Calon Ayah Tiri

Calon Ayah Tiri
Draft


__ADS_3

"Apa kamu benar-benar tidak tau? Atau hanya pura-pura?" tanya Tito melangkah maju mendekati Daisy.


"Hentikan To." ucap Pak Adi yang keluar merokok dari dalam mobil.


"Sekarang Daisy adalah istri majikanmu. Tidak perduli secemburu apa dirimu. Kamu harus tetap menghormatinya." Pak Adi langsung pergi merokok ke tempat lain meninggalkan Daisy dan Tito.


Entah kenapa mendengar ucapan Pak Adi, Daisy tersadar. Bahwa hidupnya tidak akan pernah bisa normal seperti yang ia bayangkan.


"Kak, aku minta maaf kalau aku pernah buat salah ke kakak. Aku tau, kakak pernah suka sama aku. Tapi, aku pikir kita sudah menyelesaikan hal itu."


"Nggak Daisy. Kamu ingat apa alasanmu menolak ku? Yah, meski aku tau, salah satu alasanmu karena kamu sudah menyukai seseorang. Tapi, akhirnya. Kamu memutuskan menikah dengan orang kaya."


Daisy tau baik. Ketika dia menikahi Daryn. Pikiran orang tentang dia ingin mengambil harta Daryn, bahwa dia hanya gadis munafik yang berpura-pura tidak tertarik dengan harta. tidak akan bisa dia hentikan. Tapi, Tito. Dia pikir Tito akan sedikit memahaminya sejak beberapa bulan mereka saling mengenal. Palagi, sampai bisa menyukai Daisy.


Tapi, lagipula, meski kita mengenal seseorang seumur hidupnya, kadang kita belum bisa menebak sifat asli mereka. Jadi dia berusaha memahami, tuduhan Tito pada dirinya.


"Maaf, kalau kakak tidak nyaman lagi bekerja denganku. Aku akan beritahu Tuan Daryn tentang hal ini." Daisy ingin melangkah pergi, tapi tangannya di tarik Tito.


"Maaf, aku gak bermaksud menganggap mu wanita matre. Aku.. Aku cuma sedikit kecewa dengan keputusanmu. Aku pikir kamu akan menyelesaikan kuliahmu lebih dulu, dan melakukan apapun yang kamu mau. Aku hanya sedikit merasa sedih, kamu mengambil keputusan ini. Aku janji, aku akan kembali seperti biasa. Jadi, biarkan aku tetap kerja dengan kamu." Tito melepaskan tangan Daisy.


"Kak, rasa cintaku pada Tuan Daryn lebih dalam dari yang aku bayangkan. Aku menghormatinya. Sebelum mengenal kakak, aku sudah tertarik pada Tuan Daryn tanpa aku sadari."


"Jadi, jika kamu mengenalku lebih dulu sebelum Tuan Daryn. Apa kamu akan menyukaiku?" Tito tau, pertanyaannya adalah hal yang konyol. Tapi dia tetap menanyakannya.


Daisy menggeleng. "Maafin aku, Kak Tito. Tuan Daryn, Aku tidak pernah membayangkan menyukai orang lain selain dia. Aku harus pergi."


Daisy akhirnya pergi belanja dan menyiapkan makan siang untuk keluarga kecilnya.


Sementara itu, Daryn terlihat sumringah dia atas mobil.


"Apa kamu sangat suka tinggal bersama istrimu dan juga Naza?."Tanya Liam.


" iya, aku sangat menyukainya. Daisy lebih ekspresif dari yang aku bayangkan. Dan aku sangat suka melihatnya memasak untukku dan Naza. Dan dia juga terlihat sangat bahagia."


"Syukurlah, kalau kalian menyukainya. Aku dan Dewi sempat khawatir. Apa lagi mengingat Naza yang baru mengenal tempat baru."


"Aku lihat-lihat dia yang paling bahagia. Setiap detik selalu memanggil Bunda.. Bunda. "


"Hahahahhaha... Syukurlah kalau begitu. Semoga kalian awet. Dan aku juga punya kabar bahagia. Aku dan Dewi akan jadi orang tua."


Daryn terkejut dan sangat bahagia untuk kedua sahabatnya. Mereka menunggu lama untuk memiliki anak.


"Aku harap, Daisy juga segera hamil setelah dia menyelesaikan kuliahnya." Batin Daryn.

__ADS_1


Setelah siang tiba. Naza yang sudah pulang membantu Daisy menyiapkan meja.


"Hati-hati sayang." Ucap Daisy.


Naza sangat senang membantu Daisy.


Tak lama Daryn pun datang. Daisy menyambutnya dengan kecupan, begitu juga dengan Naza.


Setelah makan siang, mereka istirahat sebentar di ruang keluarga.


"Dada, saya sebentar lagi akan skripsi. Supaya saya bisa cepat selesai kuliah dan lebih fokus sama keluarga kita."


"Baiklah sayang, aku setuju. Lebih baik cepat di selesaikan. Dan jika kamu ingin melanjutkan S2, aku juga akan mendukungmu.Apa ada yang perlu aku bantu?"


