tapi mbak Laura terlihat seperti kakak kita." ucap Ava sambil tertawa.
"mamaaa.... " panggil Dean yang terbangun.
"Sebentar sayang. Sssshhhhhh." Daisy memberikan dot pada Dean dan lanjut tertidur.
"kamu sudah punya anak? Oh my god, oh my god. Mbak Laura pasti kaget dia udah jadi nenek. Hahahaha."
"Ava.. Emm... Aku mohon, jangan kasi tau siapa-siapa."
"kenapa?"
"Kamu tau, aku adalah aib di rumah itu. Jadi aku mau kamu jangan kasi tau siapa-siapa. Aku juga gak mau anakku ikut terseret dalam kisah keluarga itu."ucap Daisy pelan. Dia tau, dia sedang bicara dengan sahabatnya Ava, tapi semua rasanya begitu berbeda. Tapi, dia juga sadar, bahwa semua orang memang bisa berubah.
"Okay, kalo memang itu yang kamu mau." ucap Ava datar.
"Kapan mereka akan bertemu?"
"Sekitar 1 minggu lagi.Kenapa kamu nanya? Kamu mau lihat mama kamu tunangan?" tanya Ava senang. Memang Ava benar merindukan Daisy dan ingin melihat anak Daisy.
"Akan kupikir-pikir dulu" jawab Daisy.
"Tapi, aku bukan pergi, melihat mama bertunangan, tapi menghentikan pertunangannya." batin Daisy.
"Baiklah, kalau begitu. Aku masih punya pekerjaan lain. bye." ucap Daisy mematikan telpon dengan dingin.
Ava terkejut karena Daisy mematikan telepon begitu saja.
"Apa benar mama menyukai Tuan Daryn? Tidak, mama gak boleh menyukai laki-laki yang pernah jadi suamiku." Batin Daisy.
__ADS_1
...****************...