Calon Ayah Tiri

Calon Ayah Tiri
Menghindar


__ADS_3

Ketika mereka sedang panas berc*uman , Daisy yang masih bergelut dengan pikirannya tiba-tiba mendorong tubuh Daryn dengan keras kemudian dia berdiri, menggelengkan kepalanya dan menangis.


"Nggak, ini salah. Saya bukan gadis seperti ini. Maafkan saya." Daisy lalu berlari ke kamarnya sambil menangis.


"Siall.... Siall.... " Ucap Daryn yang mengacak dan meremas rambutnya sendiri.


Sementara itu Daisy menangis di kamarnya.


"kamu tidak akan melakukan kesalahan yang sama seperti yang dilakukan orang tuamu. Kamu tidak akan berurusan dengan orang-orang seperti keluarga ibumu." bathin Daisy yang menangis kemudian mengelap air matanya.


"Itu semua hanyalah nafsu. Jika dia lelaki yang benar, harusnya dia tidak melakukan hal itu. Tapi, harusnya juga aku menolaknya. Itu juga salahku." Semalaman Daisy tak bisa tertidur.


Semalaman dia memikirkan, apa yang salah. Tuan Daryn adalah lelaki single, aku juga gadis single. Meskipun dia tau, apa yg dia dan Daryn lakukan adalah hal yang dilakukan setelah orang memiliki hubungan. Sementara itu, dia dan Daryn tak memiliki hubungan apapun, dia tahu diri, itu semua karena keadaan. Daryn yang sudah lama sendiri, dan Daisy yang baru pertama kali merasakan menyukai seseorang.


Daisy memutuskan untuk menyiapkan keperluan Daryn lebih pagi, agar dia tak perlu bertemu dengannya. Dia hanya akan meminta pelayan yang sudah biasa mengurusnya untuk menemaninya.


Dia memilihkan pakaian yang sudah dipilihkan Dewi, dan menyiapkan berkas yang di perlukan untuk rapat hari itu, sesuai petunjuk Liam. Tapi ketika dia masuk ke kamar, dia tak melihat Daryn. Jadi dia mempersiapkan pakaian Daryn. Kemudian menuju ruang kerja. Di sana dia melihat Daryn duduk di mejanya padahal masih pukul 4 pagi. Sebenarnya dia tak ingin masuk. Tapi, dia ingin menyelesaikan pekerjaan dengan cepat


"Permisi, Tuan." Daryn melihat Daisy, kemudian dia berjalan ke arah Daisy, tapi tanpa sadar Daisy melangkah mundur.


"Aku tau, kamu bukan wanita mu*ahan, Aku rasa sudah melakukan kesalahan besar tadi."


"Tidak apa, Tuan. Saya juga bersalah karena membalas Tuan. Saya harusnya tidak melakukan hal itu."


"Kenapa tidak? Apa kamu punya kekasih?"


Daisy heran mendengar pertanyaan Daryn.


"Maksudku, aku tau. Apa yang kita lakukan adalah salah. Apakah selain alasan itu kamu punya alasan lain?"


Daisy menggeleng, "Tidak Tuan, saya sudah berjanji pada diri saya, kalau semua hal yang pertama akan saya lakukan bersama suami saya. Saya tidak ingin memulai apapun dalam hubungan yang tidak pasti dan jelas. Almarhum ayah saya, menyuruh saya menikah dulu sebelum melakukan hal lainya dengan laki-laki."


"Aku akui, aku melakukannya karena memang .." Daisy memotong ucapan Daryn, tak ingin mendengar alasan apapun. Dan apapun alasannya yang mereka lakukan adalah sebuah kesalahan.

__ADS_1


"Permisi Tuan, saya perlu menyiapkan berkas Tuan." Daisy masuk ke ruang kerja melewati Daryn. Tak ingin melanjutkan pembicaraan dengan Daryn. Karena takut, jika ia akan mengungkapkan perasaannya pada Daryn.


"bagaimana, jika ada lelaki yang melamar mu? Apakah kamu akan menerimanya tanpa tahu perasaan masing-masing. Jika kamu sama sekali tak menyukaiku, kamu harusnya menamparku tadi."


"Karena itu, saya katakan. Saya juga bersalah. Saya tidak meminta Tuan untuk bertanggung jawab hanya karena sebuah ciuman." Ucap Daisy sambil merapikan berkas.


