
Dalam perjalanan, Ava meneleponnya.
"Maafkan aku, tadi malam aku terlalu sibuk mengurus semuanya. Sampai gak sempat ngabarin kamu." ucap Ava merasa bersalah.
"Kamu tau, apa yang aku alami tadi malam?" Daisy agak marah pada Ava.
"Daisy? Kamu kenapa?" Ava kaget mendengar Daisy marah. Karena Daisy tak pernah sekalipun marah pada Ava. Jika ada yang membuatnya sakit hati pada Ava, maka dia akan membicarakan baik-baik.
"Aku tau, kalian mempunyai kehidupan masing-masing. Tapi, Ava. Apa yang bisa kulakukan jika kalian melupakanku perlahan?" Daisy mulai menangis.
"Daisy, aku bukan melupakanmu. Aku hanya sedikit sibuk."
"sedikit katamu? Tadi malam adalah kesempatan pertama kita bertemu setelah beberapa tahun. Dan kamu terlalu sibuk untuk itu. Dan apa kamu tau, kejadian tadi malam benar-benar membuatku ketakutan. Aku Tidak pernah merasa setakut itu dalam hidupku."
"karena itu, seharusnya kamu tetap tinggal di sini. Kamu yang keluar dari rumah demi menantang dirimu sendiri. Apa kamu tau, banyak kejadian lebih menakutkan dari apa yang kamu alami tadi malam, jika kamu masih selamat sampai pagi ini." Ava mengucapkan karena dia juga sedang lelah dan tak tau harus berbuat apa untuk Daisy.
Daisy kaget mendengar ucapan Ava, selama ini Ava selalu membelanya. Berada di pihaknya tanpa memperdulikan apapun.
Hati Daisy terasa sakit, meski tak pernah merasakan patah hati, rasanya sakitnya membuatnya tak bisa berkata apa-apa.
Ava benar, Daisy lah yang memutuskan untuk meninggalkan rumah ibunya. Dialah Yang memutuskan untuk melihat dunia luar dan meninggalkan rumah yang tak pernah menganggap keberadaannya.
Tapi, Ava. Dari semua orang harusnya tak mengatakan hal itu pada Daisy.
"Baiklah, aku ngerti." Ucap Daisy datar lalu mematikan ponselnya.
"Semua orang bisa berubah, banyak hal yang harus mereka perhatikan selain dirimu. Kamu harus dewasa Daisy." Batinnya pada dirinya sendiri.
Kali ini, dia benar-benar merasa sendiri.
"Aku benci kalian semua." batin Daisy.
Dalam perjalanan, dia melihat keluar jendela. Melihat orang-orang yang sibuk dengan dunianya masing-masing.
Begitu tiba di asrama. Dia langsung mengepak pakaiannya. Batas untuk dia tinggal di asrama sudah habis. Kali ini, dia benar-benar harus tinggal di luar.
"Hai.... " Nivia membuka pintu dengan pelan.
Daisy tersenyum melihatnya.
"Apa kamu sudah menemukan tempat tinggal?"
__ADS_1
"Iya, sudah." jawabnya singkat.
"Di mana? Apa kamu gak mau tinggal serumah denganku? Apartemen itu gak jauh dari sini." Nivia pernah menawarkan Daisy untuk tinggal bersama.
"Dari awal aku sudah menolaknya. Apalagi setelah aku ketemu sama orang tuamu. Bukan aku menyinggung mama mu, tapi aku harap kamu mengerti. Aku Tak mau di anggap parasit oleh mamamu." Daisy tersenyum getir.
"Ahh, dan sampaikan kata maafku, buat Naza. Aku nggak bisa lagi berhubungan sama dia." sambung Daisy.
"Aku tau kamu menolak tinggal sama aku, karena Mamaku. Tapi Naza, kasian dia."
"Akan lebih kasihan, kalau dia dekat denganku. Karena aku tak mau dan tak ingin berhubungan dengan dia."
"Bukannya dia baik sama kamu? Begitu juga Om Daryn. Mereka beda sama mamaku. Dan juga, dia hampir tak pernah secepat itu dekat dengan orang lain. Bahkan Aku sepupunya pun, dia gak mau akrab sama aku."
"Aku hanya menghiburnya, karena semalam dia merindukan mama nya."
"Merindukan seseorang yang dia anggap Mamanya, tapi wanita itu bahkan tak menganggapnya."
"Apa maksud kamu?" Tanya Daisy.
