
Daisy, benar-benar ingin melupakan masa lalu, tapi kembali ke rumah Danendra, mungkin adalah keputusan yang salah.
Toh, sebenarnya dia tau, kalau Daryn dan mamanya tidak akan benar-benar menikah.
Meskipun Mamanya menyukai Daryn, tapi dia tidak yakin Daryn tidak akan menikahi mamanya.
Tapi, Daisy juga tau di lubuk hatinya yang terdalam, kalau semuanya hanyalah alasan. Dia hanya ingin menemui Daryn, meskipun beralasan untuk meninggalkan Daryn. Bahkan hanya dengan memikirkan bahwa dia akan menemui Daryn membuat hatinya tak karuan.
Karena itu, dia membutuhkan Tio untuk membulatkan tekatnya meninggalkan Daryn. Tapi, situasi saat ini membuatnya bingung, karena Tio adalah pamannya sendiri. Apa yang akan dia jadikan alasan untuk meninggalkan Daryn.
Untuk saat ini, dia hanya ingin diam di dalam kamarnya dan tidak ingin menemui siapapun. Dia terlalu bingung dengan semua keadaan itu.
Sementara itu, Laura yang kembali menemui ayahnya melihat Tio dan ayahnya itu sedang mengobrol.
Merasa jengah, Laura kemudian pergi ke sebuah bar dan menelepon Bagas.
Laura sudah minum beberapa gelas, sebelum Bagas datang.
"Siang-siang kamu sudah mabuk." ucap Bagas mengambil gelas yang sudah berada di bibir Laura.
"hahahahhaha... Aku gak bisa mabuk Om. Aku Ingin melupakan semuanya tapi, aku malah makin mengingatnya."ucap Laura berusaha mengambil gelasnya kembali dari Bagas.
"Anak laki-laki papa datang. Dan yang lebih mengejutkan dia datang bersama putriku. Tapi.... Yang lebih mengejutkan lagi dia bilang, dia mencintai putriku. Keponakannya sendiri." Laura merampas gelas dari tangan Bagas dan meminumnya.
Melihat reaksi Bagas yang hanya diam saja, Laura tau kalau Bagas sudah mengetahuinya melalui Liza.
__ADS_1
"aku keduluan mama buat curhat." ucap Liza sedih.
"aku akan mendengarkan apapun yang akan kalian bicarakan."ucap Bagas menatap Laura.
Laura menghela kasar.
"kenapa dulu Om gak ngajak mama kawin lari?" tanya Laura tiba-tiba.
"aku tidak percaya diri bisa membuat mamamu bahagia dengan keadaan ekonomi ku." ucap Bagas singkat sambil meminum jus yang dia pesan.
"Kalau Om mencintai mama, pasti bisa melewati semuanya." ucap Laura tersenyum.
"Lantas, kenapa kamu kembali ke rumahmu lagi. Bukankah Kamu menikahi laki-laki yang kamu cintai?" tanya Bagas.
"Bagaimana bisa kamu bilang Nevan tidak mencintai kamu."
Mendengar ucapan Bagas, Laura menatap Bagas dengan dalam.
"Om, aku serius, Nevan gak cinta sama aku. Dulu aku yang mengajaknya pacaran lebih dulu. Bahkan aku yang memaksanya untuk berhubungan. Saat aku pergi, bukan menahan ku, dia malah meminta pisah."
"Karena dia tahu, menahan mu sama juga memintamu menderita bersamanya. Apa kamu tidak pernah merasa bahwa kamu tidak bisa hidup di dunia Nevan. Jika pernah, maka Nevan berbuat benar."
Laura hanya diam. Dia ingat, memang seringkali dia ingin pulang karena tidak tahan dengan kondisi rumah Nevan, dari tempat tidur, kamar yang bocor, dan kamar mandi yang ada serangga.
Tapi, Nevan tetap bersabar. Meski lelah pulang kerja seharian. Nevan akan sempatkan diri untuk memijat dan memanjakan tubuh Laura yang saat itu tengah hamil. Menanyakan apa yang diinginkan Laura dan memenuhi hal itu selama Nevan mampu. Tapi, yang membuat Laura sakit, adalah kenyataan Nevan tak pernah mencintainya.
__ADS_1
"Aku melihatnya bersama mantannya. Wanita itu adalah kakak kelasnya. Mereka pacaran selama 2 tahun, aku bahkan menemukan foto wanita itu di dalam buku Nevan." ucap Laura yang kesal mengingat hal itu.
"Aku yakin, Nevan bukan laki-laki seperti itu. Meskipun masih muda. Aku tau dia laki-laki yang bijaksana. Buktinya dia rela melepaskan mu dengan menikah secara sirih, tanpa meninggalkan jejak dalam hidupmu." ucap Bagas.
"heeemmm... Entahlah, sudah lama sekali. Aku tidak begitu ingat kenapa aku bisa menyukainya. Tapi, ada satu hal yang mengingatkanku sama dia ketika ketemu sama Daryn, dia begitu mempesona ketika fokus dengan apa yang dia kerjakan. Ketika melihat Daryn membicarakan bisnis, aku ingat Nevan yang sangat mempesona ketika jadi ketua osis dan mengajakku berkeliling sekolah." ucap Laura sambil tertawa. Karena sudah agak mabuk.
"Tapi, Om tau gak? Daisy juga ternyata sangat benci sama aku. Padahal aku, berusaha jadi penerus Denandra satu-satunya dan menyingkirkan Tio, hanya untuk dia.Supaya nanti dia akan berkuasa dengan mudah." ucap Laura.
Laura ingat sekali, ketika masih kecil. Dia di paksa mengikuti les semua mata pelajaran. Di saat temannya masih bermain, dia berlatih alat musik, menari, dan bernyanyi. Tidak ada sedikitpun waktu luang untuknya bermain atau pun beristirahat. Dia harus serba bisa, apalagi dia seorang wanita, jika tidak memiliki nilai lebih, akan sulit baginya dinilai lebih baik dari laki-laki.
Memasuki Usia remaja, dia mulai merasa jenuh, sampai ketika dia SMA pembangkangan terbesarnya adalah bergaul dengan bebas setelah putus dari Nevan. Dan akhirnya memiliki bayi.
Tapi, setelah itupun, dia memutuskan kembali ke rumahnya. Dia Berusaha lebih keras, agar bisa mendapatkan pengakuan Abrar kembali.
Karena itu, tidak ada waktu untuk menghibur Daisy bagi Laura. Ada Banyak hal yang harus dia tingkatkan.
Sampai ketika dia akhirnya dia berhasil menjadi wakil Presiden perusahaan, Daisy malah pergi meninggalkan rumah.
Laura menangis mengingat masa lalunya. Semua yang dia lakukan untuk Daisy, semuanya terasa sia-sia ketika dia ingat, bahwa dia benar-benar tak memberikan Daisy kasih sayang layaknya seorang Ibu.
"Kenapa kalian selalu mencintai dengan cara yang salah. Kamu, yang mencintai Daisy tapi mengabaikannya, dan ibumu yang juga mencintai cucunya tapi dengan cara menunjukkan kebencian padanya." ucap Bagas menatap iba pada Laura.
Karena Bagas tau, Laura maupun Liza tidak pernah merasakan dicintai dengan benar, sehingga mereka selalu mencintai dengan cara berbeda. Dan lagi, cinta tidak pernah sama bagi semua orang.
...****************...
__ADS_1