Calon Ayah Tiri

Calon Ayah Tiri
Memori yang Hilang


__ADS_3

"Daisy....!!!!! Aku butuh Daisy ku..!!! " Tio mulai memberontak, Tangannya bahkan sampai berd*rah, karena menarik tangannya dengan keras.


"lepaskaaan.. Lepaskaaan aku... " teriak Tio, sambil meronta, tangannya yang di borgol dan berdarah, dia tidak perduli. Terpaksa dokter memberikan obat penenang.


"permisi" seorang polisi masuk dan berbisik pada temannya yang ada di dekat Tio.


"apa? Dua puluh kamu bilang.? " teriak polisi itu terkejut.


"iya, dan banyak tumbuhan beracun di dalam rumah kacanya." lanjut polisi tadi.


"dan di duga, penyebab kematiannya karena racun." kedua polisi itu langsung berjalan keluar meninggalkan Tito dan juga ibu Rika yang sejak tadi berdiri si samping Tio.


"bagaimana ini To... Ini semua kesalahan Ibu. Ibu yang sudah membuat Tio seperti ini." Rika menangis dan memeluk Tito.


"Ibu yang pasrah. Sekarang Kita hanya bisa menerima semua ini. Semua bukti sepertinya sudah mereka kumpulkan. Dan aku yakin. Tio harus menanggung segala perbuatannya." Tito mengelus lengan Rika.


Mereka tidak bisa berbuat apa-apa lagi, selain menunggu semuanya berjalan sesuai dengan yang harusnya terjadi.


Setelah seminggu, akhirnya Daryn kembali mengunjungi Daisy dan Dean.


Tuan Abrar, ternyata juga sudah membaca suratnya dari Nyonya Liza. Dan sejak hari itu, dia tak mau keluar dari kamarnya.


"Yah, berhenti mengunci diri. Lihat, disini ada Dean menunggu ayah."


"uyuttt... Ini Dean." ucap Dean pelan.


Semua orang sudah lelah membujuk Tuan Abrar.


Daisy yang sudah tidak menggunakan kursi roda mengajak Dean berjalan-jalan.

__ADS_1


Entah kenapa dia merasa ada yang mengikutinya, Daisy kembali merasa takut.


"Harusnya aku diam di dalam rumah saja." batin Daisy yang langsung mengajak Dean untuk masuk dalam rumah.


Ketika tiba di depan rumah, Daisy sangat senang melihat kedatangan Daryn, dan berlari kecil bersama Dean menuju Daryn.


"papa... Itu papa datang..." ucap Daisy mengajak Dean berlari kecil sambil tertawa.


Daryn langsung berjongkok dan menyambut Dean dengan tangan terbuka.


"anak Papa... " Daryn langsung mencium putranya dengan gemas.


"Naza mana?" tanya Daisy.


"dia harus sekolah. Kalau sudah selesai urusan di sini, lebih baik kamu dan Dean ikut bersamaku." ucap Daryn dan dibalas anggukan oleh Daisy.


Daisy mengajak Daryn masuk.


"masih di kamarnya, setelah membaca surat dari Nyonya Liza, dia terus diam dalam kamar." ucap Daisy sedih.


"sebenarnya, saya juga dapat. Tapi saya belum berani membukanya." ucap Daisy.


"Bagaimana, kalau sekarang kita baca sama-sama?" ucap Daryn memeluk melingkarkan tangan kanannya, di pinggang Daisy. Karena tangan satunya sedang menggendong Dean.


Akhirnya mereka tiba dikamar, dan membuka surat itu bersama.


"Daisy.... Aku tidak tau harus memulai darimana. Cucuku tercinta.


Ketika pertama kali kamu datang, jujur. Hatiku senang tidak karuan. Tapi membayangkan kamu kehilangan kebebasan dan masa depanmu membuat aku cemas.

__ADS_1


kamu terlihat sangat manis ketika tertidur. Aku selalu diam-diam masuk, dan menatapmu.


Maaf, Karena tidak bisa lebih baik mencintaimu. Maaf, membuatmu merasa kehilangan keluargamu sendiri.


Hidup sebagai aib dalam sebuah keluarga, adalah hal yang menyakitkan, tapi aku malah membuatmu merasakan hal sama seperti yang aku rasakan. Karena itu, aku sangat senang melihat kamu pergi mencari kehidupanmu sendiri. Tapi, aku tidak menyadari luka di hatimu karena aku.


Maaf, karena tidak bisa mencintaimu dengan benar.


Semoga , kamu dan mamamu bisa hidup bahagia."


Daisy menangis, tiba-tiba dia teringat ketika dia baru setengah tertidur, Liza masuk ke dalam kamarnya. Karena ketakutan, dia tak membuka matanya.


Liza ternyata mengelus wajah dan rambutnya, kemudian memperbaiki selimutnya. Dia ingat, beberapa kali hanya melihat punggung Liza yang keluar dari kamarnya.


Bagaimana bisa dia melupakan hal itu? C


Dia menangis memeluk Daryn. Dia sekarang tau, kenapa Liza bisa mengorbankan nyawa untuknya. Karena Liza memang mencintainya.


Daryn hanya membiarkan Daisy menangis di pelukannya.


"Kadang, apa yamg terlihat, bukanlah hal yang sesungguhnya." ucap Daryn. Mengelus kepala Daisy.


"Meskipun begitu, dia benar-benar mencintaimu." ucap Daryn lagi.


"karena itu, aku belum sempat membalas rasa cintanya, bahkan selama ini aku selalu membencinya." ucap Daisy menangis dengan isak.


"aku yakin, Nyonya Liza akan mengerti." ucap Daryn berusaha menenangkan Daisy.


"Maaf, Daisy ada polisi mencari kamu." ucap Inah yang mengetuk pintu kamarnya.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2