Calon Ayah Tiri

Calon Ayah Tiri
Takkan Kulepas


__ADS_3

"Tuan, kami sudah menemukan titik lokasi Daisy, dan tidak Berpindah lokasi lagi. "ucap Tito membuat semua orang yang mendengar hal itu memiliki secercah harapan.


" Aku akan pergi menjemput Daisy." ucap Daryn berusaha bangun dari tempat tidurnya.


"Maaf Tuan, saya harus menyampaikan berita buruknya. Itu adalah kompleks apartemen, dan kita tidak tau pasti di mana letak apartemennya." ucap Tito.


"Kita bisa mengecek apartemen itu satu persatu." ucap Daryn tegas.


"Ada kurang lebih 1000 unit apartemen dilingkungan itu Tuan. Dan bagaimana kalau Tio menyadari bahwa kita mengikutinya dan menemukan lokasi itu." ucap Tito.


Daryn benar-benar merasa tak berdaya. Laki-laki yang selama ini selalu memiliki kekuasaan semuanya tidak ada arti ketika dihadapkan dengan cinta, dan juga orang gila seperti Tio.


"Kalau begitu, cepat periksa kepemilikan apartemen itu satu persatu. Tidak mungkin dia menyewa atau membeli apartemen dengan menggunakan nama orang yang tidak dia kenal." Mendengar perintah Daryn, Tito dengan cepat berkoordinasi menanyakan dan mencari data tentang info pemilik apartemen.


"Maaf Tuan, mereka akan memerlukan waktu untuk mengumpulkan data itu semua. Ditambah lagi, sebagian apartemen-apartemen itu masih banyak yang belum di tempati. Jadi bisa saja, dia tinggal di salah satu tempat itu." Mendengar itu, Daryn menarik rambutnya kesal.


"Paa... Panggil Naza pelan." lalu menggenggam tangan Daryn yang sudah penuh dengan keringat dingin. Dia, benar-benar tidak berguna.


Tapi, tangisan Dean, membuat semua orang di dalam ruangan itu langsung kalang kabut. Tito dengan cepat menggendong Dean. Karena Dean berteriak memanggil-manggil mama.


Dean masih tidak terbiasa dengan wajah orang-orang yang sedang menjaganya, kecuali wajah Naza dan Daryn.


Untung saja, Daisy selalu memperlihatkan foto Daryn dan Naza setiap mereka muncul di majalah.


Naza sekarang, sudah bisa berhadapan dengan media. Karena dia juga cukup terkenal di sekolahnya karena kecerdasannya.

__ADS_1


"Mama.. Maaamaaa.. " Teriak Dean tak berhenti. Daryn sangat ingin menggendong putranya, tapi tubuhnya belum begitu kuat, apalagi menggendong Dean yang meronta-ronta.


"Sama kakak yah. Dean?" bujuk Naza. Dean masih mau digendong Naza tapi masih tetap menangis.


"Sekarang sudah hampir pagi, mungkin dia lapar." ucap Tito.


Naza mengajak Dean bicara, syukurnya lagi, Dean sudah bisa di ajak komunikasi. Setelah di tanya apakah dia lapar, dia mengangguk. Dengan cepat di sediakan makanan.


Sementara itu, Daisy yang baru saja bangun karena minuman yang diberikan Tio semalam.


Kepalanya rasanya sangat oening dan berdenyut keras. Daisy melihat sekitarnya, dia berada di tempat yang asing. Ketika melihat kakinya dia menatap horor.


"Rantai? Tio?" batin Daisy baru ingat kejadian semalam. Ingin rasanya dia berteriak.


Daisy melangkah ke arah jendela. Dia melihat tempat yang baru pertama kali dia lihat. Suara rantai membuat Tio sadar kalau Daisy sudah bangun.


"emmm... " jawab Daisy berusaha senormal mungkin.


"Tapi, kenapa dengan kakiku?" tanya Daisy berbalik menatap Tio berusaha melepas pelukan Tio dari tubuhnya.


"Supaya kamu gak lepas, dan aku gak akan lepasin kamu dari hidupku. Terimakasih karena sudah datang dalam hidupku." Tio memeluk Daisy dengan erat.


"ahh.. Aku mau mandi dulu. Aku rasanya keringatan." ucap Daisy tak ingin lebih lama dipeluk Tio.


"Ya sudah. Bajumu ada di lemari. Dan handuk di dekat kamar mandi." ucap Tio menunjuk arah kamar mandi.

__ADS_1


"Tio, apa bisa rantai ini di lepas. Aku gak nyaman." pinta Daisy memelas.


"Gak, kamu bisa keliling di rumah ini tanpa melepas rantainya."


"Tapi, bagaimana dengan pintunya gak bisa ketutup rapat." Daisy berusaha membuat alasan. Karena dia benar-benar tak merasa nyaman. Dan pergelangan kakinya terasa sakit.


"Kamu masuk saja. Kita Akan segera menikah. Apa yang kamu takutkan?" Tio menarik Daisy sampai ke depan kamar mandi.


"Mandilah." ucap Tio pergi ke dapur lanjut memasak untuk dirinya dan juga Daisy.


Dengan cepat Daisy terpaksa mandi. Tio tidak memberi akses untuk Daisy ke dapur, karena di sana ada pisau dan benda tajam lainnya.


Setelah mandi dan berganti baju, Daisy kembali ke kamar dengan cepat. Dia ingin mengunci pintu kamar, tapi tidak bisa. Kuncinya sudah di rusak Tio.


"kapan, dia menyiapkan ini semua? Apa dia benar-benar sudah kehilangan akal sehatnya?" batin Daisy, yang lalu mencari sesuatu untuk kabur atau bisa. Menemukan sesuatu untuk melumpuhkan Tio.


Daisy merasa sangat putus asa. Dia tidak menemukan apapun untuk membebaskan dirinya.


Dia melihat ke arah kakinya. Rantai panjang yang kuat.


"apa aku akan benar-benar tega menyakiti Tio dengan ini?Bagaimana kalau aku gak ketemu kuncinya dan dia semakin marah? Dan yang paling penting, aku ingin tau kabar Dada. Apa dia baik-baik saja?" batin Daisy.


Daisy mengumpulkan rantai yang panjang itu, dan duduk di dekat tempat tidur.


"Makan dulu" ucap Tio yang langsung masuk kamar membuat Daisy terkejut dan melepaskan rantai itu. Dia tak memiliki keberanian menyakiti orang yang selama tiga tahun ini menemani dirinya.

__ADS_1


"I.. Iya... " jawab Daisy pelan, mengikuti Tio dari belakang dan mengaitkan rantai di leher Tio.


...****************...


__ADS_2