"Mantan istri Om Daryn, sebenarnya bukan mamanya Naza, dan Om Daryn juga bukan ayah kandungnya. Karena itu, waktu aku lihat kamu akrab sama Naza aku merasa lega."
"Aku lihat, dia punya karakter yang sama dengan kamu. Dia gak mau akrab dengan orang-orang banyak. Seperti Kamu yang hanya akrab dengan Ava. Dan Kamu yang mendekati Naza lebih dulu. Jadi Dia merasa punya teman baru."
"Meskipun aku merasa gak enak sama dia, aku harap kamu mengerti."
"Apa kamu gak penasaran dia anak siapa?"
Daisy menggeleng. "Aku gak mau penasaran dan mencari tahu."
Meskipun Daisy tak tertarik, Nivia memilih menceritakannya. Karena Dia tahu Daisy akan mendengarkannya.
"Tante Alea, ninggalin Om Daryn karena dia tak ingin merawat Naza. Karena Naza adalah anak hasil pemerkosaan."
Mendengar itu, Daisy berhenti sejenak dan memandang ke arah Nivia.
"Kamu ingat, kenapa aku kaget mendengar Om Daryn menghajar Devan? Dulu, adiknya Om Daryn, tante Dara di perkosa oleh temannya di malam pernikahan Om Daryn. Karena itu, jika dia melihat wanita yang di lecehkan, dia akan sangat marah."
"Apaa?" Daisy kaget.
"Awalnya semua sepakat untuk menggugurkan bayi di kandungan tante Dara. Tapi, Om Daryn menentangnya."
__ADS_1
...----------------...
(kembali ke masa lalu)
"Apa kalian semua gila?" Daryn berteriak di antara keluarganya.
"Kamu lihat keadaan Dara, dia bukan dalam kondisi untuk mengandung dan melahirkan." ucap salah satu keluarga.
"Iya, apa kamu tau. Anak itu, kedepannya akan mengalami kesulitan. Bagaimana Kalau teman-temannya tahu kalau dia anak dari ha... " ucap keluarga yang lain.
"Cukupp... Bayi dalam kandungan Dara, adalah bagian dari Dara. Dan Kalian tau, itu adalah hal yang ilegal, dan itu sama dengan membunuh. Aku, aku yang akan merawat nayi itu. Sehingga orang lain tak bisa mengucapkan apapun tentangg hal itu." Daryn berteriak marah.
"Mas, aku rasa kita harus coba tanya Dara tentang hal ini." Alea menyentuh tangan Daryn dengan lembut menenangkannya.
"Kamu tau keadaan Dara, kita gak bisa menanyakan hal seperti itu." Daryn lalu memijat kepalanya.
Semenjak kejadian itu, Dara menjadi tidak waras.
Malam itu, Daryn dan Alea sedang mengadakan pesta pernikahan. Dan Dara karena tak ada yang memperhatikan di ajak oleh beberapa temannya untuk minum.
Karena keluarga Leroy, tak. Mengizinkan keluarganya untuk minum minuman keras.
Tak di sangka hal itu, malah berubah jadi mimpi buruk untuk Dara. Teman-temannya yang dia percaya malah melakukan hal keji di bawah pengaruh alkohol.
Selama kehamilannya Dara di rawat di rumah sakit. Setelah melahirkan, Dara semakin menggila setia mendengar tangisan bayi. Dia bahkan hampir membanting Naza, untungnya ada suster yang masuk melihatnya.
Tak lama setelah kejadian itu Dara mengakhiri hidupnya sendiri.
Daryn tak menyangka bahwa sebelum kehilangan ayahnya, dia harus kehilangan adiknya terlebih dulu.
Meskipun bagi keluarga lain, Naza adalah anak pembawa sial. Daryn tak pernah sekalipun berpikir seperti itu. Baginya Naza adalah anak dari adiknya. Dan Sekarang adalah anaknya.
Jika saat itu, dia tidak bisa menjaga adiknya, dia akan menjaga putrinya sepenuh jiwanya.
Meskipun tahun pertama dia sangat kesulitan, saat itu ayahnya meninggal dan dia harus menggantikan posisi ayahnya, di tambah dengan merawat anak. Tapi dia bisa melaluinya.
Setelah beberapa tahun, ketika usia Naza menginjak 3 tahun.
"Mas Daryn, aku mau kita pisah." ucapan Alea membuat Daryn terkejut.
...****************...
__ADS_1