Calon Ayah Tiri

Calon Ayah Tiri
Aku akan menemanimu, keponakanku!


__ADS_3

Setelah 3 hari, Tio akhirnya menegur Daisy.


"aku, akan menemanimu." ucap Tio yang melihat Daisy bermain dengan Dean.


Dean langsung duduk dipangkuan Daisy dan memeluk Daisy dengan erat.


"kamu yakin?" tanya Daisy menatap Tio.


Tio menjawabnya dengan mengangguk.


"Tunggu sebentar, biar aku menidurkan Dean dulu. Kamu tunggu di rumahmu saja. Nanti aku akan ke sana." Daisy bangun dan menggendong Dean masuk kedalam rumahnya.


"kamu kenapa sih, setiap Tio marah, kamu gak.mau deketin Tio? Mungkin dia bisa merasakan amarah Tio padaku, makanya dia takut dengan Tio, setiap Tio marah padaku" Batin Daisy sambil menidurkan Dean.


"mama, bobo." ucap Dean mengajak Daisy tidur disampingnya.


Dean agak lama bisa ditidurkan, setelah Dean terlihat nyenyak. Daisy lalu ke rumah Tio.


Dan lagi-lagi dia mendengar Tio dan Ibunya bertengkar.


"Lebih baik aku pulang saja." batin Daisy.


"Apa kamu gak bisa berhenti? Setiap kamu marah padaku?Kenapa bukan aku yang kamu bunuh? Hah?" Ibu Rika berteriak dan menangis.


"itu hanya ayam-ayam. Kenapa kamu sampai menangis seperti itu." ucap Tio datar.


"Aku akan pergi bersama Daisy selama seminggu. Beli ayam lagi dan isi kandang-kandang." ucap Tio dan melemparkan uang pada Rika yang sedang duduk dan menangis.


Daisy melihat semuanya dari celah pintu, dengan cepat Daisy mundur dan berbalik ke depan pintu rumahnya.


"3 tahun aku mengenal Tio, apa dia benar-benar Tio?" Daisy menggeleng tak percaya. Cara bicara, dan gayanya seperti orang asing.


"Kamu dari tadi di situ?" tanya Tio kembali ramah, menyadarkan Daisy dari pikirannya sendiri.


Daisy mengangguk. "Aku dengar kalian lagi ribut, jadi aku disini aja dulu." bisik Daisy pada Tio pura-pura tak melihat adegan tadi.


"emmm... Apa kamu yakin? Kamu beneran mau ikut? " tanya Daisy lagi.


"Tapi, ada yang harus kamu tau, sebelum kita ke sana." Daisy lalu menghadap Tio, melihat Tio yang dihadapannya sangat berbeda yang dia lihat dari celah pintu.

__ADS_1


"apa?" tanya Tio, karena Daisy tidak kunjung bicara.


"Sebenarnya, Laura itu ... " Daisy menghela nafas panjang.


"Dia mamaku." mata Tio lalu melotot ke arah Daisy. Lalu dia mulai tertawa..


"Hahahahahahhaa..Leluconmu tidak lucu sama sekali." ucap Tio berhenti tertawa dan melihat ke arah Daisy yang tidak tertawa sama sekali.


"Kamu serius?" tanya Tio.


Daisy mengangguk dengan lantang.


Tapi, bagi Tio. Jika hal itu sungguhan atau tidak. Kedua hal tersebut adalah lelucon baginya.


"Oke, ini agak mengejutkan. Tapi tak apa. Aku yakin, kamu pasti sangat tidak ingin suami.. Maksudku, mantan suamimu menikahi mamamu. Lantas nanti Dean akan kebingungan memanggil Papanya atau nanti kakeknya." ucap Tio sambil tersenyum menahan tawanya.


"Kamu sama sekali gak kaget? Atau menanyakan sesuatu?" tanya Daisy agak terkejut melihat reaksi Tio.


"Atau mungkin kamu sudah tau, ketika kamu mencari informasi tentang keluarga Tuan Abrar? Sebenarnya Kamu siapa sih?" batin Daisy.


"untuk apa aku kaget. Kamu Pernah cerita kamu hidup sebagai pelayan di rumah itu. Meskipun gak nyangka ternyata hubunganmu dengan keluarga itu lebih dekat dari dugaanku. Kapan kita akan berangkat?" tanya Tio lagi.


"Dua hari lagi, mungkin kita akan di sana selama 1 minggu atau lebih." ucap Daisy.


Tio benar-benar tidak menyangka kalau dia akan menyukai seorang gadis yang ternyata adalah keponakannya sendiri.


Di rumah kacanya dia tersenyum melihat semua gambar-gambar yang dia tempel. Tapi dia menemukan jejak orang lain di ruangan itu.


