
"Mama cuma harap kamu lebih berhati-hati. Oh yah, Tuan Daryn tadi menelepon mama, dia akan datang lusa, karena dia akan ada bisnis lain di luar negeri minggu depan."
"Apaaa?" tanya Daisy dengan suara memekik mengagetkan Laura.
"Kenapa mama baru kasi tau sekarang?" ucap Daisy mengerutkan dahinya.
"Kan Mama baru dapat telpon hari ini." ucap Laura.
"Kalau begitu, aku balik ke kamar dulu." ucap Daisy bangun dengan cepat.
"Ma, tapi mama baik-baik aja kan?" tanya Daisy berbalik melihat Laura.
"Mama baik-baik aja, kamu gak usah khawatir. Perasaan mama, hanya sebatas menyukai laki-laki tampan." jawab Laura dengan senyuman yang tulus.
Karena dia tidak mungkin memberi tahu Daisy sejauh mana perasaannya pada Daryn. Karena memang, perasaannya hanya bertepuk sebelah tangan. Setelah mengetahui, bahwa wanita yang dicintai Daryn adalah Daisy, tentu saja Laura berusaha menghapus perasaannya.
Daisy lalu berjalan ke kamarnya, mencari pakaian yang akan dia gunakan dua hari lagi.
"Ahhh, aku tak punya pakaian yang bagus." Daisy bergumam sendiri, sambil mengambil beberapa pakaian yang dia bawa, dan memang dia tidak menyiapkan pakaian untuk bertemu dengan Daryn.
"Tunggu, kenapa aku repot-repot berdandan untuknya." ucap Daisy lagi, lalu meletakkan pakaian yang sedang dia coba di depan cermin.
Tapi, memang perasaan sulit untuk dibohongi. Jantungnya berdegup dengan kencang. Dia sangat merindukan Daryn.
Daisy menyentuh dadanya, merasakan detak jantungnya yang tidak beraturan. Masih 2 hari lagi.
"Apa kamu punya baju untuk menyambut Tuan Daryn?" tanya Laura yang mengetuk dan langsung membuka pintu kamar Daisy.
Daisy menggeleng sedih.
"Apa kamu mau shopping? Kita gak pernah shopping kan?" tanya Laura.
Tanpa sadar, Daisy tersenyum sumringah.
Setelah lama berkeliling, dia memutuskan pakaian dress hitam.
__ADS_1
"Kamu kelihatan sangat cantik sayang. Meskipun mama kurang suka modelnya. Yang mama suka yang itu." tunjuk Laura pada dress yang lumayan ketat membentuk tubuh Daisy dan membuat dia terlihat m*ntok dan s*ksi.
Daisy menggeleng geli, dia sangat tidak percaya memamerkan lekuk tubuh gemuknya.
Setelah asik jalan-jalan dan menikmati waktu berdua, Daisy mendapat telepon bahwa Dean rewel dan tak mau di gendong siapapun.
Mendengar itu, Daisy dan Laura dengan cepat kembali ke rumah. Kebetulan mereka sudah menyelesaikan Belanja mereka.
Sesampainya di rumah, Daisy langsung mengendong Dean yang rewel.
"Maaaf, sayang. Mama Pergi terlalu lama." Daisy langsung memeluk dan mengayunkan Dean di pelukannya.
Memang, mereka berdua tidak pernah berpisah terlalu lama. Hanya ketika dititipkan pada Tio dia bisa berlama-lama pergi.
Setelah lama menggendong Dean akhirnya tertidur. Daisy merasa sangat lelah. Dia tidak berfikir bahwa belanja pun sangat melelahkan. Tapi, dia merasa sangat senang. Laura begitu perhatian padanya. Dia merasa, mungkin hal kecil seperti itu, bisa membuat hubungan mereka membaik.
Tio yang baru saja kembali, entah darimana. Melihat rumah yang sibuk di bertanya-tanya. Karena Dia tidak tau kalau Daryn akan datang.
Setelah mengetahui hal itu, dia dengan cepat menuju kamar Daisy dan mengemas pakaian Daisy san juga Dean.
"Kalau Daryn datang lusa. Maka, kita akan pulan setelahnya. Jadi aku kamu menyiapkan barang-barang mu dan juga Dean." ucap Tio kesal.