"Tidak, tidak ada. Sudah setengah perjalanan. Dan saya bisa menyelesaikannya sambil menunggu Naza pulang sekolah" ucap Daisy seraya bangun, untuk mengambilkan buah di dapur, dan Daryn mengikutinya.


Daryn memeluk Daisy dari belakang.


"Aku mendukung kamu apapun yang kamu inginkan. Tapi, aku lebih suka seperti ini. Perhatian kamu penuh untukku." Ucap Daryn mencium bahu Daisy.


Daryn tau, kalau yang dia ucapkan adalah egois. Tapi, akhirnya yang memutuskan adalah Daisy.


*Karena itu, saya ingin cepat menyelesaikannya." ucap Daisy.


"Karena itu, setelah skripsi. Saya akan bisa lebih fokus sama Dada dan Naza." balas Daisy.


"Hanya aku dan Naza? Apa kamu tidak ingin punya anak dariku?" tanya Daryn heran.


"Tentu saja mau, tapi untuk sekarang, yang ada hanya Dada dan Naza." Daisy berbalik dan mengecup pipi Daryn.


Setelah beristirahat, Daryn kembali ke rumah utama bersama Liam. Daisy dan Naza bersama supir mereka menyusul.


Seperti itu kegiatan mereka sehari-hari. Kalau Naza libur sekolah, maka mereka akan menginap di rumah utama.


Meski beberapa pelayan selalu menanyakan. Tapi Mereka tidak berani membicarakan rahasia di rumah itu.


Satu tahun berlalu begitu saja. Daisy sudah menyelesaikan kuliahnya. Dan sudah lebih fokus ke keluarga kecilnya.


Sementara Liam dan Dewi sudah melahirkan putra pertama mereka.


Daryn dan Naza juga menyukai kehidupan mereka.


Masalah kecil, seperti Daryn yang tidak hadir ketika makan malam, Daryn yang tidak bisa menghadiri acara ulang Tahun Putrinya. Menjadi bumbu-bumbu debat dalam rumah tangga mereka. Tapi, hal itu membuat mereka untuk lebih saling mengerti.

__ADS_1


Sampai suatu hari, Daryn sangat ingin memiliki anak, ketika mereka sedang membuka album lama, melihat tumbuh kembang Naza. Dan setiap hari bertemu dengan putra Liam dan Dewi yang bernama Nando.


"Sayang, apa kita perlu ke rumah sakit untuk periksa?" tanya Daryn pada Daisy ketika mereka akan tidur.


"Apa Dada sangat ingin punya bayi anak?" tanya Daisy lagi.


"Iya, aku sangat ingin punya anak darimu. Aku Ingin memeluk mereka, tubuh mungil mereka dan apalagi jika wajahnya bisa imut seperti dirimu. Apa kamu nggak mau?" Daryn membelai pipi Daisy.


"Saya mau. Tapi, saya suka dengan keadaan sekarang." Mendengar ucapan Daisy, Daryn bangun dan duduk menghadap Daisy.


"Apa kamu tak mau punya anak?"Tanya Daryn.


"Mau, tentu saja saya mau. Apalagi itu, anak dari Dada. Saya sering membayangkannya. Anak kecil yang mirip Dada dan saya." Ucap Daisy.


"Baiklah, kalau begitu, besok kita akan ke dokter. okay?" bujuk Daryn.


"Okay Dada, besok kita periksa." Daisy lalu mencium kening Daryn dan langsung merebahkan tubuhnya. Tapi Daryn punya pikiran lain.


Daryn mulai meraba tubuh Daisy, dan Daisy tertawa geli. Tengah asik bercanda, suara ketukan dari pintu menghentikan mereka.


Mereka saling menatap dan tertawa. Sudah pasti itu Naza, yang sering menginap di kamar orang tuanya. Daisy benar-benar menyayangi Naza dengan tulus.


"Naza sekarang sudah hampir 7 Tahun, dan sudah kelas 1 SD. Jadi Naza gak boleh lagi tidur di kamar Bunda dan Papa."bujuk Daryn.


Naza memajukan bibirnya dan merajuk. Lalu menutup dirinya dengan selimut.


Daryn dan Daisy lalu memeluknya.


" Kamu boleh tidur dengan bunda dan Papa, sampai kapan kamu mau. Bahkan sampai Naza dewasa." bisik Daisy.


Naza membuka selimutnya. "Sudahlah, lebih baik Naza balik ke kamar." Naza lalu kembali ke kamarnya.


"Bagaimana kalau kita lanjutkan? Siapa tau bisa jadi tanpa ketemu dokter." Goda Daryn.


"Sebentar yah, saya haus."


Daisy lalu bangun, dan pergi ke dapur untuk meminum obat.


Daryn yang melihat air didekat tempat tidur masih ada, mengikuti Daisy ke dapur. Dan melihat Daisy minum obat.


"itu obay apa?" suara Daryn mengejutkan Daisy dan membuat dia menumpahkan obatnya.


"ini... Ini....

__ADS_1


...****************...


__ADS_2