"Tatap aku jika aku sedang bicara." Daryn mendekati Daisy dan membalik tubuhnya.


Wajah Daisy sudah di penuhi air mata. Dia merasa kesal dengan dirinya sendiri. Tak bisa mengendalikan hatinya sendiri. Menyukai, seorang laki-laki kaya.


Laki-laki yang umurnya jauh darinya. Tapi, laki-laki itu juga sangat menyayangi keponakannya sepenuh hati. Pelukan hangat, yang diperlihatkan Daryn membuatnya merindukan kehangatan dan kasih sayang ayahnya.


Dia sangat ingat, pelukan hangat Daryn ketika berusaha menenangkannya hari itu. Karena itu, meski tak ingin, tapi dia selalu mendekat pada Daryn.


"Kenapa kamu menangis?" tanya Daryn terkejut.


Daisy tak bisa menjawab pertanyaan Daryn, dia tak ingin menjawabnya.


Ketika Daryn ingin menenangkannya dengan memeluknya, Daisy mendorong tubuh Daryn dan kembali ke kamarnya. Dia Tak ingin terjerat lagi lebih dalam dengan perasaannya.


Daryn memutuskan untuk membiarkan Daisy menangkan dirinya.


Setelah dua hari, Liam dan Dewi sudah kembali.


dan selama dua hari itu juga, Daisy menghindar dari Daryn. Tapi, beberapa setelah mereka pulang pun, Daish tak pernah terlihat satu lokasi dengan Daryn. Sarapan bersama pun, Daisy selalu mencari cara agar tak sarapan bersama Daryn.


Dewi yang melihat keadaan ini, langsung menemui Daryn.


"Apa yang sudah terjadi?" tanya Dewi yang masuk ke kamar Daryn melihatnya berganti pakaian.


"Aku tau, kamu adalah orang yang mengurus keperluan pakaianku, tapi bisa tidak kamu mengetuk pintu terlebih dahulu.?" ucap Daryn tak bertenaga.


Dewi memutar bola matanya, berjalan kembali ke pintu dan mengetuknya.

__ADS_1


"Puas? Sekarang aku mau tanya. Apa yg terjadi antara kamu dan Daisy.?" Dewi menatap Daryn dengan curiga.


Daryn pun, dengan cepat berpakaian agar bisa cepat pergi dan menghindari pertanyaan Dewi, meskipun dia tau. Sia-sia menghindar dari Dewi.


"Aku buru-buru. Suruh Liam siapkan mobil."


"Liam, tanpa ku beritahu. Dia tahu jadwal mu dengan sangat baik." Dewi menghadang langkah Daryn.


"Oke, aku salah. Aku mencium gadis itu."


"Apa?" Dewi agak berteriak.


Daryn menutup mulut Dewi dengan tangannya.


Dewi merasa kesal, dan menggigit tangan Daryn.


"Apa kamu gak tau, dia gadis macam apa? Hampir 4 bulan di sini. Dan kamu berani menciumnya? Bergandengan tangan saja dia gak pernah. Dan kamu malah menciumnya?" Dewi agak kesal.


"Dia itu, gadis dengan prinsip. Pertama kali dengan suami. Dan disini kamu mencuri ciuman pertamanya. Aku sudah bilang sama Liam, bisa gawat kalo ikutin alurmu."


"Kenapa? Kalian berdua ribut?" tanya Liam yang baru masuk.


"Tapi, dia juga membalas ciumanku. Dan kamu tau, sudah 3 tahun lebih semenjak terakhir kali darahku mendidih. Aku bisa apa?" ucap Daryn tak memperdulikan pertanyaan Liam.


Dewi menghela nafasnya, merasa tak tau harus melakukan apa untuk memperbaiki keadaan.


Karena dia tahu, Daryn bukan tipe laki-laki yang ahli terhadap perasaan wanita yang disukainya. Karena, dulu dengan Alea pun, Dewi harus ikut turun tangan demi hubungan mereka.


"sayang, ada apa?" tanya Liam yang masih penasaran dengan apa yang bicarakan oleh istri dan sahabatnya itu.


"Nanti, aku ceritakan semuanya sayang. Aku harus mengurus si pembuat onar ini."


Dewi menarik Daryn untuk duduk di tempat tidur. Liam pun mengikuti mereka.

__ADS_1


"Oke, sekarang aku tanya sama kamu. Apa kamu berniat menikahi Daisy?"


...****************...


__ADS_2