"Apa yang nggak kamu ngerti dari kata-kataku. Kita gak bisa seperti dulu. Mungkin sebelumnya, aku bisa menganggap mu sebagai laki-laki. Tapi, sekarang tidak bisa" Ucap Daisy memaksa Tio mengerti.
"Bagiku, tidak ada bedanya. Kamu masib tidak bisa mencintaiku." ucap Tio ingin masuk dan mengemas pakaian mereka.
Daisy yang merasa lelah berdebat dengan Tio, hanya mengiyakan perintah Tio.
"Oke, aku yang akan mengemas dan mengepak pakaian itu semua. Jadi, kamu gak usah masuk dan membuat Dean terbangun." ucap Daisy lelah dan menghela nafasnya.
Daisy lalu masuk kamarnya dan mengunci pintu. Saat ini, Daisy merasa sangat takut berhadapan dengan Tio. Dimatanya, Tio memang bukan Tio yang selama ini dia kenal. Tapi, dia masih percaya kalau Tio yang dia kenal adalah orang sama. Dia tidak akan menyerah.
Daisy memang mengemas bajunya, tapi hanya untuk membuat Tio berhenti bertingkah marah.
__ADS_1
Hari-hari yang di tunggu pun tiba. Daryn dan beberapa mobil pengawal mengikutinya.
Tentu saja, Daisy merasa heran. Kenapa tumben sekali Daryn membawa banyak pengawal. Biasanya hanya ada dua mobil. Tapi kali ini, Daisy melihat ada 6 mobil.
Daisy merasa gugup, tidak berani turun dan menyambut Daryn. Dia merasa tidak benar, memberikan kejutan pada Daryn seperti ini.
"Apakah, seharusnya aku memberi tahu dia lebih dulu? Bagaimana kalau dia marah karena aku menyembunyikan hal ini." batin Daisy.
Daisy sudah mendadani Dean dengan pakaian baru dan juga sepatu barunya. Entah kenapa, Daisy merasa putranya juga harus tampil tampan di depan Daryn. Karena Daisy selalu menunjukkan foto Daryn pada Dean dan memberi tahu kalau itu adalah Papanya. Dia Ragu,Dean akan mengenali Daryn di kenyataan.
Tapi, kaki Daisy dengan sendirinya sambil menggendong Dean, melangkah dengan cepat ke ruang tamu untuk menyambut Daryn.
Daisy berdiri sejajar dengan Tuan Abrar, Nyonya Liza dan juga Laura.
Mereka semua menyambut Daryn dengan penuh senyuman. Sementara Tio, tiba-tiba berdiri di belakang Daisy. Ketika Daisy mengalihkan pandangannya ke arah Tio, karena terkejut, Daryn lalu berjalan melewatinya tanpa senyuman sedikitpun.
DEG... Daisy berusaha keras menahan air matanya. Dia menggigit bibirnya menahan tangis. Tapi, air matanya tetap jatuh mengalir.
Tio, menjaga Daisy dari belakang dengan mengaitkan tangannya memeluk pinggang Daisy. Dia tak membiarkan Daisy terlalu dekat dengan Daryn.
"Apa itu, laki-laki yang kamu rindukan? Dia sepertinya tidak terlalu perduli dengan kehadiranmu." Bisik Tio. Daisy lalu dengan cepat menghapus air matanya.
"Lepasin Tio." Daisy menyingkirkan tangan Tio dari pinggangnya.
"Dada..." Ucap Dean memanggil Daryn.
Daisy tersenyum, melihat Dean memanggil Daryn. Tapi sama sekali tak bereaksi. Membuatnya semakin tak percaya diri akan menghadapi Daryn.
Semua duduk di meja makan. Daily Meletakkan Dean di kursi makan khusus dibelikan oleh Tuan Abrar tepat disamping Abrar.
Dan Daisy duduk di sebelah Laura.
Sejak duduk di meja makan, Daisy hanya menunduk. Tak tahan akan menangis, Daisy terpaksa bangun dan berjalan meninggalkan meja makan.
Tapi, Daryn juga bangun mengikuti Daisy dan menarik tangan Daisy agar mengikutinya.
__ADS_1
Tio pun bangun hendak mengikuti.
...****************...