"Daisy, keponakanku tersayang. Sepertinya kamu melakukan sesuatu yang aku benci."ucap Tio tersenyum licik.


Sebenarnya Tio, adalah anak hasil perselingkuhan Tuan Abrar dan Ibu Rika.


Ketika dia hamil, Rika langsung kabur dan bersembunyi, Meskipun Tuan Abrar mengetahui kalau Rika tengah mengandung, dia tidak mau membahayakan Rika dan anaknya dengan berada di sisinya.


Meskipun mencintai Rika, bagi Tuan Abrar, harta dan tahta miliknya lebih berharga.


Nyonya Liza mencari Rika dan anaknya ke mana-mana. Hal itulah yang membuat Rika tidak pernah menunjukkan wajahnya didepan Nyonya Liza.


Dan meskipun menyukai laki-laki. Rika tetap mencintai anak-anaknya.

__ADS_1


Rika yang membuat Tio tidak terkontrol. Tio, sangat membenci fakta bahwa dia adalah anak hasil hubungan gelap. Ketika di sekolah dan masih Sekolah Dasar bahkan sampai SMP pun, Tio bahkan dihina dan di bully dan tidak memiliki satu teman pun.


Yang melakukan perbuatan kotor adalah ibu dan ayahnya. Kenapa dia yang harus menanggung semua perbuatan mereka. Dan terhina.


"Aku sangat penasaran, bagaimana reaksi Tuan Abrar bertemu cicit laki-lakinya. Karena Aku dengar dia sangat menginginkan keturunan laki-laki. Dan bagaimana kalau dia bertemu dengan anak laki-lakinya?" Tio tersenyum.


"Apakah dia akan senang? Apalagi mengetahui putranya akan menjadi cucu menantunya. Karena aku tidak akan menyerahkan Daisy atau Dean pada Si Daryn itu. Aku sudah menjaga dan menyayangi mereka, karena mereka adalah milikku." Tio membuka laci dan mengambil sebuah album yang penuh dengan gambar Daisy dan Dean.


"Mereka berdua adalah milikku, dan tidak akan aku biarkan mereka di ambil."


Tak terasa, hari keberangkatan Daisy ke rumah mamanya sebentar lagi.


"Semoga kita bisa kembali ke sini lagi." ucap Daisy pelan.


"Aku akan pastikan kita kembali ke sini." ucap Tio, merangkul Daisy. Dan memeluk Dean.


"Kamu ingat, kamu harus mengingatkan aku. Bahwa aku ke sana. Bukan ingin kembali. Tapi Ingin memperjelas hubunganku dengan Tuan Daryn. Dan mama, gak boleh bertunangan dengan menantunya. Maksudku, mantan menantunya. Hal itu, sepertinya terlalu menggelikan." ucap Daisy tertawa.


"Kamu benar, dan itu akan jadi situasi yang sangat lucu."ucap Tio tertawa.


Daisy hanya terheran melihat Tio.


Dia segera menepis pikiran aneh itu dan fokus dengan persiapan keberangkatan mereka.


Setelah perjalanan jauh, pagi-pagi akhirnya mereka tiba di gerbang kediaman Tuan Abrar.


Daisy menghela gugup. Hampir 11 tahun dia pergi dari rumah itu. Tak ada yang benar-benar mencarinya. Daisy tertawa tak percaya dia bisa kembali ke rumah itu dengan alasan karena mamanya ingin menikah dengan laki-laki yang dicintai.


Siapa yang mengira, kalo pernikahan rahasianya dengan Daryn membawa dia kembali ke rumah yang tak pernah menganggap dirinya keluarga.


"Daisy?" Seorang wanita yang sudah bertambah tua itu memanggil Daisy tak percaya. Wanita itu, turun dari mobil.


"Bik Imah." Daisy langsung memeluk Imah yang baru saja pulang berbelanja.


"Ya ampuun, ini anak dan suami kamu?" Imah melihat Dean yang digendong Tio.


"Ini anak ku Dean dan Tio emm.." Daisy tak tau harus memperkenalkan Tio sebagai siapa. Menyebutnya teman, mereka terlalu akrab untuk menyebutnya, menyebutnya kekasih, sementara mereka tak memiliki hubungan sama sekali.


"Ayo masuk, Nyonya Laura pasti senang kamu pulang. Dia selalu nanyain Ava kalo ada kabar tentang kamu."

__ADS_1


Mereka pun masuk bersama. Sampai saat Tuan Abrar keluar dengan pandangan datarnya. Yang berubah ketika dia melihat Dean.


"Siapa anak laki-laki ini?" Tanyanya tersenyum.


__ADS_2