
Setelah Laura menangis,
"Apa aku bisa baca surat ini di kamarku saja.? " tanya Daisy.
Laura mengangguk, dan Daisy pun kembali ke kamarnya.
Daisy meletakkan surat itu, merasakan kalau dia masih belum siap mengetahui apapun isi surat itu.
Setelah dua hari meninggalnya Nyonya Liza, akhirnya Tio sadar dan membuka matanya.
Daisy adalah orang pertama di harap ada di sisinya.
Tapi, dia merasakan borgol di tangannya. Melihat Rika yang menangis sedang dipeluk Tito.
"Dai.... Sy." ucap Tio pelan.
Tito membaca bibir Tio. Tapi berpura-pura tak mengerti.
"Saya rasa, kondisi tubuhnya sudah stabil." ucap dokter yang menangani Tio.
"jadi, apa kami bisa membawanya hari ini juga?" tanya salah satu polisi.
"bisa, jika anda menginginkan hal itu. Tapi, saya menyarankan anda memeriksa dan membiarkan sampai keadaannya benar-benar sehat. " lanjut dokter itu, dan meninggalkan ruangan.
__ADS_1
"apa sebenarnya alasanmu melakukan ini semua. Sampai Kamu tega membunuh Adikmu sendiri." ucap Tito yang berjalan mendekat pada Tio, namun di tahan oleh polisi.
Tio tersenyum, kemudian menggeleng.
"apa kakak lupa, kita pernah membicarakan hal ini?" tanya Tio menatap Tito.
"kita lebih baik tanpa ibu, seorang wanita yang murahan." tanya Tio lagi menatap Tito.
Tito kemudian ingat, dimana Rika meninggalkan mereka tanpa makanan seharian, sementara dia sibuk pergi bermain bersama laki-laki.
Sejak saat itu, Tio sangat membenci Ibu Rika.
Dia sangat ingin memusnahkan ibu kandungnya sendiri karena merasa malu. Tapi, Tio juga sangat mencintai ibunya.
Penampilannya, gayanya sangat mirip dengan Ibu Rika. Dan wanita itu menggoda Tio, membuat Tio merasa j*j*k dan juga marah. Karena ada wanita lain yang membuatnya merasa muak seperti ibunya.
Entah apa yang mendorongnya, menerima godaan wanita itu.
Awalnya, ia hanya akan menguji, sampai mana wanita itu akan menuruti kemauan Tio. Hanya ada dirinya dan wanita itu di rumah saat malam.
Tio menawarkan teh pada wanita itu. Dan wanita itu dengan senang hati meminumnya. Wanita itu, mulai meronta mencekik lehernya sendiri.
"tttt.. Gggrrrhh." wanita itu mulai bicara tak jelas. Tio benar-benar membayangkan sedang m*mb*nuh ibunya sendiri. Dia tersenyum.
__ADS_1
"ya benar, harusnya begini sejak dulu." Bisik Tio tersenyum sambil memperhatikan wanita yang sekarat di depannya.
Semenjak hari itu, Tio merasakan kepuasan yang sangat mendalam.
Semenjak saat itu, setiap orang baru yang datang ke desa itu terutama jika itu seorang wanita, maka Tio akan mencoba menggoda mereka.
Wajah Tio dan kata-kata manis Tio tentulah membuat mereka percaya. Karena Orang-orang yang datang, adalah orang-orang yang sudah lelah dengan huru hara kota besar. Dan Tio juga tahu, kalau tidak akan ada orang yang mencari mereka.
"aku sama sekali tidak bisa mengerti Yo." ucap Tito.
"apa kamu tau, kalau adikmu itu, sangat mirip dengan wanita itu." Tio menunjuk Rika dengan tatapannya.
"aku pikir dia akan berhenti mencari laki-laki karena kehilangan putrinya. Tapi Dia masih saja sama." ucap Tio.
"aku merindukan Daisy." ucap Tio merasa lelah bicara.
Rika hanya bisa menangis melihat putranya. Dia tidak menyangka kalau putranya akan sangat membencinya.
"kak Tito, apa kamu lupa, bagaimana kita dua hari kelaparan waktu itu? Itu semua karena dia terlalu sibuk dengan hatinya sendiri, dengan sakitnya sendiri." Tio berteriak membenci Rika.
Selama ini, sakit hati karena di abaikan, ditelantarkan oleh Rika, ternyata meninggalkan luka yang cukup dalam bagi Tio.
"Daisy....!!!!! Aku butuh Daisy ku..!!! " Tii mulai memberontak, Tangannya bahkan sampai berd*rah, karena menarik tangannya dengan keras.
__ADS_1
...****************...